Ciptakan Demokrasi Sehat, Adriana Dondokambey Ajak Masyarakat Lawan Politisasi Agama

Adriana Dondokambey mengajak masyarakat untuk melawan politisasi agama menejelang tahun politik 2019.

Ciptakan Demokrasi Sehat, Adriana Dondokambey Ajak Masyarakat Lawan Politisasi Agama
Anggota DPRD Sulawesi Utara fraksi PDI Perjuangan, Adriana Dondokambey
Istimewa 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Ketua Komisi III DPRD Provinsi Sulawesi Utara, Adriana Dondokambey mengajak masyarakat untuk melawan politisasi agama menejelang tahun politik 2019.

Dalam demokrasi, setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi pemimpin dalam pemerintah.

Politisasi agama dalam demokrasi dinilai akan menciderai demokrasi.

"Mari kita lawan segala bentuk politisasi terhadap agama saat pesta demokrasi tahun depan, karena itu sangat menciderai proses demokrasi yang selama ini kita telah bangun. Politisasi agama merupakan cara berpolitik yang tidak rasional," ujar Adriana, Selasa (27/11/2018).

Adriana menjelaskan, agama bukanlah instrumen politik.

Politisasi agama terdapat akan menimbulkan pembohongan-pembohongan publik sehingga ide atau gagasan yang diciptakan akan hilang.

"Agama bukanlah instrumen politik, melainkan suatu kebebasan dan hak asasi manusia yang dilindungi oleh konstitusi. Dengan adanya politisasi agama akan menimbulkan ide-ide yang tercipta untuk menyejahterakan masyarakat akan kabur," imbuhnya.

Ia menambahkan, politasasi agama sama berbahayanya dengan politik pencitraan.

Di mana keduanya mengandung unsur kebohongan publik.

"Politik pencitraan dan politisasi agama sama berbahanya, karena sama-sama mengandung unsur pembohongan publik. Jadi, masyarakat harus waspada dengan upaya-upaya tersebut yang mungkin akan muncul menjelang pemilihan umum," kata Adriana yang juga mencalonkan diri sebagai anggota DPR RI Dapil Sulut dari partai PDIP nomor urut 1 tersebut.

Di sisi lain, Adriana mengimbau kepada msyarakat untuk memilih pemimpin yang sudah terbukti kinerjanya tanpa memandang suku, agama dan ras.

Hal tersebut untuk mencegah adanya diskriminasi dan menjaga persatuan antar umat beragama.

"Kami mengimbau kepada masyarakat untuk memilih pemimpin berdasarkan kinerja serta rekam jejaknya selama ini untuk mencegah adanya diskrimnasi dan menjaga persaudaraan antar umat. Selain itu, pilihlah pemimpin sesuai dengan hati nurani kita," pungkasnya.(adv)

Editor: Ireine V Tompunu
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved