Toleransi Sebagai Jati Diri Masyarakat di Bumi Nyiur Melambai

Sulawesi Utara atau dikenal dengan sebutan Bumi Nyiur Melambai adalah daerah yang menjunjung tinggi kerukunan dan toleransi antar umat beragama.

Toleransi Sebagai Jati Diri Masyarakat di Bumi Nyiur Melambai
TRIBUN MANADO/FINNEKE WOLAJAN
Pasangan pengamen, Roma Prakarsa dan Claudia Kaunang. 

Laporan Wartawan Tribun Manado Finneke Wolajan

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Sulawesi Utara atau dikenal dengan sebutan Bumi Nyiur Melambai adalah daerah yang menjunjung tinggi kerukunan dan toleransi antar umat beragama. Di saat ada daerah yang berkonflik karena perbedaan, Sulut tetap kokoh mempertahakan kerukunan. Toleransi sudah menjadi jati diri daerah terutara Indonesia ini. Itu sebabnya kerukunan warga dari berbagai latar belakang tetap terjaga. Ada berbagai kisah dan peristiwa yang menjadi bagian dari dinamika kehidupan warga Sulawesi Utara yang majemuk. Bukan berarti tak menemui ancaman perpecahan, namun eratnya toleransi dan kekeluargaan dapat meredam konflik. Berbagai kisah menjadi ulasan dalam tulisan ini.

“Hidup ini adalah kesempatan, hidup ini untuk melayani Tuhan. Jangan sia-siakan, apa yang Tuhan beri. Hidup ini harus jadi berkat,” demikian sepenggal lirik lagu rohani Kristen yang dilantunkan perempuan berkerudung, di sebuah pusat keramaian di Kota Manado. Claudia Kaunang (24) tak canggung membawakan lagu-lagu Kristen, saat mengamen dengan suaminya, Roma Prakarsa (30).

Keduanya sempat viral di media sosial, ketika ada salah seorang warga Muslim yang protes dengan aksi keduanya. Akun di Facebook tersebut mempertanyakan kenapa ada warga Muslim yang bernyanyi lagu agama lain.Pro dan kontra warga net menghiasi postingan tersebut. Banyak yang menyela, tapi tak sedikit yang malah memberi dukungan kepada pasangan suami istri asal Wonasa Kombos, Kota Manado.Warga net mengatakan itu tak masalah, karena merupakan bagian dari kehidupan toleransi di Manado. Roma melalui akun Facebooknya pun memberikan pernyataan soal itu, bahwa ia hidup di tanah toleran, Bumi Nyiur Melambai, sebutan untuk Sulawesi Utara. Setelah kejadian itu keduanya tetap menjalankan kesehariannya sebagai pengamen.

Roma mengakui saat ia ngamen dengan sang istri membawakan lagu Kristen memang menimbulkan pro dan kontra. Ada warga Muslim yang menerima ada yang tidak. Ia mengaku sempat mendapat hujatan dari beberapa orang yang tahu bahwa ia menyanyikan lagu agama lain saat mencari nafkah bagi keluarganya. Roma memakluminya, namun ia punya alasan dan pemahaman soal itu. Bagi dia dan istrinya, bukan berarti keduanya menyanyikan lagu Kristen, lantas iman Muslim mereka terganggung. Malah Roma sebagai seorang seniman jalanan ini berpendapat selama lagu yang ia bawakan memberi dampak positif bagi mereka pribadi, maupun orang lain.

Pernah suatu waktu, Roma dan Claudia bertemu dengan pendeta dan haji yang berada di tempat yang sama. Roma tak mau melewatkan kesempatan ini. Ia langsung menghampiri pendeta dan haji yang saat itu duduk di meja yang sama. Roma menganjurkan bagamana jika ada acara-acara keagamaan, melibatkan penganut agama lainnya untuk menyukseskan acara. Misalnya Natal, panitianya juga ada dari Muslim, Budha, Hindu, Konghucu. Ataupun Idul Fitri atau acara keagamaan lainnya. Menurut Roma, itu bentuk toleransi yang indah. Saling membantu, saling menerima. “Semoga usul saya waktu itu diterima,” ujarnya saat berbincang dengan Tribun, di sebuah klenteng yang berlokasi di Kawasan Megamas Manado, pertengahan Oktober lalu.

Roma dan Claudia menyiapkan berbagai lagu untuk ngamen. Tak hanya lagu Kristen, mereka juga menyanyikan lagu Muslim di waktu-waktu tertentu. Mereka menyesuaikan dengan lokasi di mana mereka ngamen. Selain lagu rohani, ada juga lagu sekuler. Tak sulit bagi Roma dan Claudia untuk belajar lagu rohani Kristen. Mereka biasanya belajar dari youtube. Namun sebenarnya Claudia yang sebelumnya Kristen memang sudah tahu banyak lagu. Sebaliknya, ia juga belajar lagu-lagu Muslim.

Roma dan Claudia yang adalah pasangan Muslim yang hidup berbaur di tengah keluarga Kristen. Dari latar belakang Claudia, dia adalah seorang Kristen kemudian menjadi mualaf ketika menikah dengan Roma. Dari keluarga besar Roma pun, banyak yang Kristen. Karena ia sendiri punya darah Minahasa, seperti Claudia. Minahasa adalah suku besar di Sulawesi Utara yang identik dengan penganut Kristiani. Perbedaan di tengah keluarga adalah anugerah bagi Roma dan Claudia. Mereka pun mengaku bisa mempertahakan keharmonisan dalam keluarga. Perbedaan keyakinan tak jadi masalah saat mereka berbaur dengan keluarga. Begitu pula saat bergaul dengan masyarakat sekitar yang mayoritas Kristen. Saat Hari Raya Idul Fitri, pasangan suami istri ini malah sibuk mempersiapkan hidangan bagi kenalan, keluarga Kristen. Bahkan pernah pendeta yang menjadi tamu pertama yang datang di rumah mereka. Jumlah tamu Kristen pun malah lebi banyak dari sesama Muslim.

Roma dan Claudia bersyukur tinggal di kota toleran Manado dan juga daerah toleran Sulawesi Utara. Kondisi ini menjadi alasan mereka berani untuk menyanyikan lagu Kristen saat ngamen. Karena keduanya memahami betul bahwa perbedaan agama tak menjadi masalah di kota ini. Di saat banyak tempat mempermasalahkan perbedaan agama, Sulut malah menjadikan perbedaan tersebut sebagai anugerah. Roma bahkan berharap Manado bisa jadi kota paling toleran di dunia tak hanya di Indonesia. Orang yang radikal, kata Roma, yang hanya punya pemahaman sendiri akan memecah sebuah bangsa. Toleransi adalah tak menyakiti umat lain. Namun bukan toleransi yang kebablasan.

“Saya seorang Muslim yang punya keluarga besar Kristen. Kami hidup rukun dan damai, tak pernah ada perpecahan. Begitu juga ketika bergaul dengan masyarakat lainnya. Kami nyaman-nyaman saja. Kota ini memang indah. Toleransi begitu terjaga, tak ada saling menyakiti satu dengan lainnya. Apalagi isu agama memang sensitif. Saya berharap toleransi di tanah ini terus terjaga. Tapi ingat, bukan toleransi yang kebablasan,” katanya.

Halaman
1234
Penulis: Finneke
Editor: Alexander Pattyranie
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved