Sri Mulyani Ajak Pasar Lebih Positif: Kurs Rupiah Terus Menguat Dekati Level 14.500

Nilai tukar atau kurs rupiah terhadap dolar AS menguat sejak awal pekan. Mata uang Garuda sempat terdongkrak

Sri Mulyani Ajak Pasar Lebih Positif: Kurs Rupiah Terus Menguat Dekati Level 14.500
antara
Menteri Keuangan RI Sri Mulyani saat mengikuti pertemuan IMF dan Bank Dunia di Bali. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Nilai tukar atau kurs rupiah terhadap dolar AS menguat sejak awal pekan. Mata uang Garuda sempat terdongkrak ke posisi Rp 14.500-an, bangkit dari jatuh ke kisaran Rp 15.200 per dolar AS pada bulan lalu.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, menguatnya nilai tukar tidak lepas dari fondasi ekonomi Indonesia yang masih sangat kuat. Penting untuk terus dikomunikasikan dengan baik agar bisa menumbuhkan kepercayaan pasar terhadap ekonomi RI.

"Oleh karena itu, pada saat pasar lebih rasional, kita akan mendapatkan apa yang disebut dengan capital inflow yang lebih positif. Tapi kita tetap harus hati-hati karena memang suasana politik global saat ini," kata Sri Mulyani, Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Jumat (9/11).

Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah Jumat (9/11) pagi dibuka menguat. Dolar AS berada di level Rp 14.635. Mengutip Reuters, dolar AS berada di level tertingginya di Rp 14.635 dan level terendahnya di Rp 14.545.

Dolar AS menguat atau naik ke level Rp 14.500-an. Kamis, kemarin lusa, sore, dolar AS berada di level Rp 14.524. Dolar AS bahkan sempat menyentuh level terendahnya di Rp 14.439. Namun, pelemahan itu tak bertahan lama.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, nilai tukar rupiah bergerak sesuai dengan mekanisme pasar. Ada sejumlah faktor positif yang mempengaruhi nilai tukar rupiah berasal dari dalam negeri serta faktor luar negeri.

Faktor dalam negeri antara lain pertumbuhan ekonomi yang baik. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi di kuartal III-2018 mencapai 5,17 persen. "Pertumbuhan ekonomi ini lebih baik dari perkiraan," tutur Perry, Jumat (9/11).

Selain pertumbuhan ekonomi, faktor domestik lainnya adalah inflasi yang tetap terjaga, serta adanya berbagai kebijakan BI dan pemerintah menjaga kepercayaan pasar.  Satu di antara kebijakan yang mendorong penguatan nilai tukar rupiah adalah diberlakukannya transaksi Domestik Non-Delivery Forward (DNDF).

Meredanya ketegangan perang dagang antara Amerika Serikat kontra China dianggap sebagai faktor dari luar negeri yang mempengaruhi penguatan nilai tukar rupiah. Perry mengatakan, segala kebijakan yang diambil BI sesuai dengan mekanisme pasar. Melihat penguatan rupiah saat ini, Perry bilang BI tidak perlu melakukan langkah-langkah stabilisasi rupiah. "Saat ini supply and demand-nya bagus, saya tidak melihat ada suatu keperluan untuk stabilisasi," tutur Perry.

Lebih lanjut Sri Mulyani menjelaskan, kondisi rupiah yang terus menguat tak terlepas dari membaiknya pertumbuhan ekonomi dan inflasi yang terus terjaga. Pada kuartal III-2018, ekonomi Indonesia tumbuh 5,17 persen dengan angka inflasi 0,28 persen.

Halaman
123
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved