Menhan Lieberman Kritik PM Netanyahu: Israel Kalah dari Hamas

Pertempuran 25 jam antara pejuang Hamas dan tentara Israel yang berujung gencatan senjata memaksa Menteri Pertahanan.

Menhan Lieberman Kritik PM Netanyahu: Israel Kalah dari Hamas
Timesofisrael.com
Menteri Pertahanan Israel Avigdor Liberman 

TRIBUNMANADO.CO.ID, TEL AVIV - Pertempuran 25 jam antara pejuang Hamas dan tentara Israel yang berujung gencatan senjata memaksa Menteri Pertahanan Israel, Avigdor Lieberman, mengumumkan mundur. Ia kembali melontarkan kritikan terhadap kabinet Israel.

Dalam pidato terakhirnya sebagai menhan, Lieberman menyoroti keputusan pemerintah menyepakati gencatan senjata dengan Hamas yang berkuasa di Jalur Gaza.

Dilansir Russian Today Sabtu (17/11/2018), Lieberman mengatakan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) harus terus melanjutkan operasi menumpas Hamas.

"Saat, kita tengah memberi makan monster. Jika kita tak menahan mereka, Hamas bakal menjadi kembaran Hezbollah, kata Lieberman.

Ucapan Ketua Partai Yisrael Beitenu itu merujuk kepada faksi yang berkuasa di Lebanon, dan mempunyai kedekatan dengan Iran yang notabene musuh Israel.

Lieberman juga menuduh ada menteri bermuka dua yang menyerangnya di kabinet dan juga media terkait janjinya pada 2016.

Saat itu, sebelum dilantik dia berjanji bakal membunuh Pemimpin Hamas Ismail Haniyeh dalam 48 jam jika jenazah anggota IDF tak diserahkan.

"Para menteri itu dalam wawancara di media terus berucap 'bagaimana tentang Haniyeh? bagaimana tentang 48 jam'," keluh Lieberman dikutip Haaretz. Sebelumnya pada Rabu (14/11/2018), Lieberman mengumumkan mundur sebagai menhan setelah Tel Aviv menjalin kesepakatan gencatan senjata dengan Hamas.

Gencatan senjata yang dimediasi Mesir itu terjadi setelah Israel dan Hamas terlibat baku tembak di Gaza pada Minggu (11/11/2018).

Lieberman mengkritik keputusan kabinet Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang menerima gencatan senjata itu sebagai "pernyataan kalah kepada teroris".

"Saat ini, pemerintah berusaha membeli perdamaian jangka pendek yang bakal memberi kerugian bagi negara ini di masa depan," lanjutnya.

Bersamaan dengan pengumuman pengunduran diri, Lieberman juga menyatakan partai Yisrael Beitenu meninggalkan koalisi Netanyahu.

Dengan demikian, saat ini pemerintahan Netanyahu tetap mayoritas, namun hanya unggul satu kursi saja di Knesset (Parlemen Israel).

Pemilihan umum rencananya digulirkan November 2019. Namun mundurnya Lieberman memunculkan kabar bakal terjadi pemilihan dini.

Israel melakukan serangan udara ke gedung Al-Aqsa TV di Jalur Gaza.
Israel melakukan serangan udara ke gedung Al-Aqsa TV di Jalur Gaza. ((AFP/BASHAR TALEB))

Kelompok Militan Gaza Umumkan Gencatan Senjata dengan Israel

Kelompok militan Palestina di Gaza mengumumkan gencatan senjata dengan Israel setelah terjadinya peningkatan kekerasan terburuk sepanjang tahun ini.

Proses gencatan senjata tersebut ditengahi oleh Mesir yang sebelumnya mendesak agar Israel menghentikan serangannya ke Jalur Gaza.

Dalam pernyataannya, kelompok militan di Palestina, termasuk Hamas, akan mematuhi gencatan senjata selama Israel melakukan hal yang sama.

"Upaya yang dilakukan Mesir telah mampu mencapai gencatan senjata antara kelompok perlawanan dengan musuh Zionis," kata kelompok-kelompok di Gaza dalam pernyataannya, Selasa (13/11/2018).

"Kelompok perlawanan akan menghormati deklarasi itu selama musuh Zionis juga menghormatinya," lanjut pernyataan itu, seperti dilansir AFP.

Kantor perdana menteri maupun militer Israel belum memberikan tanggapan atas pengumuman gencatan senjata tersebut. Namun Menteri Pertahanan Avigdor Lieberman mengatakan, dirinya secara pribadi tidak mendukung penghentian serangan.

Mesir telah menyerukan kepada Israel agar menghentikan aksi militernya di Gaza dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan Selasa malam.

Sementara Dewan Keamanan PBB dijadwalkan untuk bertemu secara tertutup untuk membahas peningkatan kekerasan di Gaza atas permintaan Kuwait dan Bolivia. Sumber diplomatik mengatakan, situasi saat ini masih tetap sangat genting dan dapat kembali memanas kapan saja.

"Apa yang telah kita lihat dalam 48 jam terakhir sangat berbahaya dan segala cara harus dilakukan demi menghindari terjadinya situasi yang sama," kata sumber tersebut.

Peningkatan kekerasan yang terjadi di Gaza selama dua hari terakhir telah menjadi kekerasan terburuk antara Israel dengan militan Palestina sepanjang tahun ini.

Setidaknya tujuh warga Gaza dilaporkan tewas dalam 24 jam ketika serangan yang dilancarkan militer Israel menghancurkan bangunan, memunculkan bola api dan gumpalan asap ke langit.

Puluhan ribu warga berlindung di tempat penampungan, sementara sekitar 460 roket dan mortir ditembakkan dari Gaza, melukai 27 orang, tiga di antaranya sangat parah. Serangan ke wilayah Gaza turut menghancurkan gedung stasiun televisi milik kelompok Hamas, Al-Aqsa TV.

Militer Israel mengaku menghancurkan gedung tersebut yang dikatakan telah berkontribusi dalam tindakan militer Hamas, termasuk menyampaikan pesan operasional kepada militan dan menyerukan aksi teror terhadap Israel.

Menhan Avigdor Liberman bertemu Kepala Staf IDF Gadi Eisenkot di markas IDF Tel Aviv sabtu.
Menhan Avigdor Liberman bertemu Kepala Staf IDF Gadi Eisenkot di markas IDF Tel Aviv sabtu. (Timesofisrael.com)

Menhan Israel Mengundurkan Diri

Menteri Pertahanan Israel Avigdor Lieberman mengumumkan pengunduran dirinya sejak gencatan senjata terjadi di Jalur Gaza. Tidak hanya mundur.

AFP melaporkan Rabu (14/11/2018), Lieberman juga menyerukan agar Israel melaksanakan pemilihan dini. Kelompok militan Palestina di Gaza mengumumkan gencatan senjata setelah kekerasan mengalami peningkatan kekerasan terburuk sepanjang 2018 ini. Proses tersebut dimediasi Mesir.

Hamas sebagai kelompok dominan di Gaza beserta milisi lainnya bersedia menghentikan serangan jika Israel juga melakukannya. Lieberman mengkritik keputusan kabinet Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang menerima gencatan senjata itu sebagai "pernyataan kalah kepada teroris". Dia juga mengeluhkan adanya upaya untuk membangun kepercayaan jangka panjang dengan Hamas.

"Apa yang terjadi sebelumnya adalah bentuk penyerahan kepada aksi teror. Tak ada yang lain," katanya. "Saat ini, pemerintah berusaha membeli perdamaian jangka pendek yang bakal memberi kerugian bagi negara ini di masa depan," lanjutnya.

Bersamaan dengan pengumuman pengunduran diri, Lieberman juga menyatakan partai yang dipimpinnya, Yisrael Beitenu, meninggalkan koalisi Netanyahu. Dengan demikian, saat ini pemerintahan Netanyahu tetap mayoritas, namun hanya unggul satu kursi saja di Knesset (Parlemen Israel).

Pemilihan umum rencananya digulirkan November 2019. Namun mundurnya Lieberman memunculkan kabar bakal terjadi pemilihan dini.

PM Netanyahu Selasa (13/11/2018) bersikukuh membela keputusannya menerima gencatan senjata dengan mengatakan dia menghentikan eskalasi yang bisa saja lebih buruk seperti Perang Gaza 2014.

"Dalam situasi darurat seperti ini, publik tak harus melihat bahwa keputusan ini merupakan bentuk sembunyi dari musuh," terang Netanyahu.

BBC memberitakan di Gaza, warga merayakan gencatan senjata sementara Pemimpin Hamas Ismail Haniya berkata itu adalah bentuk kemenangan.

"Kami berhasil melindungi diri dari agresi yang dilakukan Israel," tutur Haniya. Konflik terjadi setelah pasukan khusus Israel menyusup ke Gaza Minggu (11/11/2018).

Dalam misi mereka, pasukan khusus itu membunuh komandan Hamas Nour Baraka. Namun aksi mereka terbongkar dan memicu baku tembak dengan anggota Hamas lain.

Jet tempur Israel melakukan serangan udara untuk melindungi pasukan khusus itu kembali. Hamas membalas dengan menembakkan 460 roket ke wilayah selatan Israel.

Tujuh anggota Hamas termasuk Baraka tewas. Sementara Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyatakan satu prajurit mereka gugur.

Sementara Dewan Keamanan PBB dijadwalkan untuk bertemu secara tertutup untuk membahas peningkatan kekerasan di Gaza atas permintaan Kuwait dan Bolivia.

Sumber diplomatik mengatakan, situasi saat ini masih tetap sangat genting dan dapat kembali memanas kapan saja. *

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Menhan Israel kepada Hamas: Kami Memberi Makan Monster"

Editor: Lodie_Tombeg
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved