Dua Anak Terbangun saat Ayah-Ibunya Dibunuh: Mencekik hingga Tewas
Pembunuhan keji menimpa empat orang dalam satu keluarga di Bekasi, Jawa Barat, dilakukan Haris Simamora.
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Pembunuhan keji menimpa empat orang dalam satu keluarga di Bekasi, Jawa Barat, dilakukan Haris Simamora, seorang diri. Ia menggunakan linggis besi memukul tubuh Diperum Nainggolan (38), dan Maya boru Ambarita (37), istrinya. Anak korban, Sarah boru Nainggolan (9) dan Arya Nainggolan (7), sempat terbangun. Haris berusaha menenangkan, kemudian mencekik mati. Motif kejahatan karena pelaku dendam.
Wakil Kepala Polda Metro Jaya Brigjen Pol Wahyu Hadiningrat, mengatakan, Haris membunuh Diperum Nainggolan sekeluarga saat para korbannya tengah tertidur. Haris tiba di rumah korban sekitar pukul 21.00 WIB hari Senin (12/11). Ia telah terbiasa menyambangi kediaman korban sehingga memasuki rumah tanpa mencongkel pintu.
"Jadi pembunuhan dilakukan sekitar pukul 23.00 WIB saat Diperum dan istrinya, Maya boru Ambarita tertidur di ruang tamu," ujar Wahyu, saat konferensi pers di Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (16/11).
Haris adalah keluarga dari Maya boru Ambarita. Dia juga pernah bekerja menjaga kos-kosan milik Douglas Nainggolan. Belakangan pengelolaan rumah kos dan warung diserahkan Douglas kepada adiknya, Diperum. Walau tidak bekerja mengelola rumah kos, Haris masih kerap tidur di sana.
Haris mengaku membunuh Diperum dan istrinya terlebih dahulu menggunakan sebatang linggis, besi. Malam nahas itu, kedua anak korban, tidur dalam kamar. Tiba-tiba saja kedua anak Diperum, Sarah dan Arya terbangun dan berjalan keluar kamar, mungkin mendengar suara berisik atau erangan kesakitan ayah dan ibunya, digebuk linggis. "Pengakuan sementara pelaku, kedua anak korban dicekik hingga tewas. Tapi kami masih kembangkan," lanjut Wahyu.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono, Sarah dan Arya mengimbuhkan, sempat berjalan keluar kamar tidur untuk melihat kondisi kedua orangtuanya di ruang tamu. Namun, Haris menghalangi langkah kedua keponakannya itu dan meminta mereka kembali tidur. "Haris menenangkan dua anak Diperum dan bilang, 'Tidur lagi sana, Mama cuma sakit kok'," ujar Argo.
Haris juga membimbing Sarah dan Arya menuju tempat tidurnya dan menidurkan murid sekolah dasar tersebut. Namun saat keduanya mulai kembali tertidur, Haris justru mencekik keduanya hingga tewas, Selasa (13/11) dini hari. Setelah membunuh keempat korban, Haris kemudian pergi menggunakan mobil Nissan X-Trail yang terparkir di depan rumah korban.
Polisi kini berhasil mengungkap motif pembunuhan yang dilakukan Haris terhadap keluarga Diperum Nainggolan. Ternyata HS sakit hati karena pekerjaannya sebagai penjaga kosan diambil Diperum Nainggolan. Pemilik kosan itu sendiri adalah Douglas Nainggolan, abang kandung Haris.
"Pelaku sakit hati karena korban ini pengelola kos. Beberapa waktu yang lalu pengelolanya adalah pelaku," ujar Brigjen Pol Wahyu Hadiningrat.
Meski tidak lagi bekerja sebagai pengelola kos, HS masih sering menginap di kosan tersebut. Selama menginap di sana, HS mengaku kerap dimarahi korban. "Tersangka ini sering dihina-hina. Kadang-kadang kalau di situ dibangunkan dengan kaki," ungkap Kombes Argo Yuwono.
Hal tersebut lah yang membuat emosi korban tersulut sehingga memutuskan untuk menghabisi korban, warga Jalan Bojong Nangka 2, Pondok Melati, Bekasi, Selasa (13/11). Haris mengaku nekat membunuh lantaran sering dimarahi korban.
Polisi masih mencari sebilah linggis yang diakui Haris sebagai alat untuk membunuh Diperum dan keluarganya, yaitu sang istri Maya Boru Ambarita (37) dan kedua anaknya, Sarah Boru Nainggolan (9) dan Arya Nainggolan (7).
Menurut keterangan Haris, batang besi tersebut dibuangnya ke sungai atau Kalimalang. "Kami sudah melakukan pencarian kemarin, namun arus sungai sangat deras dan pencarian kami hentikan sementara," kata Argo.
Polisi telah menetapkan Haris sebagai tersangka pembunuhan satu keluarga di Bekasi. Polisi juga sudah melakukan penahanan. Kombes Argo mengatakan, dari hasil penyelidikan, Haris membunuh keluarga Diperum Nainggolan seorang diri. "Untuk sementara itu. Sementara yang bersangkutan sendiri (melakukan pembunuhan)," ujar Argo.
Meski demikian, polisi masih mengembangkan penyidikan untuk memastikan ada tidaknya tersangka lain dalam kasus ini. "Nanti kami masih pengembangan ke (tersangka) yang lain," tuturnya.
Rabu lalu sekitar pukul 22.00 WIB polisi menangkap HS di kaki Gunung Guntur, Garut, Jawa Barat. Saat diamankan dia tengah berada di sebuah gubuk kecil atau saung tempat para pendaki beristirahat. Ia mengaku hendak mendaki gunung malam itu, untuk menenangkan jiwa dan pikrian.
Polisi kemudian menggeledah tas HS dan menemukan sebuah ponsel, uang senilai Rp 4 juta, dan kunci mobil Nissan X-Trail yang raib dari rumah korban dan terparkir di kosnya. HS kemudian digelandang ke Jakarta untuk diperiksa secara intensif. Polisi telah menahan Haris dan menetapkannya sebagai tersangka pembunuhan.
Terancam Hukuman Mati
Menurut Wakapolda, Brigjen Wahyu Hadiningrat, HS telah merencanakan pembunuhan dengan motif dendam karena kerap menerima marah dan hinaan dari korban. Haris mersa sering dihina. Kadang-kadang dibangunkan Diperum menggunakan kaki.
Tindakan tersebut membuat emosi haris tersulut sehingga memutuskan membuat rencana menghabisi korban. "Dia sudah merencanakan pembunuhan beberapa hari sebelumnya karena merasa sakit hati dengan korbannya," ujar Wakapolda Brigjen Wahyu.
Wahyu melanjutkan, atas perbuatannya, Haris terancam hukuman mati. "Tindak pidana yang terjadi yaitu pembunuhan berencana dan pencurian dengan kekerasan yang menyebabkan kematian, di mana pasal yang diterapkan adalah 365 ayat 3, kemudian 340 dan 338 KUHP dengan ancaman hukuman mati. Jadi dia (HS) terancam hukuman pidana mati," ujar Wakapolda Metro Jaya Brigjen Pol Wahyu Hadiningrat.
Haris mengaku dalam kondisi sadar saat membunuh keluarga Diperum Nainggolan. "Pengakuannya dia sadar ya (melakukan pembunuhan)," ujar Wahyu. Wahyu memastikan Haris tidak dalam pengaruh minuman keras atau obat-obatan terlarang saat melakukan pembunuhan.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, Haris dinyatakan normal secara psikologis. "Pelaku ini normal karena dia juga pernah bekerja di situ, mengawasi kos-kosan. Namun, kami tetap akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut," kata Wahyu.
Haris Naik Gunung Menenangkan Diri
Tersangka pelaku pembunuh satu keluarga di Bekasi, Haris Simamora akhirnya diperlihatkan ke publik oleh pihak kepolisian saat rilis pengungkapan kasus ini di Mapolda Metro Jaya, Jumat (16/11). Haris yang masih berumur 23 tahun tampak mengenakan baju tahanan berwarna oranye. Dia diapit petugas kepolisian yang bersenjata lengkap.
Haris hanya menunduk selama jalannya rilis tersebut. Dia tidak mau melihat awak media yang melancarkan pertanyaan. Seusai rilis, Haris kembali dibawa ke ruang tahanan. Ia tidak menjawab satu pun gelontoran pertanyaan yang dilayangkan awak media.
Polisi menyebut HS sebagai terduga pelaku pembunuhan sadis ini. HS diamankan di sebuah saung saat akan melakukan pendakian di Gunung Guntur di Garut pada Rabu (14/11) malam. Dari tangan HS polisi mengamankan sejumlah barang bukti, salah satunya kunci mobil X-Trail tersebut.
Wakapolda Metro Jaya, Brigjen Pol Wahyu Hadiningrat, mengungkapkan Haris mengaku hobi mendaki gunung. "Berdasarkan keterangannya memang pelaku ini hobinya naik gunung. Jadi maksudnya untuk menenangkan diri jadi dia naik gunung," ujar Wahyu di Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (16/11).
Sebelum mendaki gunung, dia sudah keburu ditangkap pihak kepolisian. Polisi menangkap saat dirinya sedang beristirahat di sebuah saung atau gubuk. "Tapi sebelum naik sudah ketangkap pada saat dia persiapan naik, tidur di saung itu sudah ditangkap," kata Wahyu.
Bukti dan fakta di lapangan, mengarah kuar pada Haris sebagai tersangka. Polisi menemukan sejumlah bercak darah di mobil Nissan X-Trail yang dikendarai Haris Simamora, pria terduga pelaku pembunuhan satu keluarga di Bekasi, Jawa Barat.
Mobil tersebut merupakan kendaraan yang raib dari kediaman korban setelah pembunuhan terjadi. Mobil ternyata dikendarai Haris dan diparkirkan di sebuah indekos di kawasan Cikarang, Jawa Barat.
"Nanti kami cek hasil labfor, karena tadi pagi kami sudah melakukan olah TKP di mobil, ternyata kami temukan HP korban dua buah ada di situ, ada darahnya di HP tersebut lalu kami ambil untuk labfor," papar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono.
Argo mengatakan, bercak darah juga ditemukan di gagang pintu kanan mobil dan di karpet bagian bawah kursi pengemudi. "Lalu di pedal gas ada darah. Itu juga kami ambil semuanya. Kemudian juga ada di seat belt ada darah, kami ambil," tuturnya.
Argo Yuwono menyebut selain menggeledah mobil Nissan X-Trail yang dikendarai Haris, terduga pembunuh satu keluarga di Bekasi, polisi juga menggeledah kamar indekos HS di Cikarang. Di dalam kamar, polisi menemukan bercak darah di celana hitam milik HS.
"Di kamarnya ditemukan celana warna hitam panjang yang ada darahnya. Ini semua sudah kami ambil darahnya sebagai sampel dan akan kami cocokkan. Nanti labfor menggunakan pemeriksaan ilmiah," ujar Argo.
Saat ini polisi tengah mencocokkan apakah bercak-bercak darah yang ditemukan identik dengan darah para korban. Sebelumnya, bercak darah juga ditemukan di tubuh keluarga Diperum Nainggolan (38) yang didapati tewas di rumahnya, Jalan Bojong Nangka II, Kelurahan Jatirahayu, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, Jawa Barat, Selasa (12/11) pagi. (tribunnews/fah/rio)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/isak-tangis-kerabat-korban-pembunuhan-bekasi-tunjukkan-pembunuhnya-tuhan.jpg)