Inilah Penjelasan Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam dan Hasil Lomba di Paroki Modoinding

Kalender liturgi Gereja Katolik untuk tahun 2018 sudah ditutup pada Hari Raya Tuhan Kita Kristus Raja Semesta Alam, Minggu (25/11/2018)

Inilah Penjelasan Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam dan Hasil Lomba di Paroki Modoinding
Tribun manado / David Manewus
Lomba Koor KBP Paroki Modoinding 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Hari ini, Selasa (27/11/2018) menjadi hari biasa kedua dalam Pekan Biasa XXXIV. Pekan ini merupakan peralihan dari pekan biasa Kalender Liturgi Gereja Katolik menuju ke Masa Adven.

Kalender liturgi Gereja Katolik untuk tahun 2018 sudah ditutup pada Hari Raya Tuhan Kita Kristus Raja Semesta Alam, Minggu (25/11/2018). Gereja Katolik sudah masuk Tahun Baru Liturgi.

Dari Buku Pintar Misdinar Gabriel FX dan Pengantar Teologi, Makna, Sejarah dan Teologi Liturgi yang termuat di www.scribd.com, tahun liturgi adalah perayaan karya penyelamatan Allah dalam Kristus sepanjang periode waktu satu tahun.

Itu menjadi karya penyelamatan Kristus, dan karena itu saat liturgi dirayakan berarti Kristus hadir dan menyatukan segenap umat dalam kegiatan bersama yang bertujuan menguduskan mereka.

Pusat tahun liturgi Gereja Katolik adalah sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus yang adalah sumber daya yang menghidupkan, pangkal keselamatan umat manusia, sekaligus menjadi pusat Tahun Liturgi Gereja sebab merupakan sumber hakiki bagi kehidupan kaum beriman.

Baca: Umat Katolik Rayakan Hari Kristus Raja Semesta Alam, Paroki Modoinding Adakan Lomba Senam Tobelo

Baca: Umat Paroki Modoinding Kerja Bakti di Kebun Misi Keuskupan

Karena perayaan karya keselamatan, di dalam Gereja Katolik sebagai pencetus tahun liturgi, tahun liturginya disusun sedemikian rupa dan sedapat mungkin lengkap sesuai dengan kronologi karya penyelamatan Kristus lengkap dengan suasananya.

Pastor Feighty Boseke, Pastor Paroki Modoinding dalam perayaan Hari Raya Yesus Tuhan Kita Raja Semesta Alam mengatakan orang Katolik selama masa Adven (sesuai tahun liturgi) belum merayakan Natal. Kalaupun demi alasan ekumenis, umat Katolik bisa mengikuti perayaan Natal sebelum 24 Desember malam tapi tak aktif merayakannya.

"Menyanyi juga lagu Adven," katanya.

Ia mengumpamakan Masa Adven sebagai "masa manimpang". Manimpang yang dalam bahasa Indonesia mengatur, menata segala sesuatu baginya cocok dilakukan sebelum mengungkapkan suasana perayaan kembali kelahiran bayi Juru Selamat.

"Supaya saat Natal hati sudah siap. Terima Sakramen Pertobatan," katanya.

Halaman
12
Penulis: David_Manewus
Editor: David_Kusuma
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved