Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Bagaimana Otak Mengingat Nomor Ponsel hingga Beda Selfie Sisi Kiri-Kanan? Begini Kata Ahli  

Manusia sebagai makhluk homosapien, berbudaya atau punya hidup terpola, mungkin tak lepas dari kemampuan mengingat.

Editor: Lodie_Tombeg
Internet
selfie 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Manusia sebagai makhluk homosapien, berbudaya atau punya hidup terpola, mungkin tak lepas dari kemampuan mengingat. Inilah yang membedakan kita dengan makhluk hidup lainnya seperti anjing dll.

Bayangkan Anda dalam keadaan mendesak, harus menghubungi seseorang, tapi daya handphone lemah. Anda hanya memiliki sedikit waktu untuk mengingat nomor teleponnya.

Saat seperti ini, hal yang dibutuhkan otak adalah memori kerja atau working memory. Ini merupakan sistem otak yang sangat bisa diandalkan untuk mengingat informasi penting untuk sementara.

Menurut neurolog atau ahli saraf Earl Miller dari MIT Picower Institute for Learning and Memory dan Christos Constantinidis di Wake Forest School of Medicine, memori kerja merupakan isi pikiran kita dan komponen inti dari fungsi kognitif yang berperan dalam perencanaan, bahasa, dan kecerdasan.

Keduanya sepakat bahwa memori kerja sangat penting untuk semua hal yang dilakukan otak. Seseorang yang memiliki masalah pada memori kerja sangat mungkin mengalami masalah gangguan otak seperti autisme dan skizofrenia.

Meski begitu, tentang bagaimana memori kerja melakukan tugasnya masih diperdebatkan oleh para ahli, terutama Miller dan Constantinidis.

Pro kontra para ahli Dilansir NPR, Minggu (4/11/2018), keduanya menyajikan bukti yang dapat menguatkan hipotesis masing-masing dalam pertemuan Society for Neuroscience di San Diego pekan lalu. Constantinidis mendukung apa yang disebut model memori kerja standar, model yang telah ada selama beberapa dekade.

Ia mengatakan, saat kita ingin menyimpan informasi baru dan penting seperti nomor telepon, neuron di bagian depan otak akan terus menembak dan bekerja sangat aktif. "Dan ini adalah aktivitas yang terus-menerus dari neuron di korteks prefrontal yang memungkinkan Anda untuk mempertahankan informasi dalam memori," kata Constantinidis.

Bila neuron berhenti bekerja, maka informasi tersebut dapat hilang sepenuhnya. Namun, gagasan ini langsung dibantah Miller. Ia berkata bahwa memori kerja tidak sesederhana itu.

Tim Miller menggunakan teknologi terbaru untuk mempelajari kelompok neuron dalam memori kerja. Mereka menemukan, tembakan yang dilakukan neuron tidak dilakukan terus menerus, tetapi hanya singkat dan terkoordinasi. "Ini mungkin terdengar biasa saja, tapi implikasi fungsionalnya sangat besar," tegas Miller.

Salah satu implikasinya, otak harus memiliki banyak cara untuk mempertahankan informasi dalam memori kerja selama aktivitas neuron bekerja aktif. Hipotesis Miller, neuron dalam memori kerja berkomunikasi dengan bagian otak yang lain, termasuk jaringan yang terlibat dalam memori jangka panjang.

Memori kerja melakukan komunikasi itu dengan menembakkan neuron bersama-sama pada frekuensi tertentu, yang meninggalkan "kesan" sementara dari informasi dalam jaringan luas sel-sel otak. Model Miller akan memungkinkan informasi dari memori yang bekerja untuk disimpan dalam bentuk laten, seperti memori jangka panjang disimpan.

Dan itu bisa menjelaskan bagaimana kita dapat mengingat nomor telepon. "Jika Anda menjatuhkan kopi saat sedang menelepon, aktivitas di otak akan beralih ke kopi yang jatuh. Dan karena ingatan ini disimpan dalam bentuk laten, mereka dapat diaktifkan kembali," terangnya.

Jika memori kerja benar-benar berinteraksi dengan bagian lain otak, itu bisa menjelaskan bagaimana area yang terlibat dalam perencanaan dan pengambilan keputusan dapat mengontrol informasi apa yang tetap dalam memori kerja dan apa yang dihapus. "Ini membuka teka-teki paling sulit. Namun pertanyaan paling menarik tentang memori kerja adalah bagaimana caranya kita mengendalikan pikiran kita sendiri?" tanya Miller.

Constantinidis mengakui, model memori kerja yang dikembangkan Miller sangat menarik dengan dasar teoritis sekaligus dapat menjelaskan beberapa hal yang sulit dijelaskan model standar.

"Masalahnya, sejauh ini belum ada bukti eksperimental yang menghubungkan variabel kritis dengan perilaku manusia," kata Constantinidis.

Constantinidis memberi contoh, percobaan laboratorium menunjukkan bahwa jumlah penembakan berirama yang terjadi tampaknya tidak banyak berpengaruh pada kinerja memori yang bekerja.

Juga pendapat Miller bahwa memori kerja terkait dengan memori jangka panjang tampaknya bertentangan dengan pengalaman dokter dengan pasien yang otaknya telah terluka, Constantinidis mengatakan.

"Kami memiliki kasus klinis pasien untuk siapa memori kerja sangat terganggu dan memori jangka panjang mereka masih utuh," katanya. Jadi untuk saat ini, Constantinidis tetap teguh pada pendiriannya dengan model standar. Namun, dia tetap menerima pandangan yang disampaikan Miller.

"Sebagai ilmuwan itulah yang kami lakukan," katanya. "Kami mencoba menggali suatu masalah dengan beragam teori dan itu menyenangkan," imbuhnya. Meski belum jelas bagaimana memori kerja melakukan tugasnya, semakin banyak eksperimen yang dilakukan para ahli saraf akan semakin menunjukkan kebenarannya.

Ilustrasi otak bekerja
Ilustrasi otak bekerja (kompas.com)

Alasan Payudara Kiri Lebih Besar daripada Kanan

Beberapa orang mengeluhkan payudara kiri yang ukurannya lebih besar dibanding yang kanan.

Bagaimana sains melihat hal ini dan menjelaskannya? Dr Jessica A. Shepherd, direktur Minimally Invasive Gynecology di University of Illinois, Chicago, mengatakan ada beberapa teori yang membahas tentang ukuran payudara yang berbeda antara kiri dan kanan. Salah satu teori mengungkap, perbedaan ukuran payudara kanan dan kiri disebabkan oleh faktor hormonal.

"Asimetri payudara biasanya terlihat pada masa pubertas, di mana ada payudara yang tumbuh lebih cepat dan merespons lebih banyak tingkat estrogen dibanding yang lain," ujarnya dilansir New Beauty, (29/9/2016).

Dilansir Menshealth (22/7/2016), penelitian di Turki mengungkap bahwa bagian tubuh sebelah kiri umumnya lebih tinggi sensitivitas dan imunitasnya.

Kondisi ini yang kemudian memengaruhi hormon, terutama hormon estrogen dalam memegang peranan penting pada ukuran payudara.

Selain itu, teori lain berkata bahwa payudara kiri lebih besar dibanding kanan karena letaknya di dekat jantung yang memiliki banyak pembuluh darah, urat nadi, dan lapisan lemak yang melindungi jantung.

Seorang ahli bedah plastik dari kota Grand Rapids, Michigan, Bradley Bengtson juga mengatakan bahwa payudara tidak simetris. "Salah satu profesor favorit saya pernah berkata bahwa payudara bukan kembar, keduanya bagai saudara.

Hal itu saya ingat dan itulah yang saya sampaikan pada pasien," ungkapnya. Jadi, jika payudara kiri lebih besar dari yang kanan, Anda tidak perlu khwatir.

Namun, jika Anda melihat ukuran payudara kanan dan kiri sangat berbeda dan tidak umum, penting untuk mewaspadai kemungkinan kanker payudara.

"Pastikan Anda berkonsultasi dengan dokter jika memiliki perubahan pada bentuk payudara dan bila Anda merasakan ada benjolan di sekitar payudara di bawah lengan," kata Shepherd.

Ilustrasi selfie berbahaya.
Ilustrasi selfie berbahaya. ()

Kenapa Sisi Kiri Wajah Lebih Bagus buat Selfie?

Pernahkah Anda memperhatikan wajah dengan seksama? Kalau diperhatikan baik-baik, sebagian besar wajah manusia tidak simetris atau tidak sama kanan-kiri. Tidak percaya? Coba saja Anda selfie, kemudian ambil sisi kanan dan kiri wajah. Perhatikan baik-baik, sisi kiri wajah mungkin lebih menarik dibanding yang kanan.

Mengapa demikian? Dalam studi psikologi yang menyelidiki apa yang disebut "sisi terbaik" wajah manusia, para ahli Australia menemukan bahwa sisi kiri wajah berhubungan dengan bagaimana otak kita memproses emosi. Fenomena ini kemudian disebut para ahli sebagai "left-side bias" atau bias sisi kiri.

Untuk menyelidiki sisi wajah mana yang sering ditunjukkan orang saat melakukan selfie, Annukka Lindell, dosen senior di bidang neuropsikologi eksperimental di La Trobe University, Melbourne, menjelajah instagam menggunakan hastag "selfie" (#selfie).

Mereka menganalisis 100 foto selfie terbaru yang dibagikan oleh 100 laki-laki dan 100 perempuan pengguna instagram. Ini artinya, ada 2.000 foto selfie yang diamati. Lindell mencatat ada 779 foto selfie atau 41 persen yang menampilkan sisi kiri wajah. Kemudian, orang yang selfie menampilkan sisi kanan wajah ada 686 foto.

Sedang sisanya, 535 foto diambil dari depan. "Kecenderungan untuk berulang kali melakukan pose yang sama saat selfie menunjukkan bahwa hal tersebut sudah menjadi kesadaran mana sisi terbaik," tulis Lindell dalam studi yang terbit di jurnal Frontiers in Psychology.

Dilansir The Independent, April 2017, hal yang ditemukan Lindell dalam pengamatannya itu persis seperti dugaan sebelumnya, di mana sisi kiri wajah lebih menarik karena dikendalikan otak bagian kanan yang bertanggung jawab pada emosi seseorang. Sebelum Lindell melakukan penelitiannya, ahli dari Wake Forest University di AS juga sempat meminta orang untuk menilai sebuah foto.

Mereka juga mengukur dilatasi pupil yang menunjukkan apakah seseorang tertarik pada sesuatu. Hasilnya sama seperti temuan yang dilakukan Lindell, di mana partisipan lebih menyukai saat melihat gambar yang menunjukkan pipi kiri karena kemampuannya menunjukkan ekspresi emosional. *

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Misteri Tubuh Manusia, Bagaimana Otak Mengingat Nomor Telepon?"

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved