Sabtu, 25 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Hari Belanja Online Kerek Transaksi Bank: Tren Transaksi e-Commerce Meroket

Tren belanja masyarakat yang beralih ke arah digital ditandai maraknya e-commerce menjadi berkah

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
ing.be
Ilustrasi 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Tren belanja masyarakat yang beralih ke arah digital ditandai maraknya e-commerce menjadi berkah bagi industri perbankan.

Sebab bisnis produk sistem pembayaran perbankan seperti kartu debit, kartu kredit, maupun virtual account ikut terangkat. Apalagi e-commerce gencar menggelar bazar diskon dengan program diskon, seperti hari belanja 11.11 akhir pekan lalu.

Direktur Bank Central Asia (BCA) Santoso Liem mengatakan, tren kenaikan transaksi di segmen ini cukup bagus yakni di atas 50% secara tahunan.

Ambil contoh lonjakan transaksi pada hari belanja 11.11 lalu terjadi kenaikan volume transaksi 3,43 kali dari hari-hari biasa di e-commerce.

Melalui transaksi e-commerce seperti ini, Santoso menyebut bank sebagai acquiring mendapatkan dua keuntungan. Pertama, bank mendapatan pendapatan non bunga atau fee based income untuk setiap transaksi.

Kedua, dana yang terhimpun lewat masing-masing e-commerce menjadi dana pihak ketiga (DPK) bagi bank.
Meski transaksi bisnis e-commerce tumbuh cepat, Santoso bilang secara nilai transaksi kontribusi di toko masih mendominasi.

"Pertumbuhan transaksi di toko menggunakan kartu debit dan kartu kredit sekitar 15%. Sementara pertumbuhan transaksi e-commerce tumbuh lebih tinggi, tapi porsinya masih sekitar kurang dari 10% dari total bisnis ritel," imbuh Santoso.

Kerja sama merchant

Senior Vice President Transaction Banking and Retail Sales Bank Mandiri Thomas Wahyudi menuturkan, sampai kuartal III-2018 jumlah transaksi e-commerce di Bank Mandiri sebanyak 6 juta transaksi dengan volume Rp 17,5 triliun.

Pertumbuhan jumlah transaksi ini 175% yoy sedangkan volume transaksi tumbuh lebih dari 300% yoy.
Hasil ini didukung antara lain oleh transaksi di marketplace, online travel agent dan online retail yang bekerjasama dengan Bank Mandiri.

Kontribusi hari belanja online seperti 11.11 juga cukup baik. Lonjakan transaksi pada channel pembayaran Bank Mandiri sekitar 44% dari hari biasa di hari tersebut. Dalam sehari nilai transaksi hampir Rp 200 miliar.

General Manager Divisi Jasa Transaksional Perbankan Bank Negara Indonesia (BNI) Teddy Wishadi mengatakan, pada hari belanja online 11.11 tahun 2018, nilai transaksi e-commerce BNI tumbuh 277,48% menjadi Rp 99,09 miliar dibanding event serupa tahun lalu.

Di hari belanja nasional 12.12 bulan depan, BNI akan mempersiapkan sistem untuk antisipasi lonjakan.

Transaksi Kartu Perbankan

Transaksi Kartu Kredit

Jan-Sep 2017
Jan-Sep 2018
YOY

Tunai
Volume
6.033.400
5.983.343
-0,83%

Nominal
6.612.809
6.636.399
0,36%

Belanja
Volume
236.222.116
243.828.303
3,22%

Nominal
213.098.538
222.142.087
4,24%

Transaksi Kartu Debit

Jan-Sep 2017
Jan-Sep 2018
YoY

Tunai
Volume
2.554.523.333
2.822.078.479
9,48%

Nominal
1.875.374.526
2.085.091.473
10,05%

Belanja
Volume
365.063.944
421.778.269
13,44%

Nominal
209.443.589
215.181.106
2,66%

Sumber: Bank Indonesia (BI)

Tertekan Bank Bermodal Jumbo, Aset Bank Kecil Tergerus

Dominasi perbankan bermodal jumbo semakin kuat. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per September 2018, aset bank umum kelompok usaha IV (BUKU IV) dan BUKU III berhasil tumbuh masing-masing sebesar 10,32% year on year (yoy) BUKU IV dan 10,24% yoy untuk BUKU III. Dalam tiga tahun terakhir, aset kelompok bank dalam kategori tersebut masih mampu bertumbuh.

Namun kondisi tersebut tidak terjadi pada bank kecil yang masuk kategori bank BUKU I dan BUKU II. Per September 2018, aset bank BUKU I yang bermodal inti kurang dari Rp 1 triliun hanya tumbuh 5,57% yoy. Aset bank BUKU II yang bermodal inti Rp 1 triliun hingga
Rp 5 triliun malah turun 3,55% yoy.

PT Bank Dinar Internasional Tbk misalnya, sampai Oktober 2018 mencatatkan aset sebesar Rp 2,35 triliun atau menyusut 1,55% yoy dari Rp 2,38 triliun.

Direktur Utama Bank Dinar Hendra Lie mengatakan, salah satu penyebab karena semakin ketatnya persaingan dengan bank besar di tengah tren suku bunga yang terus menanjak.

Belum lagi, perebutan dana pihak ketiga (DPK). Agar tetap bisa mempertahankan pertumbuhan DPK, Bank Dinar terpaksa meningkatkan tingkat suku bunga simpanan.

Langkah itu tetap jasa belum ampuh. DPK Bank Dinar hanya mampu dijaga stagnan sebesar Rp 1,8 triliun per Oktober 2018 yoy.

Namun Hendra optimistis aset akan tumbuh. "Salah satu alasannya terkait rencana merger Bank Dinar dan Bank Oke yang ditargetkan rampung tahun ini," ujar Hendra, Selasa (13/11).

Aset PT Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara (Bank Sumut) juga turun. Sekretaris Perusahaan Bank Sumut Syahdan Siregar mengungkapkan, total aset Bank Sumut per Oktober 2018 mencapai Rp 32,8 triliun turun 7,14% yoy.

Permintaan kredit yang melambat menjadi salah satu penyebabnya. Meski begitu, sampai akhir tahun ini Syahdan optimistis setidaknya aset sebesar Rp 31,07 triliun di tahun ini atau tumbuh 7,39% secara yoy dengan masuknya DPK dari dana proyek pemerintah.

Bali Hai Mengincar Peluang Ekspor

Produsen minuman beralkohol PT Bali Hai Brewery Indonesia ingin memperbesar pasar ekspor. Sejauh ini, mereka sudah menjamah 20 negara tujuan ekspor sepeti Korea Selatan, Malaysia, Jepang, Rusia hingga negara-negara di kawasan Eropa dan Afrika.

Bali Hai Brewery beroperasi sejak tahun 1975. Pada 1995, perusahaan tersebut mulai merambah pasar ekspor. Ada empat merek produk besutan Bali Hai, yang meliputi Bali Hai Premium, Draft Beer, El Diablo dan Panther Black.

Namun manajemen Bali Hai Brewery tak secara gamblang mengungkapkan komposisi penjualannya. Mereka hanya menggambarkan, porsi penjualan ekspor masih mini.

"Namun kami membuka kesempatan untuk mengeksplorasi, harapannya brand Bali Hai selalu mendapatkan tempat spesial di rumah sendiri dan dicari para penikmat bir mancanegara," ujar Erwin Ruffin, Marketing Manager PT Bali Hai Brewery Indonesia, dalam kunjungan pabrik, Selasa (13/11).

Yang pasti, Bali Hai Brewery tidak membedakan segmen dan lokasi produksi untuk kebutuhan pasar ekspor dan domestik. Semua aktivitas pembuatan minuman beralkohol berlangsung di Bekasi, Jawa Barat.

Pabrik yang menempati area seluas 5 hektare (ha) tersebut berkapasitas produksi sebanyak 500 juta hekto liter per tahun.
Saban hari, Bali Hai Brewery memproduksi 20.000 karton atau 240.000 botol bir.

Perusahaan itu memproduksi merek bir berbeda setiap hari, sesuai dengan permintaan pasar. Adapun dalam sehari, mesin produksinya mampu menggiling 50 ton bahan baku malt dan hops.

Bali Hai Brewery mengklaim, penjualan domestiknya kini tumbuh 10% per tahun. "Untuk antisipasi persaingan, kami menampilkan produk yang mempunyai karakter sendiri-sendiri," kata Erwin. (Agung Hidayat/Marshall Sautlan/Maizal Walfajri)

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved