BIN Sebut 50 Penceramah di Masjid Sebarkan Hate Speech: PKS Sebut BIN hanya Membuat Gaduh
Badan Intelijen Negara (BIN) menyatakan ada 50 penceramah di masjid lingkungan pemerintah yang menyebarkan
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Badan Intelijen Negara (BIN) menyatakan ada 50 penceramah di masjid lingkungan pemerintah yang menyebarkan konten kebencian.
Juru Bicara BIN, Wawan Hari Purwanto mengatakan konten cemarah yang disampaikan 50 penceramah tersebut bermuatan ujaran kebencian, mengkafir-kafirkan orang lain.
"Kita dorong ini lebih sejuk, kami semua berkoordinasi BIN dan kementerian/lembaga lain," ujar Wawan.
Wawan tidak menyebut secara jelas apakah penceramah tersebut terafiliasi dengan kelompok berajaran radikal tertentu atau tidak, namun yang pasti BIN terus melakukan pendalaman.
"Yang jelas ada penceramah seperti itu dan sudah kita dalami dan kita lakukan pendekatan-pendekatan supaya enggak lebih (jauh) lagi," papar Wawan.
Sebanyak 50 penceramah tersebut sudah terjadwal mengisi cemarah di 41 masjid lingkungan pemerintah di Jakarta, dimana berdasarkan survei Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) NU, 41 masjid tersebut terpapar paham radikal. "Sebenarnya ceramah bebas (tidak dibatasi materinya), tapi kita ada koridor enggak boleh intoleransi," ucapnya.
"Masjidnya tidak radikal, jadi penceramahnya, dan masjid di lingkungan pemerintah semua di Jakarta," tambah Wawan.
Menurutnya, masjid yang berada di kementerian/lembaga maupun BUMN perlu dijaga agar penyebaran ujaran kebencian terhadap kalangan tertentu melalui ceramah agama tidak mempengaruhi masyarakat dan mendegradasi Islam sebagai agama yang menghormati setiap golongan.
"Upaya BIN untuk memberikan early warning dalam rangka meningkatkan kewaspadaan, tetap menjaga sikap toleran dan menghargai kebhinekaan," tuturnya.
Selain itu, BIN juga melakukan pemberdayaan Da'i atau penceramah untuk dapat memberikan ceramah yang menyejukkan dan mengkonter paham radikal di masyarakat.
Kategori radikalisme tersebut, lanjut dia, dilihat dari konten yang dibawakan penceramah di masjid tersebut. Ia menuturkan, terdapat sekitar 50 penceramah dengan konten yang menjurus radikalisme.
"Jadi, konten ceramahnya yang kita utamakan, karena itu kan setahun sudah ada daftar penceramahnya, kalau masjidnya sih enggak ada yang radikal, tapi penceramahnya," terang dia.
Dia menuturkan, keberadaan masjid di lingkungan pemerintah seharusnya steril dari hal-hal yang berbau radikal. Hal tersebut merupakan salah satu upaya BIN menjaga persatuan di Indonesia.
Tidak hanya itu Badan Intelijen Negara (BIN) mencatat ada tujuh perguruan tinggi negeri terpapar paham radikalisme dan 39 persen mahasiswa di 15 provinsi tertarik ajaran tersebut. "Tujuh perguruan tinggi tersebut benar ada, kami sampaikan ke rektor untuk evaluasi, deteksi dini dan cegah dini," ujar Wawan.
Namun, Wawan enggan menyebutkan nama tujuh perguruan tinggi negeri tersebut karena hal tersebut bersifat rahasia dan menghindari ketakutan dari pihak orang tua yang anaknya belajar di kampus tersebut. Sementara 39 persen mahasiswa yang berminat paham radikal, kata Wawan, tingkatannya beragam dari rendah sampai tinggi ketertarikannya.
"Tapi lebih pada simpatisan, kalau dibiarkan nanti jadi empati dan partisipasi, pada tahap awal sudah kita upayakan terdeteksi, kita lakukan edukasi literasi," ujar Wawan.