Rupiah Melambung Berkat Sentimen Kalahnya Partai Donald Trump

Kurs rupiah terus menguat menjauhi level Rp 15.200 per dolar AS, kondisi yang menghebohkan pada September lalu.

Rupiah Melambung Berkat Sentimen Kalahnya Partai Donald Trump
kontan
Menghitung dolar AS dan rupiah 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Kurs rupiah terus menguat menjauhi level Rp 15.200 per dolar AS, kondisi yang menghebohkan pada September lalu.

Ekonom PT Bank Permata Tbk (BNLI) Josua Pardede mengatakan, ada beberapa faktor yang menyebabkan penguatan rupiah.

Pertama, pada awal November ini, sentimen di pasar keuangan global cenderung membaik. Kondisi ini terindikasi dari pelemahan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang negara maju dan negara berkembang.

“Pelemahan dolar AS dilatarbelakangi oleh potensi resolusi dari negosiasi perdagangan antara pemerintah AS dan Tiongkok yang mendorong penguatan riskier assets,” kata Josua kepada Tribunnews.com. 

Selain itu, tren penurunan harga minyak dunia juga mengurangi tekanan mata uang negara pengimpor minyak, termasuk rupiah. Pelemahan dolar AS juga didorong potensi kemenangan kubu Partai Demokrat terhadap Partai Republika yang mendukung Presiden Donald Trump, pada midterm election di parlemen Amerika Serikat.

Dengan menangnya Demokrat, maka akan ada kekuatan pengecek dan penyimbang (check and balances) pada pemerintahan Trump, termasuk dalam kebijakan ekonomi yang selama ini menimbulkan instabilitas. Setelah kemenangan Demokrat, sentimen positif mendorong penguatan kurs mata uang asing terhadap dolar.

Pada pasar saham, sejak awal November, investor asing membukukan pembelian bersih sebesar 289,4 juta dolar AS secara bulanan. Sementara kepemilikan investor asing pada SBN juga cenderung meningkat sekitar 340 juta dolar AS secara bulanan sehingga mendorong penurunan yield (imbal beli) SUN bertenor 10 tahun sebesar 42 basis poin menjadi sekitar 8,13 persen.

Presiden AS Donald Trump berbicara di konvens di Indianapolis, Sabtu.
Presiden AS Donald Trump berbicara di konvens di Indianapolis, Sabtu. (Timesofisrael.com)

Direktur  Riset Centre of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah mengatakan, terdapat beberapa sentimen positif terhadap pasar dan memperkuat rupiah. Salah satunya yield atau imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) yang sudah cukup tinggi.

Imbal hasil obligasi 10 tahun pemerintah yang menjadi acuan saat ini berada pada posisi 8,175 persen. "Kenaikan suku bunga acuan BI hingga 150 basis points (bps), sementara kenaikan FFR (Fed Fund Rate) hanya 100 bps menyebabkan spread yield SBN dibandingkan surat berharga di AS melebar," ujar Piter.

Piter mengatakan, dengan yield yang lebih tinggi, SBN pun menjadi lebih menarik bagi investor. Selain itu, Piter menjelaskan, faktor lain yang membuat rupiah menguat secara signifikan dalam beberapa hari terakhir didorong adanya perkiraan The Fed tidak akan menaikkan suku bunga sebesar sebelumnya.

Arus modal asing yang masuk meningkat sejak akhir bulan Oktober hingga saat ini telah mendorong penurunan volatilitas rupiah menjadi sekitar 7,6 persen dari level 10 persen pada pertengahan Oktober lalu.

Selain itu, adanya implementasi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) direspon positif oleh pelaku pasar dan mendorong diversifikasi risiko permintaan dollar di pasar spot dan memberikan alternatif hedging bagi offshore player.

Bank Indonesia menerbitkan PBI No. 20/10/PBI/2018 mengenai transaksi valuta asing (valas) berjangka: Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Peraturan ini memberi kepastian kepada pelaku ekonomi yang memiliki risiko nilai tukar rupiah, dapat bertransaksi DNDF dengan perbankan domestik. Ini sebagai alternatif melindungi nilai (hedging). Keberadaan transaksi ini diharapkan bisa membantu stabilisasi kurs rupiah.

Transaksi DNDF adalah transaksi derivatif valuta asing (valas) terhadap rupiah yang standar (plain vanilla) berupa transaksi forward (berjangka) dengan mekanisme fixing yang dilakukan di pasar domestik. Mekanisme fixing adalah mekanisme penyelesaian transaksi tanpa pergerakan dana pokok dengan cara menghitung selisih antara kurs transaksi forward dan kurs acuan pada tanggal tertentu yang telah ditetapkan di dalam kontrak (fixing date).

Kurs acuan saat fixing date menggunakan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) untuk mata uang dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah dan Kurs Tengah Transaksi BI untuk mata uang non-dolar AS terhadap rupiah. Penyelesaian transaksi DNDF tersebut wajib dilakukan dalam mata uang rupiah. (tribunnews/zal/kontan.co.id)

Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved