Albertus Patty: Jaga Masa Depan Indonesia, Hasil FGD di Hotel Yuta Manado

Topik Pemilu, Perda Agama dan Nasib NKRI dikupas dalam seminar kebangsaan bentuk focus group discussion (FGD), di Ball Room Hotel Yuta Manado.

Albertus Patty: Jaga Masa Depan Indonesia, Hasil FGD di Hotel Yuta Manado
TRIBUN MANADO/CHRISTIAN WAYONGKERE
Topik Pemilu, Perda Agama dan Nasib NKRI dikupas dalam seminar kebangsaan bentuk focus group discussion (FGD), di Ball Room Hotel Yuta Manado, Sulawesi Utara, Sabtu (24/11/2018). 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Topik Pemilu, Perda Agama dan Nasib NKRI dikupas dalam seminar kebangsaan bentuk focus group discussion (FGD), di Ball Room Hotel Yuta Manado, Sulawesi Utara, Sabtu (24/11/2018).

Seminar Nasional yang digagas Gerakan mahasiswa kristen Indonesia (GMKI) wilayah Sulawesi Utara dan Gorontalo, dipandu moderator Drg Hizkia Sembel, menghadirkan para narasumber mulai dari Pdt Albertus Patty ketua persekutuan gereja-gereja Indonesia (PGI), Guntur Romi juru bicara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mewakili Grace Natalie ketua umum PSI, Habid Muannas Alaidid pengurus DPP PSI, dan Jeirry Sumampouw koordinator Nasional Komite pemilih Indonesia.

Menurut Pdt Dr Albertus Patty pemilu adalah sistem demokrasi hak memilih dan dipilih, keterbalikkan dengan Perda Agama lebih ke kepentingan kelompok ketimbang kewarganegaraan.

Patty melihat saat ini dibalik Gelora Perda Agama ada upaya-upaya membuat negara ini menjadi negara yang bukan pancasila melainkan agama tertentu.

"Secara tidak langsung saat ini kita sudah dalam segergasi / kelompok-kelompok. Seperti dunia pendidikan, fashion, berbahasa mulai jadi perbedaan-perbedaan. Efeknya sadar tidak sadar, yang kita pikir tentang kepentingan kelompok bukan lagi Indonesia," kata Patty.

Kondisi negara saat ini mulai dipecah belah oleh diri sendiri melalui legitimasi Agama, kalau terus terjadi secara cultural sama halnya kita sedang melakukan bunuh diri masal.

Secara politik terjadi, kita akan terpecah belah, karena sekarang biacara apa saja pasti dipolitisasi, kemudian dihubungkan dengan agama yang sempit, yang memecah-mecah yang memisahkan dimaikan pihak-pihak yang ingin memecah belah bangsa.

Masalah serius muncul dari elit politik melakukan instrumen Agama demi kekuasaan, kelompok primordial, kekayaan, pangkat dan lainnya.

Lumpuhnya DPR sebagai wakil rakyat tidak mampu ngomong.

Persoalan di UU penistaan Agama dipakai sebagai alat takut-takutin orang, bahannya buat orang jadi bodoh takut bersuara.

Halaman
123
Penulis: Christian_Wayongkere
Editor: Alexander Pattyranie
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved