Imigran Afghanistan Bakar Diri, Ini Tanggapan Kepala Rudenim Manado

Terkait aksi bakar diri imigran Afghanistan, Sajjad, ditanggapi Kepala Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Manado Arther Mawikere.

Imigran Afghanistan Bakar Diri, Ini Tanggapan Kepala Rudenim Manado
TRIBUNMANADO/NIELTON DURADO
Rudenim Manado 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Terkait aksi bakar diri imigran Afghanistan, Sajjad, ditanggapi Kepala Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Manado Arther Mawikere.

Mawikere mengatakan status mereka final reject atau ditolak sebagai pengungsi.

“Yang jelas status mereka final reject, dan sejak tanggal 01 Februari 2019 berada dalam pengawasan Imigrasi sesuai surat UNHCR tanggal 31 Januari 2019,” ujarnya.

“Termasuk Internasional Organizations for Migrations yang telah memutus pemberian fasilitas mereka, oleh karena ulah dan perbuatan mereka yang menolak beberapa kali pihak UNHCR untuk menemui mereka, sehingga status mereka adalah Immigratoir sesuai UU nomor tahun 2011 tentang kemigrasian,” ujar Mawikere lagi.

Baca: Warga Afghanistan di Rudenim Manado Ini Bakar Diri, Ini Penyebabnya

Seperti diberitakan tribunmanado.co.id, ketika ditemui di salah satu ruangan yang berada di RSUP Kandou Mando, Sajjad (24), warga Afghanistan yang memberanikan diri untuk membakar dirinya sendiri di gedung rumah detensi imigrasi (Rudenim) Manado, Rabu (06/02/2019) lalu, menceritakan, nasibnya selama tinggal di Rudenim.

Selama ini PBB terlebih khusus UNHCR telah menginjak hak kami, sebab selama 20 tahun ini mereka tidak pernah lanjuti janji mereka, saya ingin bertanya kepada mereka, kenapa? Ada apa?" sesalnya.

Ditambahkannya, saat dia melakukan aksi bakar diri, ternyata bukan hanya dia yang terbakar. Pamannya juga ikut terbakar.

Baca: Ini Curahan Hati Sajjad, Warga Afghanistan yang Melakukan Aksi Bakar Diri

Baca: Kelaparan, Ibu di Afghanistan Jual Anaknya yang Berumur 6 Tahun

 

"Paman saya Muhammad Rahim (60), berdiri di samping saya, saat saya memasang korek api, saya langsung tebakar. Dan ternyata paman saya juga ikut terbakar," tambahnya.

Gejolak Warga Negara Asing (WNA) di Rudenim Manado melalui aksi demonstrasi dan mogok makan, terjadi beberapa tahun belakangan ini, tujuan mereka hanya untuk mendapatkan status refugee.

"Dengan diperolehnya status tersebut, kami memiliki hak untuk dikirim ke Community House yang berada di Makassar atau Jakarta, sebelum dideportasi ke negara tujuan. Dan tidak merasa terpenjara di Rudenim Manado ini," bebernya.

Halaman
123
Penulis: Jufry Mantak
Editor: David_Kusuma
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved