Breaking News:

Menilik Dampak Rencana Jepang Memberlakukan RSPO ke Produk Sawit

Industri kelapa sawit di Indonesia nampaknya kembali menghadapi hambatan baru. Setelah menghadapi hambatan pemasaran di Eropa

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
AFP
Sawit 

Sehingga, ULTJ belum menemukan urgensi untuk mengerek harga jual dalam waktu dekat. "Kami masih optimistis pendapatan tumbuh lebih dari 10% dibanding tahun lalu sekitar Rp 5 triliun," kata Azwar Thahier, Public Relation ULTJ.

Langkah serupa juga bakal diambil oleh PT Siantar Top Tbk (STTP). Perusahaan ini memang menggunakan gula sebagai bahan baku. Tapi, penggunaan tepung sebagai bahan baku jauh lebih besar.

Jika skenario terburuk terjadi, perusahaan harus menaikkan harga jual, STTP bakal memainkan volume. Misalnya, harga makanan produknya Rp 500 dengan isi 10 gram. Jika harganya terpaksa naik menjadi Rp 1.000, STTP bakal menambah volume atau isi produk tersebut.

Ini untuk menjaga minat beli konsumen meski harganya naik. Tahun ini STTP optimistis pendapatannya bisa tumbuh 10%-20%.

STTP melihat saat ini bisnis masih sesuai target. "Kami juga selalu improve produk. Kami juga memperhatikan timing, tahun ini rencananya ada 10 hingga 20 produk baru yang akan diluncurkan," kata Armin, Direktur STTP.

Seperti diketahui, Presiden Joko Widodo berjanji bakal menaikkan harga gula. Rencana ini muncul setelah ada pertemuan antara dirinya dengan para petani tebu yang berasal dari Pulau Jawa, Sumatra dan Sulawesi.

Menurut para petani, harga gula saat ini, Rp 9.700 per kg, terlalu rendah. Meski demikian, Jokowi belum bisa memastikan sejauh mana harga gula bisa dinaikkan. (Auriga Agustina/Rezha Hadyan)

 

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved