Rabu, 15 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Kiriman Barang Online Terlambat 7 Hari: Ramai E-Commerce di Akhir Tahun

Ramai pasar e-commerce atau belanja online di Sulawesi Utara jelang Natal dan Tahun Baru. Jor-joran di akhir tahun

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO – Ramai pasar e-commerce atau belanja online di Sulawesi Utara jelang Natal dan Tahun Baru. Jor-joran di akhir tahun membuat perusahaan jasa pengiriman kewalahan.

Barang menumpuk di gudang kargo bandara, terkendala pembatalan terbang sejumlah airlines tujuan Manado.

Sehari diperkirakan ribuan barang belanjaan online yang didominasi fashion, alat elektronik dan alat kebutuhan rumah tangga dikirim ke Sulut.

Geliat e-commerce sudah terasa sejak Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) pada 12 Desember 2018. CupoNation, portal diskon belanja online merilis lima situs e-commerce yang paling banyak ditelusuri sejak Harbolnas.

Olivia Adinda Putri PR & Communication Manager CupoNation Asia Tenggara menjelaskan, situs e-commerce paling dicari ialah Lazada.

“Kemudian diikuti Tokopedia, Shopee, Bukalapak dan Zalora,” ujar Olivia dalam rilis ke tribunmanado.co.id, belum lama ini.

Katanya, terdapat kesamaan dalam susunan peringkat 4 besar e-commerce paling dicari yaitu Lazada, Tokopedia, Shopee dan Bukalapak.

Layaknya black Friday di Amerika Serikat dan singles day di Cina, Harbolnas merupakan kampanye cyber sale terbesar di Indonesia telah berdampak luas bagi pasar e-commerce.

Naiknya harga pengiriman logistik dari 20 persen menjadi 70 persen sangat berpengaruh pada pengiriman JNE Manado.

Menurut Manager JNE Manado, Julianus B Patinggi, terjadi keterlambatan pengiriman hingga seminggu pada pihaknya. "Setiap hari kami selalu ada komplain karena barangnya belum sampai. Tapi kami tetap menjelaskannya dengan baik-baik bahwa ini bukan kesalahan JNE," ujarnya, Selasa kemarin.

Ia mengaku harus mensiasati tarif kenaikan pengiriman logistik ini dengan mengirim ke Surabaya. "Tapi tetap saja terlambat, karena di Surabaya dan sekitarnya juga barangnya menumpuk," bebernya.

Untuk tarif pengiriman, Barthen memastikan bakal ada kenaikan. "Tapi kami sesuaikan, dan kenaikannya di tahun depan. Angkanya juga saya belum tahu. Karena ini harus diambil melalui keputusan bersama," aku dia.

Barthen juga bakal menemui beberapa lembaga hukum untuk mengadukan hal ini. "Karena bisnis kami inikan tergantung pengiriman. Kalau terlambat terus kan bukan hanya kami yang rugi tapi masyarakat juga," tandasnya.

Pantauan tribunmanado.co.id di Bandara Sam Ratulangi Manado, Selasa (18/11/2018), beberapa karung barang terlihat di depan ruangan kargo. Walau banyak, tidak terjadi penumpukan barang.

Lalu lintas pemasukan dan pengeluaran barang juga terlihat sepi. Mobil yang ada hanya bisa dihitung dengan jari. Kesibukan juga tidak terlalu nampak. Hanya satu dua orang staf berada di depan kargo. Suasana terlihat sepi. Tak banyak aktivitas berarti.

Angga Maruli, Communication and Legal Section Head PT Angkasa Pura I Bandara Samrat mengatakan, sampai saat ini, tidak ada penumpukan di kargo bandara.

"Mungkin kalau ada penumpukan di gudang ekspedisi karena setiap barang masuk ke kargo di bandara sudah ada schedule untuk pengangkutan sehingga tidak menumpuk," katanya.

Maruli menduga jika ada penumpukan, barang menumpuk di jasa pengiriman. Sebab, itu menyangkut maskapai, konsumen dan jasa pengiriman. "Di sini tidak begitu. Tidak tahu di bandara besar," katanya.

Ilustrasi penggunaan e-commerce
Ilustrasi penggunaan e-commerce (AFP)

Tuti Terima Komplain Pelanggan

Pengiriman barang e-commerce terlambat. Tuti Hulantu (26), pedagang belanja online, mengeluh lantaran barang yang dipesan tak kunjung datang, Selasa (18/12/2018).

"Kiriman barang pesanan kali ini terlambat, entah ada kendala apa sampai harus menunggu berhari-hari. Padahal langganan saya sudah tanya melulu," kata pemilik online shop di Kota Manado ini.

Kata dia, sudah lebih dari seminggu, beberapa barang pesanan pelanggan mengalami keterlambatan pengiriman.
Tuti mengaku jika kejadian seperti ini baru dialami, kerugian yang didapat sekitar Rp 851.000.

Meski kerugiannya tak mencapai angka hingga jutaan, namun beliau mengaku jika nama online shopnya bisa jadi tidak dipercaya lagi oleh pelanggan.

Tak seperti tahun kemarin, barang online shop yang dijualnya selalu dikirim dan diterima tepat waktu sesuai ketentuan, namun kali ini bernasib lain.

"Seharusnya ada solusi lain yang diberikan oleh pihak jasa pengiriman, agar nantinya kejadian seperti ini tidak terulang lagi di lain waktu. Kalau seperti ini, saya yang rugi, nanti tidak ada yang percaya lagi jika saya jualan online," tambahnya. (vey/dma/nie)

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved