Produsen Rokok Elektrik Ini Jajaki Pasar Indonesia karena Sulit Berjualan di AS dan Israel

Sedangkan Indonesia adalah salah satu negara dengan tingkat perokok dewasa dan remaja pria tertinggi di dunia

NET
Ilustrasi 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Juul Labs Inc, perusahaan pembuat alat rokok elektrik atau vape, menjajaki kemungkinan menjual peralatan rokok elektrik di Asia.

Perusahaan itu bahkan sudah mengungkapkan kepada pemerintah Indonesia tentang minatnya, meski akan banyak tantangan untuk mendapat persetujuan.

Laporan Reuters, Selasa (13/11), menyebut, perwakilan Juul sudah mengadakan pembicaraan dengan pemerintah Indonesia bulan lalu untuk memperkenalkan peralatan rokok elektrik, kata para pejabat Kementerian Keuangan.

Juul, perusahaan yang berbasis di San Francisco, sedang mengincar ekspansi ke Asia karena menghadapi aturan ketat di AS dan Israel mengenai potensi risiko rokok elektrik pada kesehatan. 

Baca: Warning! Kandungan Zat di Rokok Elektrik Masuk Daftar Narkoba Jenis Baru

Sedangkan Indonesia adalah salah satu negara dengan tingkat perokok dewasa dan remaja pria tertinggi di dunia.

Di Indonesia tidak berlaku sanksi untuk penjualan rokok kepada anak di bawah umur.

Sumber Reuters yang mengetahui rencana Juul mengatakan, para eksekutif perusahaan khawatir pemerintah Indonesia mungkin akan enggan memberikan izin karena ada tentangan dari industri rokok tradisional, yang menyumbang pemasukan pajak besar. 

Cukai rokok menyumbang Rp 150 triliun atau 11 persen dari pendapatan pajak pada 2017, menurut data pemerintah. Ditambah lagi, setiap provinsi masing-masing juga menerapkan cukai rokok.

Baca: Paru-paru tak Bisa Tolerir Rokok Elektrik! Asapnya Hancurkan Sel

Perwakilan Juul menemui Kementerian Keuangan untuk membahas bagaimana mengatur pajak untuk penjualan alat rokok elektrik, kata para pejabat kementerian.

Pemerintah harus mempelajari pasar rokok elektrik domestik untuk menentukan bagaimana pemain asing, seperti Juul, bisa merugikan perusahaan-perusahaan rokok elektrik lokal yang padat karya, kata Sunaryo, pejabat senior di Ditjen Bea dan Cukai, Kementerian Keuangan.

“Kami masih harus mempelajarinya,” kata Sunaryo.

Dia menambahkan dia tidak yakin Juul akan mengikut aturan yang mewajibkan alat rokok elektrik dan cairannya dijual terpisah.

Juul juga harus mendapat persetujuan dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Para pejabat BPOM mengatakan mereka belum dihubungi oleh Juul. (*)

Sumber: VOA

Editor: maximus conterius
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved