Senin, 4 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Curhat Jokowi soal Papua: Bekerja Bertaruh Nyawa, KKB Tembak Helikopter TNI

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menggambarkan sulitnya medan yang harus dilalui para pekerja Trans Papua,

Tayang:
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
TRIBUN/BIRO PERS
Presiden Joko Widodo bersama Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, Menteri Pekerjaan Umum Basuki Hadimuljono dan Kasad Jenderal TNI Mulyono berkonvoi mengendarai motor trail untuk meninjau langsung pembangunan jalan Trans Papua ruas Wamena-Mamugu 1, di Papua, Rabu (10/5/2017). 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menggambarkan sulitnya medan yang harus dilalui para pekerja Trans Papua, seiring kondisi geografis di sana yang berbentuk pegunungan.

Jokowi kemudian mencontohkan, pembangunan jalan dari Wamena ke Mamugu sepanjang 278 kilometer, yang ketinggiannya mencapai di atas 3 ribu meter maka diperlukan helikopter untuk membawa alat berat.

"Pembangunan di Papua itu memang sangat sulit sekali medannya, geografisnya, cuacanya, ketinggian 3 ribu sampai 4 ribu meter di atas permukaan air laut. Alat berat bawa ke sana pakai helikopter, membawa aspalnya juga pakai helikopter," ujar Jokowi di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (5/12/2018).

Medan yang sangat sulit di Papua, kata Jokowi, harus diketahui oleh seluruh masyarakat Indonesia, karena membangun jalan di Pulau Jawa dengan Papua, sangat berbeda sekali.

"Alamnya sulit di tanah Papua, juga ada sisi keamanan di titik-titik tertentu. Ini yang menyebabkan kadang-kadang misalnya sebuah proyek itu harus berhenti dulu misalnya, karena alat yang sangat sulit dan kadang keamanan juga masih perlu perhatian. Yang bekerja di sana betul-betul bertaruh nyawa," papar Jokowi.

Meski medan yang sangat sulit dan telah terjadi penembakan kepada pekerja Trans Papua oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB), Jokowi menegaskan semua pembangunan infrastruktur di bumi Cenderawasih akan tetap berjalan dan segera diselesaikan.

"Sekali lagi ingin saya sampaikan bahwa pembangunan Trans Papua tetap terus dijalankan diteruskan, tidak akan berhenti," pungkas Jokowi.

Ia kemudian menegaskan, pembangunan Trans Papua tetap berlanjut, meski terjadi insiden penembakan oleh KKB terhadap pekerja PT Istaka Karya di Kabupaten Nduga, Papua.

Agar proses pembangunan tetap berlanjut, Jokowi meminta Menteri PUPR Basuki Hadimuljono untuk meneruskan tugasnya dalam membangun jalan di Wamena-Mamugu dan segera menyelesaikan jalan Trans Papua sepanjang 4.600 km.

"Ini malah membuar tekad kita membara untuk melanjutkan tugas besar kita membangun tanah Papua. Dari Wamena-Mamugu ini terus dibangun 35 jembatan, adi tetap harus diselsaikan, artinya PU jalan terus untuk membangun tanah Papua atau mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia," ucap Jokowi.

"Saya tegaskan bahwa tidak ada tempat untuk kelompok-kelompok kriminal senjata seperti ini di tanah Papua maupun seluruh pelosok tanah air dan kita juga tidak akan pernah takut," ujar Jokowi.

Jokowi memastikan lagi, telah meminta kepada Panglima TNI dan Kapolri untuk mengejar serta menangkap seluruh pelaku penindakan yang sudah termasuk biadab tersebut.

"Saya memerintahkan Panglima TNI dan Kapolri untuk menangani penyerangan dengan penembakan oleh KKB di Papua yang telah mengakibatkan gugurnya para pekerja yang tengah bertugas membangun jalan Trans Papua," papar Jokowi.

"Saya tegaskan bahwa tidak ada tempat untuk kelompok-kelompok kriminal senjata seperti ini di tanah Papua maupun seluruh pelosok tanah air dan kita juga tidak akan pernah takut. Mari kita bersama-sama mendoakan agar para pahlawan pembangunan Trans Papua ini diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa," katanya lagi.

Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian mengungkapkan, pembantaian 20 orang di Kabupaten Nduga, Papua, oleh kelompok kriminal bersenjata, dilatari oleh eksistensi mereka sendiri.

Tito mengatakan, tanggal 1 Desember memang menjadi hari peringatan bagi kelompok mereka. Aksi penyerangan itu pun menjadi momentum untuk menunjukkan eksistensi mereka.

"Tanggal 1 Desember itu biasanya mereka menunjukkan eksistensi. Ada saja, mulai dari upacara pengibaran bendera, sampai ke penyerangan kelompok bersenjata. Biasanya kalau menyerang, yang diserang aparat. Tapi kalau aparatnya sulit, mereka ya mencari sasaran yang lemah," ujar Tito.

Namun pada dasarnya, aksi pemberontakan mereka disebabkan oleh persoalan kesejahteraan di tanah kelahirannya. Tito mengatakan, pembangunan di wilayah tengah Pulau Papua, memang agak terlambat. Selama ini, pembangunan lebih dilakukan di wilayah utara, barat dan selatan Papua atas alasan kemudahan akses.

"Makanya kalau kita melihat kelompok bersenjata lebih banyak dari Papua Barat, Manokwari dan sebagainya. Tapi dengan pembangunan yang berjalan bagus, saat ini tidak ada lagi kelompok bersenjata di daerah itu," katanya lagi.

"Tapi di daerah pegunungan tengah, mulai dari Puncak Jaya, Lani Jaya, Nduga, Yahukimo dan sekitarnya itu memang pembangunan agak terlambat ya. Karena kondisi geografi yang memang sulit. Makanya sekali lagi, persoalannya ini adalah pembangunan dan kesejahteraan," lanjut dia.

Meki demikian, Tito mengatakan atas alasan apapun, aksi penyerangan seperti itu tidak dapat dibenarkan. Presiden sudah menginstruksikan TNI-Polri untuk menangkap para pelaku penyerangan. Jokowi juga sudah menyampaikan tekad untuk tetap melaksanakan pembangunan di seluruh tanah Papua.

"Bapak Presiden Jokowi ini sudah mempunyai tekad yang sangat kuat dalam hal membangun di pegunungan tengah. Salah satunya ya dengan cara membuka akses jalan Trans Papua," ujar Tito.

Kapolri kemudian Polri meralat jumlah korban pembantaian yang dilakukan oleh kelompok kriminal bersenjata terhadap para pekerja jembatan di distrik Yigi, Nduga, Papua.

Berdasarkan informasi yang dihimpun pihak kepolisian, jumlah korban meninggal dunia berjumlah 20 orang. "Informasi sementara adalah 20. 19 pekerja, dan 1 anggota TNI yang gugur," ujar Tito.

Tito menerangkan, setelah kelompok bersenjata melakukan pembunuhan dengan cara biadab terhadap para pekerja PT Istaka Karya, sehari setelahnya kelompok itu menyerang pos TNI di Mbua.

"Saya kira pos ini didirikan teman-teman TNI untuk menjaga para pegawai pekerja tadi. Itu jg diserang. Kekuatan 21 orang diserang. Setelah itu terjadi perlawanan dan mereka mundur, tapi sempat satu orang gugur," ucap Tito.

Sejauh ini, menurut Tito, belum diketahui jumlah korban dari kelompol bersenjata yang melakukan penyerangan tersebut. "Kita belum tahu di pihak mereka mungkin juga sudah ada korban juga, tapi saat ini pengejaran dilakukan," ucap Tito.

Kontak senjata terjadi antara aparat keamanan gabungan TNI dan Polri dengan KKB Papua. KKB menembak sebuah helikopter milik TNI yang saat kejadian sedang melakukan evakuasi jenazah Serda Handoko yang tewas ditembak di sebuah pos jaga TNI beberapa waktu lalu.

Baling-baling helikopter terkena tembakan saat diserang oleh KKB. Namun evakuasi jenazah Serda Handoko yang diback up dari team Nanggala berhasil dilakukan. Kini jenazah Serda Handoko telah dievakuasi dari
Distrik Mbua ke Kenyam, ibu kota Kabupaten Nduga, untuk selanjutnya diterbangkan ke Timika, Kabupaten Mimika.

Kapolda Papua Irjen Pol Martuani Sormin Siregar menjelaskan, sekitar pukul 10.00 WIT, tiga unit helikopter dengan tim Naggala berangkat dari Kabupaten Mimika menuju ke Puncak Kabo, Distrik Yigi, Kabupaten Nduga yang merupakan lokasi pembantaian pegawai PT Istaka Karya.

Kapolda menjelaskan, saat tim berada di lokasi Puncak Kabo, helikopter mendapat tembakan dari arah puncak, sehingga tim Nanggala melakukan tembakan balasan.

“Karena ada tembakan dari arah Puncak Kabo, maka Tim Nanggala melakukan tembakan balasan dari helikopter. Ada satu helikopter jenis Bell yang baling-balingnya terkena tembakan dari kelompok KKB,” ungkapnya ketika dikonfirmasi melalui telepon selulernya.

Lantaran bahan bakar minyak (BBM) habis, ungkap Kapolda, akhirnya helikopter melakukan refueling (pengisian BBM) sekaligus evakuasi jenazah anggota Pos TNI Mbua, Serda Handoko. “Jadi jenazah sudah dievakuasi ke Kenyam selanjutnya akan dibawa ke Timika, Kabupaten Timika,” terangnya.

Kontak senjata juga terjadi saat Tim Belukar dari aparat penegak hukum gabungan TNI dan Polri sedang mengevakuasi karyawan PT Istaka Karya yang dikabarkan dibunuh kelompok Separatis di Kali Yigi-Kali Aurak, Distrik Yigi, Kabuapten Nduga, Papua. Satu anggota Tim Belukar dikabarkan terkena tembakan. Belum diketahui kondisi korban saat ini.

Korban saat ini telah dievakuasi ke Pos TNI Mbua dari Puncak Kabo, Distrik Yigi.
Kapolda Papua Irjen Pol Martuani Sormin Siregar membenarkan satu anggota Tim Belukar telah sampai ke Puncak Kabo, lokasi para pekerja dikabarkan dibunuh oleh kelompok KKB.

“Sesampainya di Puncak Kabo, tim yang terdiri anggota TNI dan Polri mendapat perlawanan dari kelompok KKB,” ujar Kapolda melalui pesan singkat telepon selulernya.

Kapolda menjelaskan, saat ini satu anggota yang terkena tembakan telah dievakuasi ke Pos TNI di Mbua, yang jaraknya 2 jam berjalan kaki dari Puncak Kabo.

“Sampai saat ini tim Nanggala yang telah bersatu dengan tim Belukar masih melakukan penyisiran di Puncak Kabo. Kontak tembak terus terjadi. Tetapi kita masih susah mendapat kondisi ril di sana, lantaran akses telekomunikasi yang susah,” ujarnya singkat.

Danrem 172/PWY, Kolonel Inf Binsar P Sianipar mengungkapkan, saat ini sudah ada 250 personel gabungan telah berada di Mbua untuk melakukan evakuasi dan juga penyisiran terhadap kelompok separatis. “Sebanyak 250 pasukan gabungan telah bergeser ke Mbua untuk mengejar dan mengevakuasi para korban,” katanya. (Tribun Network/kps/wly)

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved