Kasus Mafia Bola: Begini Status Sismantoro dan Seto

Satgas Antimafia Bola memeriksa Manajer PSS Sleman Sismantoro dan Pelatih PSS Sleman Seto Nurdiantoro di Direktorat Tindak Pidana Korupsi

Kasus Mafia Bola: Begini Status Sismantoro dan Seto
kompas.com
Manajer PSS Sleman, Sismantoro, saat ditemui awak media di tengah perayaan kesuksesan tim Elang Jawa merebut satu tiket promosi ke Liga 1 musim depan di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Rabu (28/11/2018). 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Satgas Antimafia Bola memeriksa Manajer PSS Sleman Sismantoro dan Pelatih PSS Sleman Seto Nurdiantoro di Direktorat Tindak Pidana Korupsi (Dittipikor) Bareskrim Polri, Jakarta, Rabu (13/2). Pemeriksaan dilakukan sebagai pendalaman dugaan pengaturan skor dalam pertandingan Liga 2 antara PSS Sleman dan Madura FC.

Satgas Antimafia Bola tidak hanya memeriksa Sismantoro dan Seto Nurdiantoro. Satgas Antimafia Bola juga memeriksa Hidayat, mantan Exco PSSI. Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Pol Syahar Diantono mengatakan mereka ditanyai seputar dugaan suap dalam pengaturan skor.

Selain itu, penyidik akan meminta keterangan dari ahli pidana. Keterangan tersebut akan melengkapi alat bukti perkara dan menentukan tersangka dalam perkara ini.

"Terkait dengan suap. Sekarang sedang dilakukan pemeriksaan sebagai saksi di Bareskrim. Kalau memang sudah cukup alat bukti, dilakukan pemberkasan untuk dikirim ke jaksa penuntut umum," kata Syahar, Rabu (13/2) malam.

Dalami Keterangan Tiga Tersangka

Selain mendalami dugaan pengaturan skor pertandingan Liga 2 antara PSS Sleman dan Madura FC, Satgas Antimafia Bola juga sedang mendalami kebenaran keterangan tiga tersangka perusak barang bukti perkaraa dugaan pengaturan skor di kantor Komisi Disiplin PSSI. Syahar mengatakan pendalaman ini dilakukan karena keterangan para tersangka belum tentu benar.

"Kami sedang mendalami kebenaran daripada pengakuan. Para tersangka ini kan baru sekadar pengakuan," ujar Syahar.

Untuk membuktikan kebenaran dari keterangan para tersangka, penyidik harus mengumpulkan alat bukti lainnya. Oleh karena itu, selama proses ini berlangsung, Syahar meminta agar awak media bersabar menunggu proses dari jajarannya.

"Tentunya harus didukung alat bukti yang lain. Nanti ada saatnya kami sampaikan hasil pendalaman penyidikan pemeriksaan," kata dia.

Tiga tersangka dalam perkara perusakan barang bukti ini antara lain Musmuliadi, Dani dan Abdul Gofur.  Mereka mengaku mengambil sejumlah dokumen, video rekaman CCTV, ponsel dan laptop di kantor Komdis PSSI, karena disuruh seseorang. Musmuliadi dan Dani mengambil inventaris kantor dan menyerahkan ke Abdul Gofur untuk disembunyikan.

Terobosan Baru PSSI

Komite Ad Hoc Integritas PSSI, yang bekerja untuk menyikapi segala bentuk persoalan match fixing di persepakbolaan Indonesia akan membuat satu terobosan baru. Terobosan tersebut berbentuk aplikasi pengaduan untuk membantu masyarakat melaporkan kecurangan sebuah pertandingan.

Kita ingin masyarakat juga mendukung langkah tim ini untuk memperbaiki sepak bola lewat masukan-masukan. Nanti ada aplikasinya, kita nanti akan umumkan aplikasinya,” kata Ketua Komtie Ad Hoc Integritas Ahmad Riyadh di Kantor PSSI, Jakarta, Rabu (13/2).

Selain membuat aplikasi, Komite Ad Hoc juga akan berkomunikasi dengan wasit, klub dan pemangku kepentingan PSSI lainnya untuk mengetahui keterangan terkait pengaturan skor untuk pembenahan ke depan. Lewat komunikasi ini Komite Ad Hoc Integritas PSSI, wasit, klub dan stakeholder bisa sepaham untuk memajukan persepakbolaan Indonesia. (Tribunnews/dit/jid)

Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved