Moody’s Sebut Ekonomi Akan Kontraksi Beberapa Bulan ke Depan, Berikut Penyebabnya

Moody’s Investors Service menyatakan, Turki dan Argentina akan mengalami kontraksi perekonomian dalam beberapa bulan ke depan.

Moody’s Sebut Ekonomi Akan Kontraksi Beberapa Bulan ke Depan, Berikut Penyebabnya
Aljazeera.com
Mata uang Turki, lira 

TRIBUNMANADO.CO.ID -Lembaga pemeringkat internasional Moody’s Investors Service menyatakan Turki dan Argentina akan mengalami kontraksi perekonomian dalam beberapa bulan ke depan.

Bahkan, Moody’s memprediksi pertumbuhan ekonomi Turki akan terkontraksi tajam. Dikutip dari Bloomberg, Minggu (11/11/2018), nilai tukar mata uang lira Turki dan peso Argentina adalah dua mata uang berkinerja terburuk tahun ini.

Pelemahan nilai tukar tersebut akan tertransmisi ke kontraksi ekonomi secara tajam. Dalam laporannya, Moody’s menyebut kondisi tersebut disebabkan pelemahan pertumbuhan ekonomi baik di negara maju maupun negara berkembang.

Baca: Turki: Sanksi AS kepada Iran Langkah yang Berbahaya

Moody’s memiliki pandangan yang tidak terlalu menggembirakan terhadap prospek pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang seperti Turki dan Argentina. Hal ini sejalan dengan pengetatan kebijakan moneter di negara-negara maju dan ketegangan perdagangan yang menghambat investasi di seluruh dunia.

Menurut Moody’s, kedua negara tersebut memiliki eksposur yang relatif tinggi terhadap pembiayaan eksternal.

Oleh sebab itu, Turki dan Argentina dipandang sebagai negara berkembang yang paling rentan. Ekonomi Turki kemungkinan besar akan terkontraksi pada paruh pertama tahun 2019, sejalan dengan anjloknya nilai tukar lira dan semakin tingginya biaya pinjaman.

Moody’s menyatakan, kondisi-kondisi ini akan memengaruhi perekonomian. Pertumbuhan ekonomi Turki, imbuh Moody’s, tidak akan kembali berada pada level positif hingga tahun 2020.

Baca: Turki: Sanksi AS kepada Iran Langkah yang Berbahaya

Ini merupakan dampak parahnya konsolidasi moneter dan fiskal di bawah program Dana Moneter Internasional ( IMF).

“Inflasi dua digit, kenaikan biaya pinjaman, dan terbatasnya kredit perbankan cenderung akan memberatkan daya beli rumah tangga, konsumsi swasta, dan investasi,” tulis Moody’s dalam laporannya.

IMF pun memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Turki akan anjlok menjadi 0,4 persen pada tahun 2019 dari 3,5 persen pada tahun ini. “Pelemahan (mata uang) lira, tingginya biaya pinjaman, dan peningkatan ketidakpastian memberatkan investasi dan permintaan,” kata IMF dalam laporannya yang dirilis pekan ini.

Adapun Moody’s memperkirakan pertumbuhan ekonomi Turki mencapai 1,5 persen pada tahun 2018 dan terkontraksi sebesar 2 persen pada tahun 2019. Turki pun terguling inflasi yang cukup tinggi, yakni 25,2 persen pada Oktober 2018 dan diproyeksikan tetap pada kisaran dua digit pada tahun 2019.(Kompas.com)

Editor: Herviansyah
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved