PLN Merugi Rp 18 Triliun, ini Penjelasan Menteri BUMN Rini Soemarno

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno menampik jika PT PLN (Pesero) mengalami kerugian hingga Rp 18 triliun.

PLN Merugi Rp 18 Triliun, ini Penjelasan Menteri BUMN Rini Soemarno
Humas PLN Suluttenggo
Menteri BUMN, Rini Soemarno (ketiga dari kiri) didampingi Dirut PLN Sofyan Basir (ketiga dari kiri), Direktur PLN Regional Intim Syamsul Huda (kedua dari kanan) dan GM PLN Suluttenggo, Edison Sipahutar (paling kiri) saat meninjau fasilitas pembangkit dan gardu induk di Palu, Senin (1/10). 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno menampik jika PT PLN (Pesero) mengalami kerugian hingga Rp 18 triliun.

Rini menjelaskan peningkatan rugi bersih pada laporan keuangan kuartal III PLN sebesar Rp 18,46 triliun yang meningkat Rp 5,35 triliun dari kuartal II itu karena adanya Unrealized forex loss.

 Unrealize forex loss adalah kerugian secara pembukuan akibat kenaikan kurs mata uang asing, namun tidak berdampak kepada arus kas atau cash flow.

"Tidak ada kerugian sebesar Rp 18 Triliun di PT PLN (Persero), yang dimaksud adalah unrealize forex loss," ujar Rini Soemarno melalui keterangan tertulisnya, Kamis (1/11/2018).

 
Pengaruh pelemahan mata uang tersebut memengaruhi laporan keuangan PLN karena ada kewajiban atau utang dalam bentuk dolar serta kontrak PLN dengan IPP (Independent Power Producer) yang dalam bentuk dolar.

Sehingga menyebabkan kalau kewajiban jangka panjangnya dihitung berdasarkan kurs sekarang ini, maka akan terjadi yang disebut unrealize forex loss.

Baca: PT PLN Rugi Rp 18,4 Triliun, Ini Kata Menteri Rini Soemarno

"Kalau PLN sekarang bayar kewajiban-kewajibannya, maka akan melonjak nilainya. Hanya saja kewajiban jangka panjang tersebut masih jauh masa jatuh temponya. Itulah kenapa disebut unrealize," papar Rini.

Sebelumnya, Dirut PLN Sofyan Basir juga mengatakan kerugian juga karena harga beli bahan bakar minyak (BBM) untuk produksi mengalami kenaikan, namun hal ini hanya faktor kecil dibandingkan selisih kurs.

"Jadi sampai ‎sekarang belum ada pembicaraan dengan pemerintah soal kenaikan tarif, tidak ada‎," ucap Sofyan di Istana, Rabu (31/10/2018).

Tercatat, PLN mengalami rugi bersih hingga kuartal III 2018 mencapai Rp 18,46 triliun. Angka tersebut, naik dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar Rp 5,35 triliun.

Sementara dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, justru sebaliknya. Dimana, pada saat ini perusahaan pelat merah tersebut masih laba sebesar Rp 3,06 triliun.

 Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Alasan Menteri BUMN Soal Kerugian PT PLN yang Tembus Rp 18 Triliun, http://www.tribunnews.com/bisnis/2018/11/01/alasan-menteri-bumn-soal-kerugian-pt-pln-yang-tembus-rp-18-triliun.

Editor: Fernando_Lumowa
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved