Berita di Bolsel

Disparbud Bolsel Kunjungi Sanctuary Maleo

Lokasi Sanctuary Maleo yang berjarak 400 meter dari jalan raya merupakan kawasan penyangga Taman Nasional Bogani Nani Warta Bone (TNBNWB).

Disparbud Bolsel Kunjungi Sanctuary Maleo
TRIBUNMANADO/FELIX TENDEKEN
Komunitas Pencinta Alam, Polisi Kehutanan (Polhut), dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) berkunjung ke Sanctuary Maleo di Batu Manangis, Desa Molibagu, Kecamatan Bolaang Uki, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel). 

Laporan Wartawan Tribun Manado, Felix Tendeken

TRIBUNMANADO.CO.ID - Komunitas Pencinta Alam, Polisi Kehutanan (Polhut), dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) berkunjung ke Sanctuary Maleo di Batu Manangis, Desa Molibagu, Kecamatan Bolaang Uki, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel).

Lokasi Sanctuary Maleo yang berjarak 400 meter dari jalan raya merupakan kawasan penyangga Taman Nasional Bogani Nani Warta Bone (TNBNWB).

"Kami senang sekali bisa menyaksikan langsung pelepasliaran burung endemik Sulawesi dalam bahwa ilmiah disebut Macrocephalon Maleo," jelas Kepala Bidang (Kabid) Promosi Wisata (Promwis) Disparbud Bolsel, Minggu (23/12/2018)

Kata dia, burung yang dikategorikan keberadaannya mulai langka, cara hidupnya berbeda dengan beberapa burung liar lainnya.

"Hewan ini meninggalkan begitu saja telurnya di dalam tanah, sehingga rentan terhadap gangguan predator dan tangan manusia," jelasnya.

Baca: Kepala Disdukcapil Bolsel Pastikan Pencetakan KIA Dilanjutkan 2019

Kata dia, kelompok penyelamat maleo bernama 'Modaga No Suwangge' adalah contoh bagi masyarakat lainnya.

"Mereka tidak kenal lelah menyelamatkan keberlangsungan hidup hewan ini, khususnya yang berada di Molibagu," jelasnya.

Kepala TNBNWB Asep Solihin, mengaku sejak dilaksankannya kegiatan penyelamatan maleo, burung ini populasinya mulai bertambah.

Baca: Peringati Hari Ibu, Pemkab Bolsel Gelar Lomba Masak Antar Kepala Dinas dan Badan

"Kalau dulu susah untuk melihat burung ini, tapi sekarang tidak lagi," jelasnya.

Kata dia, setiap pekan bersama masyarakat yang tergabung dalam kelompok penyelamat Modaga No Suwangge mengamankan telur-telur tersebut.

"Kita ambil dan dipindahkan ke lokasi penangkaran, setelah burung mulai dewasa kita lepas ke alam liar," tandasnya.

Disisi lain kata Asep, keberadaan burung endemik ini di wilayah Batu Manangis mulai mengundang perhatian wisatawan mancanegara dan para peneliti untuk datang ke wilayah ini.

"Setiap tahun pasti ada pengamat burung yang datang ke sini, ada dari Asia, Eropa, dan Amerika," tandasnya.

TONTON JUGA:

Penulis: Felix Tendeken
Editor: Aldi_Ponge
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved