BI Optimistis Kurs Rupiah Terus Menguat: Perdagangan Ditutup Rp 14.080 per Dolar

Bank Indonesia (BI) menganggap nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih terlalu murah.

BI Optimistis Kurs Rupiah Terus Menguat: Perdagangan Ditutup Rp 14.080 per Dolar
afp
Rupiah dan Dollar AS 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menganggap nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih terlalu murah (undervalued).

Oleh karena itu, bank sentral melihat, ruang penguatan masih terbuka lebar. Kurs menguat pada penutupan perdagangan pasar spot Jumat (25/1) sore, 1 dolar AS dibanderol Rp 14.080. Rupiah menguat 0,56 persen dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya.

"Seperti selalu disampaikan oleh Gubernur BI, mata uang rupiah masih undervalued. Jadi kami yang setiap saat berharap pada pasar, akan membiarkan ruang bagi rupiah terus menguat," kata Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendarsah.

Optimisme BI tak lepas dari konstelasi ekonomi dan pasar keuangan global. Salah satunya adalah arah kebijakan The Fed yang lebih lunak, dan segenap kebijakan oleh BI dan pemerintah untuk memperkuat stabilitas.

BI menekankan, kekhawatiran penguatan rupiah akan memperlebar defisit perdagangan tidak cukup relevan, karena defisit yang tercatat saat ini lebih disebabkan penurunan ekspor dan volume impor yang menurun.

"Artinya, rupiah yang terdepresiasi 5,7% selama 2018 dan kebijakan pemerintah menaikkan pajak impor untuk menurunkan volume impor bagi sejumlah komoditas mulai memberikan dampak," kata Nanang.

"Bila kecenderungan ini terus berlanjut di tahun ini, kami optimis defisit transaksi berjalan akan menuju sekitar 2,5%," kata Nanang.

Saat ini, pasokan dan permintaan di pasar valas semakin berimbang, sementara pasokan devisa dari eksportir ke perbankan pun dalam kondisi yang relatif bisa mengimbangi kebutuhan valas untuk impor.

Tugas BI di pasar valas adalah mengawal pergerakan rupiah baik pada saat melemah maupun menguat agar lebih terukur perubahannya. Sehingga tercipta stabilitas dan kepercayaan masyarakat.

"Yang lebih penting adalah kepercayaan pasar terhadap kebijakan moneter dan fiskal semakin menguat dan turut menambah dorongan arus modal masuk ke Indonesia," tegas Nanang.

Halaman
123
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved