Berusia lebih dari 140 Tahun, Ini 6 Fakta Menarik Terusan Suez
Pada masa lalu, kapal dagang dari Laut Tengah membutuhkan waktu lebih lama saat hendak berlayar ke Samudera Hindia.
TRIBUNMANADO.CO.ID - Pada masa lalu, kapal dagang dari Laut Tengah membutuhkan waktu lebih lama saat hendak berlayar ke Samudera Hindia. Kapal-kapal itu harus mengitari Tanjung Harapan di Afrika Selatan terlebih dulu.
Baca: Inilah Gereja Antik Tempat Pernikahan Cristiano Ronaldo dan Georgina Rodriguez Nanti
Perancis di bawah komando Napolen Bonaparte akhirnya membuat inisiatif untuk membangun sebuah terusan atau kanal.
Terusan yang rencananya menghubungkan Laut Merah dan Laut Tengah memang dapat mempercepat waktu tempuh yang menguntungkan bagi para pedagang.
Adapun, terusan yang dibuat itu bernama Terusan Suez. Kini, Terusan Suez bisa digunakan oleh berbagai orang untuk melewati daerah itu dengan konsumsi waktu yang lebih cepat.
Berusia lebih dari 100 tahun, inilah beberapa fakta terkait Terusan Suez, dilansir dari History.com dan Britannica.com.
1. Dari Mesir Kuno
Terusan Suez yang dikenal saat ini merupakan "karya" paling baru dari beberapa saluran air buatan manusia yang pernah berkelok melintasi Mesir.
Firaun Mesir Senusret III bahkan telah membangun saluran awal yang menghubungkan Laut Merah dan Sungai Nil sekitar tahun 1850 SM.
Selain itu, ketika Mesir di bawah pemerintahan Dinasti Ptolomeus (305 SM-30 SM), sebuah kanal juga pernah dibuat untuk menghubungkan Danau Bitter ke Laut Tengah.
Dibuat juga kanal yang menghubungkan Danau Timsah ke utara hingga mencapai Sungai Nil. Namun karena tak dirawat dengan baik dan dihancurkan oleh alasan pertimbangan militer.
2. Pertimbangan Napoleon
Pada abad ke-15, bangsa Eropa membayangkan sebuah jalur pelayaran yang memungkinkan kapal-kapal dagang berlayar dari Laut Tengah ke Samudera Hindia lewat Laut Merah.
Sebab, hingga saat itu semua kapal dagang dari Laut Tengah harus mengitari Tanjung Harapan di Afrika Selatan yang secara otomatis membuat durasi perjalanan menjadi lebih panjang.
Setelah menaklukkan Mesir pada 1798, Napoleon Bonaparte mengirim tim surveyor dan secara pribadi untuk menyelidiki Tanah Genting Suez, kemudian membangun kanal dari Laut Merah ke Laut Tengah.
Perancis kemudian membuat studi lanjutan terkait pembangunan kanal ini dan pada 1854 Ferdinand de Lesseps, mantan konsul Perancis di Kairo, membuat kesepakatan dengan gubernur Ottoman di Mesir untuk membangun sebuah kanal.
3. Patung Liberty dibangun untuk Terusan Suez
Ketika Terusan Suez hampir selesai pada 1869, pematung Prancis Frédéric-Auguste Bartholdi mencoba meyakinkan Ferdinand de Lesseps dan Pemerintah Mesir untuk membiarkan dia membangun patung yang rencananya ditempakan di "pintu masuk" terusan itu.
Terinspirasi oleh Colossus of Rhodes, Bartholdi membayangkan patung setinggi 27 meter sebagai seorang wanita yang menggunakan jubah petani ala Mesir dan memegang obor besar. Fungsinya adalah sebagai mercusuar memandu kapal menuju ke kanal.
Namun, karena terkendala suatu hal, proyek ini tidak pernah terwujud. Bartholdi terus merealisasikan idenya untuk patungnya.
Pada 1886, ia akhirnya meluncurkan versi lengkap di New York Harbor. Secara resmi disebut "Liberty Enlightening the World," monumen itu sejak itu menjadi lebih dikenal sebagai Patung Liberty.
4. Inggris pernah menentang pembangunan
Perencanaan untuk Terusan Suez dimulai pada 1854 ketika Ferdinand de Lesseps, seorang diplomat Perancis dan arsitek, sedang berbicara tentang kesepakatan dengan raja muda Mesir untuk menciptakan Terusan Suez.
Dengan proposal yang didukung dan didukung oleh Kaisar Perancis Napoleon III, politisi Inggris menganggapnya sebagai sebagai skema politik yang diciptakan melemahkan dominasi pelayaran global mereka.
Pada 1875, Inggris menjadi pemegang saham terbesar di Perusahaan Terusan Suez ketika membeli saham gubernur Ottoman yang baru di Mesir.
Setahun kemudian, terusan ini menjalani beberapa perbaikan dan menjadikan satu pelayaran paling sibuk di dunia. Banyak kapal-kapal yang melewati jalur ini untuk mempercepat waktu tempuh.
5. Penciptanya mencoba membangun Terusan Panama
Setelah berhasil menyelesaikan Terusan Suez, Ferdinand de Lesseps mengembangkan gagasan membangun kanal lain di atas Tanah Genting Panama di Amerika Tengah.
Didorong oleh keberhasilan sebelumnya, para investor dan pemerintah memberikan dukungan kepadanya untuk lebih maju. Ferdinand Lesseps merekrut arsitek dan insinyur Gustave Eiffel, pencipta Menara Eiffel.
Ferdinand de Lesseps telah berjanji bahwa membangun Terusan Panama akan lebih mudah dan lebih cepat daripada Suez.
Proyek ini dimulai pada tahun 1881, dua belas tahun setelah Terusan Suez selesai, tetapi mengalami banyak kegagalan dan kemalangan di bawah manajemen Lesseps, termasuk penyakit menyebabkan kematian bagi banyak pekerja.
Perusahaan Lesseps jatuh pada tahun 1889. Sementara dia dan Eiffel dituntut karena persekongkolan dan penipuan.
6. Kombinasi pekerja paksa dengan mesin
Membangun terusan ini membutuhkan tenaga kerja yang besar. Pemerintah menyediakan tenaga kerja dengan memaksa orang miskin untuk bekerja dengan upah minimal dengan ancaman kekerasan.
Dimulai pada akhir 1861, puluhan ribu petani menggali bagian awal kanal dengan tangan dan peralatan seadanya. Perkembangan sangat lambat dan memakan banyak korban.
Dihadapkan dengan kekurangan pekerja yang kritis, Lesseps dan Perusahaan Saluran Terusan Suez mengubah strategi mereka dengan mulai menggunakan beberap kapal keruk bertenaga uap dan bertenaga batubara untuk menggali kanal.
Teknologi baru memberi dorongan yang dibutuhkan proyek itu, dan perusahaan itu terus membuat kemajuan pesat selama dua tahun terakhir konstruksi.
17 November 1869, Terusan Suez Resmi Dibuka...
Pembangunan kanal atau terusan penting untuk memperlancar laju transportasi, menunjang perdagangan, dan bahkan bisnis. Terusan ini mampu mempercepat waktu tempuh sehingga mampu meningkatkan perekonomian.
Hari ini 149 tahun yang lalu, tepatnya 17 November 1869, terusan yang terletak di kota Port Said atau Terusan Suez, akhirnya resmi dibuka dan beroperasi. Peresmiannya dihadiri oleh Ratu Perancis, Eugenie, istri Napoleon III.
Pembukaan Terusan Suz menghubungkan laut Merah dan Laut Tengah sehingga bisa mempersingkat waktu pelayaran yang sebelumnya harus mengelilingi Tanjung Harapan, Afrika Selatan.
Tahap awalSebenarnya, sejak zaman kuno kanal buatan untuk menghubungkan Asia dan Afrika yang melalui wilayah Suez sudah berulang kali dibuat.
Saat Mesir di bawah pemerintahan Dinasti Ptolomeus (305 SM-30 SM), sebuah kanal dibuat untuk menghubungkan Danau Bitter ke Laut Tengah. Dibuat juga kanal yang menghubungkan Danau Timsah ke utara hingga mencapai Sungai Nile.
Namun, kanal itu tak dipelihara dengan baik dan dihancurkan dengan alasan pertimbangan militer.
Ada sebuah rencana pada abad 15 ketik bangsa Eropa membayangkan sebuah jalur pelayaran yang memungkinkan kapal-kapal dagang berlayar dari Laut Tengah ke Samudera Hindia lewat Laut Merah.
Kendala yang terjadi ketika itu semua kapal dagang dari Laut Tengah harus mengitari Tanjung Harapan di Afrika Selatan yang memakan waktu panjang.
Akhirnya, penguasa Perancis di bawah komando Napoleon Bonaparte membuat rencana untuk membangun kembali kanal tersebut. Arsitek Ferdinand de Lesseps diberikan wewenang untuk mempersiakan konstruksi pembangunan itu.
Kesepakatan dengan Otoritas Mesir mulai dilakukan pada 1854 untuk membuat terusan ini untuk kepentingan bersama sejauh 160 kilometer.
Tim internasional yang terdiri dari banyak pakar membuat rencana pembangunan dan pada 1856 perusahaan terusan Suez dibentuk.
Dilansir dari History.com, konstruksi dimulai pada April 1859 dengan penggalian pertama dilakukan oleh para pekerja paksa. Para pekerja yang berasal dari Eropa mulai datang dengan membawa kapal keruk dan sekop tenaga uap.
Wabah kolera dan perselisihan tenaga kerja menjadikan pembangunan terusan ini tak sesuai dengan jadwal. Pembangunan ini mundur empat tahun dari jadwal semua yang direncanakan.
Mundur empat tahun
Pembukaan Terusan Suez ini mundur beberapa tahun karena terdapat kendala. Namun akhirnya, terusan ini tetap dibuka untuk kepentingan bersama.
Menurut History.com, ketika dibuka Terusan Suez hanya memiliki kedalaman 7,6 meter dengan lebar 72 meter pada bagian bawah dan 60-90 meter pada bagian atasnya.
Hasilnya, lebih dari 500 kapal beroperasi menggunakan jasa dari kanal ini pada tahun pertama.
Pada 1875, Inggris menjadi pemegang saham terbesar di Perusahaan Terusan Suez ketika membeli saham milik gubernur baru di Mesir, yang saat itu di bawah kekuasaan Kesultanan Ottoman.
Setahun kemudian, Terusan Suez menjalani beberapa perbaikan dan menjadi satu pelayaran paling sibuk di dunia. Banyak kapal-kapal yang melewati jalur ini untuk mempercepat waktu tempuh.
Tujuh tahun kemudian, Inggris menginvasi Mesir dan menduduki negeri itu hingga perjanjian 1936 yang membuat Mesir menjadi negara merdeka. Akan tetapi, Terusan Suez tetap dalam kendali Inggris.
Setelah Perang Dunia II usai, Pemerintah Mesir mendesak agar pasukan Inggris ditarik mundur dari kawasan Terusan Suez. Situasi itu disusul dengan keputusan Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser yang menasionalisasi terusan tersebut pada 1956.
Tujuan nasionalisasi itu adalah untuk mendapatkan penghasilan dari Terusan Suez, agar dapat digunakan membangun sebuah bendungan raksasa di Sungai Nil.
Akibat nasionalisasi itu, pada Oktober 1956 pasukan Israel melakukan invasi disusul kedatangan pasukan Inggris dan Perancis di awal November untuk menguasai zona terusan itu.
Di bawah tangan PBB, akhirnya Inggris dan Perancis menarik mundur pasukannya pada Desember 1956 dan pasukan Israel mundur pada Maret 1957.
Saat itu, Pemerintah Mesir secara penuh mengendalikan Terusan Suez dan membukanya kembali untuk pelayaran internasional.
Kepemilikan secara utuh menjadikan Mesir mendapatkan penghasilan lebih. Pada 1966, Terusan Suez dilewati lebih dari 21.000 kapal.
Kurang lebih ada 10.000 tanker melewatinya, yang rata-rata dilewati 56 kapal setiap harinya. Alhasil, penghasilan Mesir lebih dari 200 juta dollar AS ketika itu.
Terusan Suez kembali ditutup saat Perang Enam Hari pecah dan Israel menduduki Semenanjung Sinai. Selama delapan tahun berikutnya, Terusan Suez yang memisahkan Sinai dari wilayah lain Mesir menjadi garis depan perang antara Israel dan Mesir.
Pada 5 Juni 1975, Terusan Suez dibuka kembali. Pembukaan kembali itu menyusul kesepakatan pemisahan kedua antara Israel dan Mesir di mana Israel menarik pasukannya.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "17 November 1869, Terusan Suez Resmi Dibuka...", https://internasional.kompas.com/read/2018/11/17/12243701/17-november-1869-terusan-suez-resmi-dibuka.
Penulis : Aswab Nanda Pratama
Editor : Bayu Galih
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/ini-6-fakta-menarik-terusan-suez.jpg)