Breaking News
Minggu, 26 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Rokok Turut Jadi Penentu Jumlah Penduduk Miskin di Sulut, Ateng:

Rokok, satu di antara belasan komoditas penentu Garis Kemiskinan di Sulawesi Utara per September 2018.

Penulis: Fernando_Lumowa | Editor:
TRIBUN MANADO/ FERNANDO LUMOWA
Kepala Perwakilan BI Sulut, Soekowardojo (kanan) dan Kepala BPS Sulut Ateng H. memberikan penjelasan terkait angka kemiskinan Sulut, Selasa (15/1/2019). 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Rokok turut jadi penentu jumlah penduduk miskin di Sulawesi Utara. Rokok, satu di antara belasan komoditas penentu Garis Kemiskinan di Sulawesi Utara per September 2018.

Sebagaimana dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut, rokok berada di urutan kedua daftar komoditas yang memberi pengaruh pada Garis Kemiskinan di Sulut. Rokok berada di urutan kedua di bawah beras sebagai penentu Garis Kemiskinan baik di kota maupun di desa.

Selain beras dan rokok, komoditas bahan makanan yang turut jadi penentu ialah ikan Cakalang, cabai rawit (rica) , ikan Kembung (Oci/Tude), telur ayam, gula pasir dan bawang merah.

Baca: Jumlah Penduduk Miskin di Sulut per September 2018 Turun dengan Persentase 7,59 Persen

"Ini terjadi di seluruh Indonesia. Rokok sangat berkontribusi. Memang demikian faktanya. Berapapun harganya, naik berapa tak pernah ada yang protes harga rokok," kata Kepala BPS Sulut, Hartono Ateng, Rabu (16/1/2019).

Sementara, untuk komoditas non makanan yang menentukan Garis Kemiskinan di Sulut ialah listrik, biaya angkutan atau transportasi, bensin, perlengkapan mandi dan perumahan.

Baca: Jumlah Penduduk Miskin Sulut Turun 0,3 Persen

"Kemiskinan ditentukan oleh naik turunnya daya beli masyarakat. Itu dilihat dari pengeluaran per kapita setiap bulan," ujar Ateng.

Jumlah penduduk miskin di Sulut per September 2018 turun dengan persentase 7,59 persen.
Jumlah penduduk miskin di Sulut per September 2018 turun dengan persentase 7,59 persen. (Tribun Manado / Fernando Lumowa)

BPS Sulut merilis, jumlah penduduk miskin di Sulut per September 2018 turun dengan persentase 7.59 persen.

Katanya, jumlah penduduk miskin di Sulut yang pengeluaran per kapitanya di bawah Garis Kemiskinan mencapai 189 ribu orang dari total penduduk.

Baca:  Di Kota Terkaya di Dunia Ini, Penduduk Miskin Terpaksa Tinggal dalam Kamar Serupa Kandang Hewan

"Jumlah ini menurun dibanding kondisi Maret 2018 yang mencapai 193 ribu orang. Ada penurunan 4 ribu orang," kata Atteng, Selasa (15/1/2019).

Ada dua kategori penduduk miskin berdasarkan daerahnya, yakni penduduk miskin perkotaan dan pedesaan.

Per September 2018, jumlah penduduk miskin di perkotaan di Sulut turun 0, 32 persen menjadi 4.8 persen. Sedangkan jumlah penduduk miskin di perdesaan, naik 0.08 persen menjadi 10, 57 persen.

"Selang Maret hingga September 2018, penduduk miskin di kota berkurang 1.700-an orang dari 63, 88 ribu menjadi 62, 11 ribu orang," katanya.

Baca: Penduduk Miskin Turun 1,19 Juta, BPS Akui PKH dan Rastra Berdampak Signifikan

Sementara, selang Maret hingga September 2018, jumlah penduduk miskin juga turun 2.500-an orang. Dari 129 ribu menjadi 126 ribu orang.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulut, Soekowardojo mengatakan, meskipun Pertumbuhan Ekonomi Sulut bukan yang tertinggi di Sulawesi tapi dampaknya bisa dirasakan lebih banyak orang.

Ia jelaskan, jika dihubungkan dengan jumlah penduduk miskin, artinya PE (pertumbuhan ekonomi) Sulut lebih inklusif.

"Manfaat dari pertumbuhan ekonomi bisa dirasakan masyarakat, tak hanya dinikmati kelompok tertentu. Memang perlu ada penelitian lebih lanjut terkait fenomena ini," ujar Soekowardojo. (ndo)

Berita Populer: Mengenal Cara Kerja Teleprompter, Alat yang Digunakan Prabowo saat Pidato Kebangsaan

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved