Megawati Soekarnoputri Genap Berusia 72 Tahun, Ini Perjalanan Politik Putri Bung Karno Itu

Ketua Umum PDI Perjuangan ( PDI-P) Megawati Soekarnoputrigenap berusia 72 tahun hari ini, Rabu (23/1/2019).

Istimewa
Ketum PDI-P Megawati Soekarnoputri di peringatan HUT ke-46 PDI-P 

Setelah merasa dijatuhkan, Soerjadi dan kelompoknya membuat Kongres PDI di Medan dan menyepakati Sorjadi sebagai ketua umum pada 22 Juni 1996. 

Indikasi mengenai "restu" Presiden Soeharto terhadap pelaksanaan kongres ini juga terlihat. Sebab, kongres yang berlangsung pada 20 Juni-22 Juni 1996 itu dibuka dan ditutup oleh Menteri Dalam Negeri Yogie S Memed.

Akibatnya, terjadi dualisme kepemimpinan yang kemudian berujung pada bentrokan di Kantor DPP PDI Jakarta pada 27 Juli 1996.

Sejumlah massa yang mengaku pendukung Soerjadi berusaha menguasai DPP PDI yang dikuasai pendukung Megawati. Massa yang semakin lama semakin bertambah akhirnya bentrok dengan aparat yang berhasil menahan mereka selama empat jam lebih.

Massa kemudian berbalik mundur dari Bioskop Metropole ke arah Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta Pusat. Beberapa di antaranya membakar bus kota yang tengah terparkir di depan RSCM. Massa kemudian bergerak ke Salemba dan mulai membakar gedung-gedung.

Kerusuhan 27 Juli itu mengakibatkan 22 bangunan rusak (beberapa di antaranya dibakar), 91 kendaraan dibakar (termasuk lima bus kota dan 30 kendaraan lebih masih di ruang pameran), serta dua sepeda motor dibakar.

Sebanyak 171 orang ditangkap dalam kerusuhan tersebut, karena melakukan pengrusakan dan pembakaran. Dari 171 orang itu, 146 orang massa pro-Megawati Soekarnoputri dan oknum-oknum lain, sedangkan 25 orang lainnya pro-Soerjadi...

Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri pada acara yang digelar Paguyuban Pimpinan Tinggi Perempuan Indonesia dalam peringatan Hari Ibu, di Balai Kartini, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Selasa (18/12/2018).
Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri pada acara yang digelar Paguyuban Pimpinan Tinggi Perempuan Indonesia dalam peringatan Hari Ibu, di Balai Kartini, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Selasa (18/12/2018). (Dok. PDI-P)

5. Tak memilih pada Pemilu 1997
Setelah peristiwa Kudatuli, PDI terbagi menjadi dua kubu. Namun, pemerintah mengakui Soerjadi sebagai ketua umum PDI yang sah. Pendukungnya pun enggan berdiam diri mendukung PDI, padahal saat itu menjelang Pemilu 1997.

Ada dua pilihan bagi pendukung Megawati ketika itu. Pilihan pertama adalah tidak menggunakan hak pilihnya, atau kedua dengan cara mengalihkan dukungan ke Partai Persatuan Pembangunan.

Bahkan, saat itu muncul slogan "Mega Bintang" pada Pemilu 1997.

Slogan ini punya dua makna, tanda bahwa pendukung Megawati kini mendukung PPP yang berlambang bintang. Kedua, sebagai upaya melekatkan Megawati dengan Sri Bintang Pamungkas, politisi PPP yang ditahan Pemerintah Soeharto atas tuduhan subversif setelah dia mencalonkan diri sebagai presiden.

Meski begitu, Megawati baru bersuara pada 22 Mei 1997. Saat itu, dia menggelar konferensi pers di kediamannya, terkait sikapnya pada Pemilu 1997.

Dilansir dari Harian Kompas, Megawati mengejutkan publik saat dia menyatakan memilih untuk tidak memilih. Megawati tak menggunakan hak politiknya pada Pemilu 1997.

Namun, Megawati membebaskan pendukungnya untuk menentukan sikap terkait Pemilu 1997.

6. Mendirikan PDI-P
Setelah Soeharto jatuh dan reformasi bergulir, masih banyak pendukung yang berharap Megawati naik sebagai presiden. Salah satu cara adalah dengan memanfaatkan Pemilu 1999.

Guna menyongsong kontestasi politik pada 1999 itu, Megawati beserta pendukungnya mendeklarasikan PDI Perjuangan pada 14 Februari 1999.

Dilansir Harian Kompas yang terbit pada 15 Februari 1999, Megawati Soekarnoputri yang disambut antusias lebih dari 200.000 simpatisannya mengatakan, tidak ada alasan lain untuk menunda perubahan nama dan lambang partainya.

Sejak kelahiran PDI pada 10 Januari 1973, baru kali inilah PDI meskipun dengan nama PDI Perjuangan, diizinkan tampil di stadion berkapasitas 120.000 itu.

7. Jadi presiden, kalah pemilu

Pada Pemilu 1999, PDI-P menjadi pemenang dengan meraih sekitar 36,6 juta suara. Namun, bukan berarti Megawati langsung menjadi presiden karena pemilihan dilakukan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat. 

Saat itu, ada dua kubu yang bersaing di MPR, yaitu PDI-P dan kubu Partai Golkar yang dinilai sebagai pewaris Orde Baru. Kesengitan itu menyebabkan Amien Rais melakukan manuver dengan membuat Poros Tengah.

Poros Tengah pun mengantarkan Abdurrahman Wahid sebagai presiden dengan mengalahkan Megawati dalam voting di MPR.

Megawati kalah voting pemilihan presiden dengan 373 banding 313 suara. Megawati pun menjalani perannya sebagai wakil presiden.

Namun, pada 2001, dinamika politik memunculkan sejumlah manuver yang membuat Gus Dur dijatuhkan dari kursi presiden. Setelah itu, Megawati ditunjuk sebagai presiden.

Megawati berpasangan dengan Hamzah Haz memimpin hingga 2004. Saat Megawati-Hamzah haz memimpin, terjadi juga sejumlah pembahasan untuk melaksanakan pemilu presiden secara langsung.

Pada 2004, Indonesia pun menggelar pilpres secara langsung. Megawati sebagai petahana dimajukan PDI-P untuk berpasangan dengan Ketua Umum Nahdlatul Ulama saat itu, Hasyim Muzadi.

Namun, pasangan ini kalah dari Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla.

Pada 2009, Megawati juga maju berpasangan dengan Prabowo Subianto. Namun, lagi-lagi dia kalah dari SBY yang berpasangan bersama Boediono.

TONTON JUGA:

TAUTAN AWAL: https://nasional.kompas.com/read/2019/01/23/14105131/genap-72-tahun-ini-perjalanan-politik-megawati-soekarnoputri

Editor: Aldi Ponge
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved