Keluarga di Manado Tak Bisa Hubungi Habib Bahar: Toleran Kesandung Ceramah 'Jokowi Kayak Banci'

Keluarga di Manado enggan mengomentari perkara hukum Habib Bahar bin Smith. Bahar dilaporkan oleh Habib

Keluarga di Manado Tak Bisa Hubungi Habib Bahar: Toleran Kesandung Ceramah 'Jokowi Kayak Banci'
istimewa
Habib Bahar bin Ali bin Smith (kiri) berbincang dengan pejabat Pemprov Sulut dan aparat keamanan di Bandara Samrat, Senin (15/10/2018). 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO – Keluarga di Manado enggan mengomentari perkara hukum Habib Bahar bin Smith. Bahar dilaporkan oleh Habib Muannas Alaidid dengan tuduhan menghina Presiden Joko Widodo saat berceramah.

"Saya sih baru baca di media, jadi belum bisa memberi tanggapan," kata Habib Husein Bin Smith, kakak Bahar saat ditemui tribunmanado.co.id di kediamannya Kelurahan Karame, Kecamatan Singkil, Kota Manado, Jumat (30/11/2018) sore.

Husein mengaku belum menghubungi adiknya pascaperkara itu. Terakhir ia coba menghubungi Bahar pada tanggal 16 November 2018.

"Namun ia tak angkat telepon, mungkin karena lagi sakit, ia sempat diinfus," kata sang kakak. Diakuinya Bahar memang selalu tampil garang dalam ceramah. Namun, Bahar sejatinya adalah pribadi yang baik serta toleran.

"Di Manado, Bahar punya banyak teman orang Kristen. Teman pendetanya juga banyak. Di belakang rumah kami ada gereja. Bahar dulunya sering bermain sekitar situ," kata dia. Sebut Husein, Bahar sering pulang ke Manado.

Waktu dihabiskannya di rumah mereka di Karame serta di Desa Tumbak, Kecamatan Pusomaen, Kabupaten Minahasa Tenggara, daerah asal ibu Bahar. "Alih-alih melakukan tindakan provokatif, ia malah bersilaturahmi dengan warga sekitar termasuk teman lama," katanya.

Menurut dia, Bahar punya karakter ceria, hangat serta humoris. Ia berteman dengan siapa saja. "Dari orang terpandang sampai kaum miskin, semua ia berkawan," kata dia. Ia menceritakan tentang keluarga bin Smith di Manado.

Menurut dia, keluarga bin Smith sejak lama hidup berdampingan dengan masyarakat beda agama.
Ia sendiri memiliki darah Minahasa dari ibunya.
"Ibu saya berdarah Arab Tondano sementara ibu Bahar berasal dari Minahasa Tenggara," kata dia.
Dia dulunya bersekolah di SMA Negeri 1 Manado.

Sedang Bahar sekolah di Komo. Husein mengaku memiliki banyak teman dari berbagai golongan agama.
"Semasa sekolah, semua selalu kumpul di rumah saya. Salah satunya petinggi Polri marga Lasut, kami bahkan mau reunian," kata dia. Husein bercerita, saat pengadangan Bahar 16 Oktober lalu, ia malah ditelepon oleh rekan rekannya yang beragama Kristen.

"Mereka mengkhawatirkan keselamatan kami, " kata dia.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Utara, KH Abdul Wahab Abdul Gofur mengimbau para ulama untuk memberikan ceramah yang santun dan menyejukkan.

Halaman
123
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved