KPK Periksa Ketua Umum KONI

Setelah Menpora Imam Nahrawi, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa Ketua Umum Komite

KPK Periksa Ketua Umum KONI
Tribunnews.com
Ketua Koni Pusat Toni Suratman 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Setelah Menpora Imam Nahrawi, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat Mayjen TNI (Purn) Tono Suratman di kantor KPK, Jakarta, Senin kemarin.

Tono itu diperiksa sebagai saksi untuk penyidikan kasus dugaan suap penyaluran dana bantuan atau hibah dari pemerintah melalui Kemenpora ke KONI, dengan tersangka Ending Fuad Hamidy selaku Sekretaris Jenderal KONI.

Tono diperiksa oleh penyidik KPK sekitar 6 jam sejak pukul 09.00 WIB. Namun, dia memilih diam saat ditanya oleh wartawan seusai pemeriksaan. Ia hanya mengacungkan jempol kanan sebelum memasuki mobil SUV warna hitam.

Sementara itu, juru bicara KPK Febri Diansyah menyampaikan, pemeriksaan terhadap Ketua Umum KONI Pusat Tono Suratman berkaitan dengan mekanisme pengajuan dana hibah dari KONI ke Kemenpora serta penggunaan dana hibah tersebut di KONI.

"Penyidik mendalami keterangan saksi mengenai mekanisme pengajuan proposal dan kewenangan penggunaan dana bantuan dari pemerintah melalui Kemenpora kepada KONI," kata Febri.

Menurut Febri, saat ini KPK mencermati empat jenis bantuan yang diterima KONI dari pemerintah. Keempatnya adalah bantuan pengawasan dan pendampingan (wasping) tahap I sebesar Rp 30 miliar, bantuan wasping tahap II sebesar Rp 17,9 miliar, bantuan kelembagaan KONI sebesar Rp 16 miliar, dan bantuan operasional KONI sebesar Rp 4 miliar.

"Sehingga diduga total dana Kemenpora yang mengalir sebagai bantuan ke KONI di tahun 2018 adalah sejumlah Rp 67,9 miliar," ujar Febri.

Kasus dugaan suap antara pihak Kemenpora dan KONI ini berawal dari operasi tangkap tangan (OTT) KPK pada 18 Desember 2018 lalu. Saat itu, ada 12 orang dari pihak Kemenpora dan KONI yang diamankan oleh tim KPK. Sebanyak lima orang di antaranya ditetapkan sebagai tersangka.

Dua orang di antaranya adalah pengurus KONI Pusat sekaligus bawahan Tono Suratman. Keduanya adalah Ending Fuad Hamidy selaku Sekretais Jenderal KONI dan Jhonny E Awuy selaku Bendahara Umum KONI. Keduanya disangkakan sebagai pemberi suap kepada pihak Kemenpora.

Sedangkan tiga tersangka lainnya adalah berasal dari Kemenpora. Ketiganya, yakni Deputi IV Mulyana, Pejabat Pembuat Komitmen Adhi Purnomo dkk, dan Staf Kemenpora Eko Triyanto

Saat itu, Adhi Purnomo, Eko Triyono dkk ditangkap oleh tim KPK karena diduga menerima suap sekitar Rp318 juta dari pejabat KONI.

Dari tersangka Mulyana ditemukan penerimaan uang Rp 100 juta di kartu debitnya. Sebelum terjaring OTT, Mulyana juga menerima mobil Toyota Fortuner, uang Rp100 juta dari Jhonny E Awuy, dan smartphone Samsung Galaxy Note 9.

KPK menduga adanya pemberian suap dari pihak KONI ke Kemenpora ini merupakan 'kickback' terksit pencairan bantuan hibah Kemenpora ke KONI.

Adapaun dana hibah dari Kemenpora ke KONI tersebut diduga terkait dengan dana hibah untuk Pengawasan dan pendampingan (Wasping) tahap II senilai Rp 17,9 miliar. Nilai timbal balik itu disebut KPK sebesar Rp 3,4 miliar.

Diduga sebelumnya pihak Kemenpora dan KONI telah membuat kesepakatan untuk mengalokasikan fee atau untuk kickback sebesar 19,13 persen atau Rp3,4 miliar dari total dana hibah sebesar Rp17,9 miliar. (tribun network/ilh/coz)

Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved