Diet Puasa Kurang Efektif Jika Dalam Jangka Panjang

hasil dari pusat penelitian kanker Jerman dan Heidelberg University Hospital mengungkap fakta sebaliknya.

Diet Puasa Kurang Efektif Jika Dalam Jangka Panjang
Internet
Ilustrasi rencana diet 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Diet puasa intermiten belakangan ini populer sebagai cara cepat menurunkan berat badan.

Meski banyak testimoni orang yang sukses menjadi lebih langsing, namun hasil dari pusat penelitian kanker Jerman dan Heidelberg University Hospital mengungkap fakta sebaliknya.

Mereka menyimpulkan, puasa intermiten tidak lebih baik daripada diet pembatasan kalori.

Baca: (VIDEO) Jadwal Live Streaming PSV Vs Barcelona di HP via MAXStream beIN Sports Kamis 29/11/2018

Salah satu peneliti, Ruth Schübel mengatakan ada banyak riset tentang puasa intermiten namun semua hanya menguak sisi positifnya.

Puasa intermiten merupakan pola makan yang mewajibkan kita melakukan puasa selama 16 jam sehari dan bebas makan apa saja selama 8 jam.

“Jendela” makan ini sangat bervariasi. Selain menggunakan kosep 16:8, puasa intermiten yang populer adalah 5:2, di mana selama lima hari kita bisa makan biasa dan dua hari berpuasa.

Baca: 3 Bintang K-pop Terkenal yang Kini Menjadi Bos Agensi Besar di Korea Selatan

Sayangya, seringkali penurunan berat badannya tak berlangsung lama.

Pakar nutrisi berpendapat, tak ditemukan perubahan metabolisme yang bermanfaat bagi kesehatan

Diet puasa juga dianggap tidak sesuai untuk pengaturan berat badan jangka panjang. Bahkan, tak ada cukup data untuk mengevaluasi manfaat jangka panjang dari diet ini.

Dalam riset ini, peserta terbagi dalam tiga kelompok. Kelompok pertama melakukan diet pembatasan kalori konvensional, yang mengurangi asupan kalori harian sebesar 20 persen.

Baca: Begini Cerita Boediono soal Kesalahan Resep IMF Menangani Krisis 1998

Halaman
12
Editor: Hans Koswara Widjaya
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved