Amerika Serikat Akan Memberikan Sanksi Baru Bagi Rusia Terkait Penggunaan Racun Saraf

Pemerintah Amerika Serikat (AS) sedang mempersiapkan sanksi baru terhadap Rusia atas percobaan pembunuhan Sergei Skripal

Amerika Serikat Akan Memberikan Sanksi Baru Bagi Rusia Terkait Penggunaan Racun Saraf
AFP/Niklas Hallen
Petugas polisi berjaga-jaga di Jalan Rollestone, di luar John Baker House di Salisbury, Inggris, terkait penyelidikikan kematian akibat terpapar racun saraf Novichok. Foto ini diambil pada Sabtu (7/7/2018). (AFP/Niklas Hallen) 

TRIBUNMANADO.CO.ID- Pemerintah Amerika Serikat (AS) sedang mempersiapkan sanksi baru terhadap Rusia atas percobaan pembunuhan Sergei Skripal dengan menggunakan racun saraf di Inggris.

"Kami bermaksud untuk melanjutkan sesuai dengan ketentuan Hukum Senjata Kimia dan Biologi, yang mengarahkan pelaksanaan sanksi tambahan," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Heather Nauert, seperti diwartakan AFP, Selasa (6/1/2018).

Baca: Iran Mengadu ke PBB karena Kembali Diberikan Sanksi oleh Amerika Serikat

Dia mengatakan, Kemenlu AS sedang berdiskusi dengan Kongres untuk menentukan langkah-langkah pastinya.

Di bawah UU milik AS, Kemenlu harus menerapkan sanksi lebih lanjut setelah tiga bulan penetapan awal. Sanksi dapat dicabut apabila suatu negara misalnya mengundang para inspektur internasional.

Seperti diketahui, penyelidik Inggris mengklaim operasi Rusia pada 4 Maret lalu berupaya membunuh Sergei Skripal, mantan perwira intelijen dan agen ganda Rusia.

Baca: 5 Bekas Penjara Mengerikan di Amerika Serikat Ini Sudah Dijadikan Objek Wisata

Skripal diracun bersama dengan putrinya, Yulia Skripal, di kota Salisbury, Inggris. Keduanya dapat lolos dari maut usai mengalami kritis.

Racun Novichok digunakan dalam serangan itu. Novichok merupakan racun saraf kelas militer yang dikembangkan oleh Uni Soviet selama Perang Dingin.

Seorang warga Inggris yang terapar racun Novichok beberapa waktu kemudian harus kehilangan nyawanya.

Sementara itu, Rusia membantah terlibat dalam serangan racun saraf di Salisbury.

Perdana Menteri Dmitry Medvedev memperingatkan pada Agustus lalu, setiap pengenaan sanksi lebih lanjut akan menjadi "deklarasi perang ekonomi".

Halaman
12
Editor: Herviansyah
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved