Petani Kelapa Demo ke PT Cargill, Ini yang Diharapkan Mereka

PT Cargill menjadi sasaran demo gabungan petani kelapa dari Kabupaten Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara, Rabu (21/11/2018).

Petani Kelapa Demo ke PT Cargill, Ini yang Diharapkan Mereka
TRIBUN MANADO/ANDREW PATTYMAHU
PT Cargill menjadi sasaran demo gabungan petani kelapa dari Kabupaten Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara, Rabu (21/11/2018). 

TRIBUNMANADO.CO.ID, AMURANG - PT Cargill menjadi sasaran demo gabungan petani kelapa dari Kabupaten Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara, Rabu (21/11/2018).

Mereka mendatangi perusahaan asal Amerika Serikat ini lantaran merasa harga kopra yang anjlok.

Selain melampiaskan kekesalannya kepada PT Cargill, para pendemo juga mengungkapkan keluh kesahnya kepada pemerintah.

Pasalnya sampai sekarang belum ada satupun aksi pemerintah yang signifikan atas anjloknya harga kopra.

Bahkan pemerintah terkesan pasrah dengan mengatakan sudah sesuai mekanisme pasar.

"Selama ini pemerintah selalu mengatakan pro pada masyarakat dan petani. Namun nyatanya disaat kopra jatuh, pemerintah provinsi hanya mengatakan sesuai pasaran dunia. Lalu dimana letak keberpihak. Padahal jumlah petani kelapa dan pekerja kelapa tidak sedikit di Sulut,"tutur koordinator aksi Roby Sangkoy pada wartawan harian ini.

Lanjut dia memintakan bila Gubernur Sulut Olly Dondokambey (OD) menarih perhatian dan siap membela petani, segera membuat regulasi yang menguntungkan petani.

contoh dengan memerintahkan agar minyak goreng sawit di larang masuk Sulut. Sehingga petani kelapa dapat beralih dari produksi kopra menjadi produsen minyak goreng.

"Kami tantang pak OD kalau memang masih memandang petani untuk membuat regulasi yang pro pada petani, khususnya petani kelapa. Masakkan Bupati Mitra bisa tidak mengizinkan Indomart dan Alfamart masuk untuk lindungi warung serta toko lokal, gubernur tidak bisa. Ingat petani kopra jumlahnya tidak kecil. Kalau tidak maka jargon membela wong cilik hanya omong kosong,"sebut Sangkoy yang biasa dipanggil Rosa.

Rosa juga mengkritik OD yang memerintahkan Wabup mengecek harga Crude Coconut Oil (CCO) di Belanda. Perintah ini seolah hanya men-justifikasi bahwa rendahnya harga kopra memang rendah. Sehingga akhirnya lepas tangan lantaran sudah sesuai mekanisme pasar.

"Kalau hanya mengecek harga, tidak perlu sampai ke Rotterdam. Terkesan hanya pembenaran saja. Diperlukan disini tindakan nyata dan tepat. Buatlah regulasi keberpihakan, di negara maju saja petani di proteksi. Masakkan hanya pengusaha perkebunan sawit saja yang boleh dilindungi. Kan petani kelapa Sulut juga warga Indonesia yang wajib dilindungi," pungkasnya.

(Tribun Manado/Andrew Alexander Pattymahu)

Penulis: Andrew_Pattymahu
Editor: Alexander Pattyranie
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved