Buaya Terkam Manusia

9 Fakta Kasus Buaya Terkam Deasy Tuwo di Ranowangko: Kronologi, Kondisi Jasad hingga Milik WN Jepang

9 Fakta Kasus Buaya Terkam Deasy Tuwo: Kronologi Penemuan, Kondisi Jasad, hingga Buaya Milik WN Jepang

9 Fakta Kasus Buaya Terkam Deasy Tuwo di Ranowangko: Kronologi, Kondisi Jasad hingga Milik WN Jepang
Facebook Arianto Lolowang
Deasy Tuwo (44) korban yang diterkam buaya di Ranowangko, Minahasa pada Jumat (11/1/2019). Foto semasa hidup 

Nasran, rekan korban mengatakan korban merupakan sosok wanita yang ulet dan teliti.

"Apalagi dia sebagai kepala lab mutiara, sosok yang pendiam juga sih," kata Nasran saat ditemui di lokasi kejadian.

Baca: BREAKING NEWS: Buaya Peliharaan Serang Manusia di Tanawangko: Identitas Korban dan Pernyataan Polisi

Ia pun kaget saat mendapat informasi bahwa wanita berumur 44 tahun itu hilang setengah badan dimakan buaya.

Buaya pemeliharaan yang menerkam Deasy Tuwo
Buaya pemeliharaan yang menerkam Deasy Tuwo (TRIBUNMANADO/FERDINAND RANTI)

"Bingung juga kenapa bisa sampai dimakan buaya, memang kesehariannya selain menjaga lab, dia memberi makan buaya setiap pagi dan menjelang malam," kata dia.

Baca: VIDEO Buaya ini Tak Muncul saat Dipanggil Pawang, Tapi Ada yang Muncul Diberi Kerupuk

Bahkan, ia mengatakam, anaknya juga sering menemani Deasy saat memberi makan buaya.

"Buaya itu setiap hari diberi makan ikan tuna, ayam bahkan hewan babi," katanya.

5. Cerita Mantan Pawang Buaya

Merry Supit (36) terkejut mendengar kabar kematian Deysi Tuwo (44) yang diterkam buaya milik pemimpin perusahaan pembibitan mutiara itu.

Baca: Viral Kabar Buaya Peliharaan Serang Manusia di Tanawangko, Tubuh Korban Tercabik-cabik

Selama 18 tahun, Merry Supit pernah bekerja di tempat itu dan mengundurkan diri pada 2005 silam.

"Saya sebagai pegawai pembibitan mutiara. Saat itu buaya yang juga diberi nama seperti nama saya ini, masih berukuran sama seperti kayu ini," kata Merry sembari menunjuk batang pohon berukuran panjang 1,50 meter yang tergeletak di sampingnya.

Baca: 5 Pemain Sepak Bola yang Pernah Terjerumus Kasus Prostitusi, Ada Cristiano Ronaldo dan Wayne Rooney

Sejak dahulu, lanjut dia, buaya itu sering diberi makan ayam, tongkol, dan ikan tuna.

Buaya di Ranowangko
Buaya di Ranowangko (Tribun manado / ferdinand ranti)

"Semuanya harus fresh, dia tak mau makan bila sudah dibekukan atau sudah mati beberapa hari," kata warga Jaga X Ranowangko.

Ia mengungkapkan, beberapa waktu lalu buaya itu ingin diserahkan ke penangkaran namun mereka menolak karena tak punya kandang sebesar milik perusahaan itu.

Baca: Update Prostitusi Online, Polisi Ungkap Nama Artis Diduga Terlibat, Inisial AC, TP, BS, ML dan RF!

Menurut Merry, kematian Deysi diketahui dua hari setelah peristiwa. Pasalnya, saat Deysi diterkam buaya, tak ada saksi mata yang melihat

6. Kondisi Jasad Korban

Maikel Mokodompit, pemandi jenasah di RSUP Kandou mengaku kaget saat mengetahui jasad Deasy Tuwo yang dimandikannya merupakan korban yang diterkam buaya.

Baca: Demam Berdarah Membunuh 74 Orang: 5 Tahun Terakhir 6.130 Kasus DBD

Maikel Mokodompit, mengaku selama delapan tahunmenjadi personel di unit pemulasaran jenazah RSUP Kandou Malalayang, baru kali ini ia memandikan jenazah korban buaya.

Maikel Mokodompit, yang ditemui sedang bersantai di depan unit pemulasaran mengaku ada tiga orang yang memandikan jasad tersebut.

Proses pemandian tak lama, tak sampai tiga puluh menit.

suasana Ruang jenazah RSUP Kandou pada Jumat (11/1/2019)
suasana Ruang jenazah RSUP Kandou pada Jumat (11/1/2019) (TRIBUNMANADO/FINNEKE WOLAJAN)

Maikel menggambarkan, saat itu bagian tubun korban sudah habis.

Tersisa kepala dan dua kaki. Tangan pun sudah raib.

Baca: DBD Meningkat di Sulut, Ada Warga Gunakan Pengobatan Alternatif dari Daun Pepaya hingga Kaki Anjing

"Kemungkinan buaya menerjangnya dari pinggir. Mungkin juga karena masih kenyang, makanya tak makan sampai habis," ujarnya.

Baginya jasad yang tak utuh sudah biasa.

Hanya saja memang baru kali ini ia menangani korban gigitan buaya

7. BKSDA Sulut akan Evakuasi Buaya

Warga tak bisa seenaknya memelihara satwa liar. Harus ada izin dari pihak berwenang.

Dari izin inilah akan ditinjau kelayakan lokasi dan hal-hal yang mendukung lainnya.

"Harus ada izin, ada aturan yang mengatur tentang itu. Tak bisa sembarang," ujar Hendrik Rundengan, personel BKSDA Sulawesi Utara, Jumat (11/1/2018).

Tim penyelamat dari BKSDA Sulut langsung menurunkan tim ke lokasi buaya menerkam seorang wanita di Tombariri, Minahasa

Namun karena keterbatasan personel, buaya tersebut belum bisa dievakuasi.

Rencananya buaya tersebut akan dievakuasi ke Pusat Penyelamatan Satwa Tasikoki di Bitung.

Warga Antusias di Kandang Buaya yang Terkam Deysi
Warga Antusias di Kandang Buaya yang Terkam Deysi (TRIBUNMANADO/ALEXANDER PATTYRANIE)

Hewan tersebut tak bisa dibunuh, demikian Hendrik. Sebab ada isu beredar karena amarah warga, sehingga buaya tersebut akan dibunuh.

"Kami sudah berkoordinasi dengan PPS Tasikoki Bitung, rencananya akan dievakuasi ke sana. Tim rescue sudah turun tadi, tapi belum bisa evakuasi karena keterbatasan," ujarnya.

Buaya ini juga menjadi barang bukti polisi untuk kasus kematian korban.

Bahwa benar, korban memang dimakan buaya. Bisa juga jika ada kemungkinan lain, buaya ini tetap harus diamankan. 

8. Warga Ramai Datangi Lokasi

Kepala Laboratorium CV Yosiki tempat pembibitan mutiara, Deysi Tuwo (44), tewas dimakan buaya peliharan pimpinan perusahaan itu yang berlokasi di Jaga VII Desa Ranowangko Kecamatan Tombariri, Minahasa, Sulawesi Utara, Jumat (11/01/2019).

Menurut warga setempat, Deysi yang merupakan warga Desa Suluun Tumpaan Minahasa Selatan, diterkam saat memberi makan buaya.

"Karena pada Rabu (09/01/2019), kami masih melihatnya masuk ke tempat itu," ujar Merry saat ditemui Tribunmanado.co.id di tempat kejadian perkara.

Warga Saat melihat Buaya Makan Manusia
Warga Saat melihat Buaya Makan Manusia (TRIBUN MANADO)

Dari amatan Tribunmanado.co.id, pukul 13.30 Wita, buaya sepanjang empat meter yang tampak sangat gemuk itu masih berada di kandangnya.

Sejumlah warga tampak antusias mengamati pergerakan buaya itu.

Bahkan, ada yang melemparinya batu sehingga buaya meronta dan membuka mulut.

Namun, dari bagian luar kompleks itu sudah diberi garis polisi. 

9. Kapolda Sulut Terkejut

Kapolda Sulut Irjen Pol R Sigid Tri Hardjanto sempat kaget, saat awak media menyodorkan informasi itu kepada jenderal bintang dua.

"Wah, di mana? Di mana itu, kapan kejadiannya coba saya teliti dulu. Perintahkan jajaran saya untuk meneliti informasi tersebut karena saya belum tahu itu," kata Kapolda didamping Kabid Humas Kombes Pol Ibrahim Tompa kepada wartawan usai melakukan lawatan di Komisi pemilihan umum (KPU) Provinsi Sulut, Jumat (11/1/2019).

Dijelaskan kapolda, pada prinsipnya yang menyebabkan luka hingga hilangnya nyawa orang ada regulasi mengatur. Pihaknya akan melihat kronologis seperti apa.

TONTON JUGA:

Penulis: Aldi
Editor: Aldi
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved