Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Sebut 11 Juta Massa Reuni 212, Guntur Romli: Prabowo Berlebihan

Sebut 11 Juta Massa Reuni 212, Guntur Romli: Prabowo Berlebihan, jangan-jangan Prabowo kena halusinasi

Penulis: David_Kusuma | Editor: David_Kusuma
Istimewa
Mohamad Guntur Romli 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Protes Prabowo Subianto kepada media terkait acara reuni 212 merupakan sikap kekanak-kanakan. Demikian penegasan Juru Bicara Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Mohamad Guntur Romli.

"Protes Prabowo Subianto pada media soal acara Reuni 212 merupakan sikap yang kenakan-kanakan, kalau tidak diperhatikan ngambek, itu tipe orang manja, cocok dengan latar belakang Prabowo yang karir militernya mentereng karena waktu itu dia menantu Presiden Soeharto," kata Guntur Romli.

Terkait komentar Prabowo Subianto jumlah massa 11 juta orang pada Reuni 212, Guntur Romli menganggap itu berlebihan.

Baca: Prabowo Kritik Keras Media yang Tak Siarkan Reuni 212, Jubir PSI: Prabowo Tak Hormati Kebebasan Pers

"Jumlah 11 juta orang dari Reuni 212 itu hitungan yang berlebihan, jangan-jangan Prabowo kena halusinasi kalau yang hadir di acara itu sampai 11 juta orang," tegas Guntur Romli yang juga dikenal aktivis muda NU ini.

Bagi Guntur Romli, jumlah peserta Reuni 212 tidak lebih dari jumlah peserta tari Poco-Poco yang diikuti Jokowi Agustus lalu.

Mohamad Guntur Romli
Mohamad Guntur Romli (Serambi Indonesia)

Baca: Reuni Akbar 212 Tahun Depan, Aa Gym Usulkan agar Ahok Diundang

"Peserta tari Poco-Poco yang diikuti Jokowi hanya 65 ribu orang, itu pun sudah penuh dari Silang Monas, Patung Kuda, Jalan Thamrin, Bunderan HI hingga Jalan Sudirman, ini cuma di Monas saja ngaku 11 juta orang, Prabowo berlebihan," pungkas Guntur Romli.

Sementara itu, Dedek Prayudi, Jubir Partai Solidaritas Indonesia (PSI), menanggapi pernyataan calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto yang mengkritik pemberitaan media massa terkait Reuni Akbar 212 di Monas, Jakarta, pada Minggu (2/12/2018).

Baca: Reuni Akbar 212 Jadi Sorotan Warganet

Dilansir TribunWow.com dari Tribunnews.com, Rabu (5/12/2018), Dedek menilai sikap Prabowo merupakan indikasi kuat bahwa ia memiliki kecenderungan untuk memaksakan kebenaran versinya sendiri.

Menurut Dedek, hal itu membuat Prabowo tampak seperti tak mampu menghormati kebebasan pers.

"Kami melihat Pak Prabowo tidak mampu menerima pemberitaan dan opini yang tidak sesuai dengan kepentingan politiknya," jelas Dedek dalam pernyataan tertulisnya.

Baca: (VIDEO) Rommy: yang Datang Reuni 212 Pendukung Prabowo, yang Enggak Datang Itu Pendukung Jokowi

"Sehingga membuat beliau emosional dan menuduh media nasional berbohong, ataupun memihak bahkan teman-teman jurnalis ada yang merasa sedang dimarahi," imbuhnya.

Atas pernyataan Prabowo yang mencibir media itu, Dedek pun mengungkapkan, ada kekhawatiran yang amat serius akan nasib kebebasan pers, apabila Prabowo menjabat presiden.

"Kekhawatiran ini mengingatkan kami kepada zaman Orde Baru, dimana media dikungkung, diintimidasi hingga dibredel oleh rezim," jelasnya.

Prabowo Subianto Bingung karena Bercandanya Selalu Dipersoalkan
Prabowo Subianto Bingung karena Bercandanya Selalu Dipersoalkan (YOUTUBE)

Baca: Debat Soal Jumlah Peserta Reuni Akbar 212: Hitungan Matematis Kawasan Monas dan Penduduk

Mengutip Kompas.com, Prabowo Subianto memberikan kritik pada sejumlah media massa nasional karena tidak meliput dan memberitakan acara Reuni 212.

Diketahui, Prabowo menyampaikan hal itu dalam pidatonya di acara peringatan Hari Disabilitas Internasional, di Hotel Sahid Jaya, Jakarta, Rabu (5/12/2018).

"Mereka menelanjangi diri mereka di hadapan rakyat Indonesia. Ada belasan juta (peserta), mereka tidak mau melaporkan," kata Prabowo.

Baca: Cuitan Fadli Zon Bela Dubes Arab Saudi Osamah yang Mencuit Reuni Akbar 212

Selain itu, Prabowo juga menuduh jika banyak media massa yang saat ini telah menjadi bagian dari upaya memanipulasi demokrasi.

"Media-media yang kondang, media-media dengan nama besar, media-media yang mengatakan dirinya objektif, bertanggungjawab untuk membela demokrasi, padahal justru mereka ikut bertanggungjawab. Mereka bagian dari usaha manipulasi demokrasi," ujar Prabowo.

Baca: Inilah Kronologi Cuitan Dubes Arab Saudi Osamah Tentang Reuni Akbar 212 yang Diprotes PBNU

Ia kemudian berpendapat jika para wartawan di media massa yang tidak memberitakan ada 11 juta orang saat Reuni 212 tidaklah memiliki hak menyandang predikat sebagai seorang jurnalis.

Prabowo juga mengungkapkan, para wartawan yang melakukan manipulasi itu tidak layak untuk dihormati.

Baca: PSI Dukung Sikap PBNU Usir Dubes Saudi Arabia Osamah yang Mencuit Reuni 212

"Saya tidak mengakui Anda sebagai jurnalis. Saya sarankan kalian tidak usah hormat sama mereka (wartawan) lagi. Mereka hanya anteknya orang yang ingin hancurkan Republik Indonesia," ucap Prabowo di hadapan para peserta peringatan Hari Disabilitas Internasional. (*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved