Asuransi Tugu Menunggu Klaim Pesawat Lion Air

Pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT610 jatuh pada Senin (19/10). Pesawat tersebut ternyata

Asuransi Tugu Menunggu Klaim Pesawat Lion Air
ANTARA FOTO/Theo Silaban
Keluarga korban kecelakaan Lion Air JT 610 berada di Crisis Centre Lion Air JT 610 di Hotel Ibis, Cawang, Jakarta Timur, Selasa (30/10/2018). Pihak Lion Air menyiapkan fasilitas dan akomodasi serta pusat informasi di hotel yang berdekatan dengan Posko Pusat di Bandara Halim Perdanakusuma itu. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT610 jatuh pada Senin (19/10). Pesawat tersebut ternyata ditanggung oleh PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia (TUGU).

Sekretaris Perusahaan Asuransi Tugu Pratama Indonesia Rudy Donardi menjelaskan, pihaknya memang menanggung asuransi pesawat Lion Air tersebut melalui lini usaha asuransi aviation.

Namun saat ini, ia mengaku belum tahu nilai pertanggungan yang diberikan ke maskapai tersebut. "Karena kami masih menunggu konfirmasi lebih lanjut," kata dia, Rabu (31/10).

Saat ini, Rudy bilang pihaknya masih terus berkoordinasi secara intensif dengan Lion Air yang sedang fokus menangani musibah kecelakaan tersebut. Seperti yang diketahui, pesawat jenis Boieng 737 MAX 8 tersebut jatuh di perairan Karawang.

Harga pesawat tersebut ditaksir sebesar US$ 50 juta. Pesawat tersebut hilang kontak pada pukul 06.33 WIB atau sekitar 13 menit setelah take off dari Bandara Soekarno Hatta dengan tujuan Pangkalpinang.

Sampai September, Kredit Multifinance Naik Satu Digit

Perusahaan pembiayaan atau multifinance masih belum bisa berlari kencang. Di tengah kondisi ekonomi yang masih lambat, penyaluran pembiayaan multifinance cuma sanggup tumbuh satu digit.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sampai September 2018, industri multifinance mencatat piutang pembiayaan sebesar Rp 435,72 triliun. Realisasi itu cuma naik 6,08% dibandingkan periode yang sama di tahun lalu, yakni Rp 410,84 trilliun.

Portofolio piutang pembiayaan tersebut masih didominasi pembiayaan multiguna dan investasi, yang masing-masing bernilai Rp 254,61 triliun dan Rp 135,48 triliun. Sedangkan pembiayaan modal kerja sebesar 23,87 triliun, dibuntuti pembiayaan syariah Rp 21,61 triliun dan pembiayaan lain berdasarkan OJK sekitar Rp 136 miliar.

Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno mengatakan, penyaluran pembiayaan masih tertekan karena penjualan mobil dan motor juga tidak meningkat signifikan.
Selanjutnya, banyak multifinance yang bermasalah yang membuat perbankan selektif memberikan pendanaan.

Halaman
123
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved