Keluarga Korban Lion Air Terusir dari Hotel: Begini Kata Perempuan Asal Manado Ini

Puluhan anggota korban jatuhnya pesawat Lion Air PK-LQP di Hotel Ibis Cawang, Jakarta Timur, terhitung Rabu siang

Keluarga Korban Lion Air Terusir dari Hotel: Begini Kata Perempuan Asal Manado Ini
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Petugas gabungan membawa kantong berisi puing pesawat Lion Air JT 610 yang jatuh di perairan Tanjung Karawang di Posko Evakuasi Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (31/10/2018). Memasuki hari ke-3 pencarian, petugas gabungan terus melakukan pencarian puing pesawat Lion Air JT 610 dan korban. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA — Puluhan anggota korban jatuhnya pesawat Lion Air PK-LQP di Hotel Ibis Cawang, Jakarta Timur, terhitung Rabu siang kemarin, diminta meninggalkan kamar masing-masing karena pihak Lion Air menghentikan pembayaran sewa kamar.

Keluarga korban merasa diusir secara paksa oleh Lion Air melalui manajemen hotel. Padahal, tidak ada komunikasi sebelumnya dari pihak Lion Air kepada keluarga korban.

"Pihak hotel yang mengusir kami karena tidak ada payment lagi dari Lion. Kami penginnya manajemen Lion Air yang check in kami di sini, datang ke sini untuk check out kami," ujar salah satu keluarga korban Hengki kepada wartawan di Hotel Ibis.

Pihak Lion Air mengumpulkan keluarga korban dari beberapa daerah dalam satu posko di Hotel Ibis Cawang Jakarta sejak jatuhnya pesawat Lion Air PK LQP rute Jakarta-Pangkal Pinang di Tanjung Karawang, Jawa Barat, 29 Oktober 2018.

Saat itu, pesawat tersebut membawa 181 penumpang dan 8 awak. Hingga masa pencarian berakhir, ada 124 korban yang teridentifikasi dan 64 lainnya belum ditemukan.
Mereka ditempatkan dalam satu posko di Hotel Ibis Cawang untuk memudahkan proses pencarian dan identifikasi jenazah korban.

Menurut Neuis, ibu dari korban yang belum ditemukan bernama Vivian (23), pada saat tim DVI Polri mengumumkan identifikasi terakhir jenazah korban, pihak Lion Air sudah bermaksud memindahkan posko keluarga korban dari Hotel Ibis Cawang ke kantor Lion Air di Gajah Mada, Jakarta Pusat. Namun, saat itu keluarga korban menolak permintaan tersebut.

"Kalau kami harus pindah tentukan dulu tempatnya. Kalau kami harus check out dari sini, artinya pindah berarti hari ini juga kami harus check in dong. Atau kalau kami harus pulang, selesaikan hak-hak kami, kami pulang kalau hak-hak kami tertunaikan, itu saja," tandasnya.

Atas adanya surat kesepakatan bersama dengan pihak Lion Air pada 16 Januari 2019, hinga Rabu sore, para keluarga menyatakan tetap bertahan di Hotel Ibis. Apalagi, masih ada 64 korban jatuhnya pesawat Lion Air PK-LQP yang belum ditemukan dan teridentifikasi.

Seperti yang ditunjukkan keluarga korban, ada lima poin yang dijanjikan oleh pihak Lion Air kepada keluarga korban dalam tersebut.

Pertama, pemberian lokasi posko baru. Kedua, pemberian fasilitas penginapan bagi keluarga yang belum mendapat kepastian identifikasi jenazah anggota keluarganya.

Halaman
12
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved