Olimpiade Berubah Menjadi Mimpi Buruk bagi Tim Curling Korea Selatan

Tim curling putri Korea Selatan menjadi pahlawan di Olimpiade Pyeongchang 2018, namun raihan perak di turnamen tersebut ternyata diselimuti oleh mimpi

Olimpiade Berubah Menjadi Mimpi Buruk bagi Tim Curling Korea Selatan
worldcurling.org
Atlet curling Korea Selatan. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Tim curling putri Korea Selatan menjadi pahlawan di Olimpiade Pyeongchang 2018, namun raihan perak di turnamen tersebut ternyata diselimuti oleh mimpi buruk yang kelam.

Kepahlawanan tim yang dikenal sebagai "Garlic Girls" di Olimpiade Pyeongchang 2018 terbukti dengan kemampuan mereka mengalahkan tim-tim curling unggulan asal Kanada dan Swiss di babak awal dan meraih medali perak di ajang tersebut.

Dikutip dari Channel News Asia, Dalam surat tersebut, mereka menyatakan bahwa mereka dalam situasi yang putus asa dan menyedihkan. Mereka berada pada titik dimana mereka merasa sudah tak tahan lagi.

Baca: 7 Pemain yang Barcelona Siapkan untuk Hadapi Masa Depan Tanpa Lionel Messi

Baca: Perjalanan Karier Emiliano Sala yang Harus Terhenti secara Dini

Tim curling putri tersebut telah melayangkan surat kepada Komite Olahraga dan Olimpiade Korea (KSOC) pada November 2018 lalu tentang pelecehan dan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang dilakukan oleh pelatih-pelatih mereka.

Tim curling putri Korea mengatakan bahwa para pelatih telah melecehkan mereka secara verbal berkali-kali dan melarang mereka untuk bertegur sapa dengan atlet lain.

Pelatih mereka juga dikatakan tidak memberikan informasi yang terbuka terkait donasi dan hadiah uang yang telah diterima.

Tidak hanya disitu, pelatih mereka juga dianggap terlalu berlebihan karena mereka dilarang menggunakan akun media sosial dan menerima surat dari para penggemar.

Perlakuan tidak adil juga dirasakan oleh mereka setelah peran kapten mereka, Kim Jung-eun yang menikah pada Juli 2018, dibatasi. Mereka merasa semakin diberi jarak dengan Kim dan tidak banyak diikutkan dalam turnamen hingga akhirnya peringkat tim mereka anjlok dari ke-7 ke-111 dunia.

Munculnya surat tersebut dan banyak kecaman dari dunia pun menyebabkan para pelatih akhirnya mengundurkan diri pada Desember 2018, tanpa mengakui tuduhan yang disebutkan.

Pelecehan secara fisik dan verbal sendiri dikenal marak pada cabang-cabang olahraga yang kurang dikenal oleh masyarakat.

Halaman
12
Editor:
Sumber: BolaSport.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved