Masih Bertopang pada Bisnis Batubara: Korporasi Tetap Perkasa

PT Astra International Tbk (ASII) mampu memempertahankan pertumbuhan kinerja sepanjang sembilan bulan

Masih Bertopang pada Bisnis Batubara: Korporasi Tetap Perkasa
kontan
Pengelolaan batubara di Tanah Air. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - PT Astra International Tbk (ASII) mampu memempertahankan pertumbuhan kinerja sepanjang sembilan bulan di tahun ini. Perusahaan ini mencetak kenaikan pendapatan sebesar 16% year on year (yoy) menjadi Rp 174,8 triliun. Alhasil, laba bersih juga naik sebesar 21% yoy menjadi Rp 17,07 triliun.

Prijono Sugiarto, Presiden Direktur ASII, mengatakan, secara keseluruhan, laba bersih Grup Astra meningkat, ditopang penambahan kontribusi dari sejumlah segmen, yaitu alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi, segmen jasa keuangan, serta otomotif. Peningkatan kontribusi segmen tersebut melebihi penurunan kontribusi dari segmen agribisnis.

Menurut dia, penurunan kurs rupiah menekan marjin bisnis manufaktur. "Namun, dampak tersebut diimbangi oleh bisnis berbasis komoditas, aktivitas ekspor serta meningkatnya keuntungan selisih kurs dari ekspor," kata Prijono, Senin (29/10).

Bisnis otomotif tetap menjadi kontributor utama laba perusahaan ini, yaitu sebesar Rp 7,01 triliun. Angka ini naik 7% ketimbang kuartal III-2017. Peningkatan terutama ditopang kenaikan penjualan sepeda motor PT Astra Honda Motor (AHM) di pasar domestik sebesar 9% menjadi 3,5 juta unit. Pangsa pasarnya 75%.

Sedangkan, penjualan mobil Astra turun 4% yoy menjadi 424.000 unit, karena kompetisi yang ketat di pasar mobil. Dus, pangsa pasar Astra menurun dari 55% menjadi 50%.
Harga batubara

Bisnis alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi menjadi kontributor laba kedua grup setelah otomotif. Kontribusi bisnis ini naik 60% menjadi Rp 5,42 triliun atau setara 31,75% dari catatan laba bersih ASII.
Sumbangan terbesar berasal dari PT United Tractors Tbk, yang berhasil mencetak kenaikan laba bersih sebesar 61% menjadi Rp 9,1 triliun.

Performa UNTR didukung peningkatan bisnis mesin konstruksi, kontraktor penambangan dan pertambangan, yang diuntungkan dengan kenaikan harga batubara.
Hanya, lini bisnis perkebunan milik Astra yang menjadi pemberat. Laba bersih PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) turun 18% yoy menjadi Rp 1,1 triliun. Pasalnya, harga rata-rata minyak sawit menyusut 8% menjadi Rp 7.639 per kg.

"Kami berharap grup akan mencapai kinerja tahunan yang baik, meski persaingan yang sengit di pasar mobil serta pelemahan harga minyak sawit masih tetap diwaspadai," ucap Prijono.
Performa fundamental ASII tumbuh tidak sejalan dengan pergerakan sahamnya. Sepanjang tahun ini hingga 29 Oktober 2018, saham ASII sudah turun 9,64% ke posisi Rp 7.500 per saham.

Analis Kresna Sekuritas Franky Rivan melihat, kinerja Grup Astra secara umum masih didorong beberapa sektor andalan. Terutama sektor otomotif dan anak usaha ASII di sektor pertambangan, yakni UNTR.
Menurut Franky, dengan pencapaian kinerja yang di atas ekspektasi pasar, harga saham ASII masih memiliki peluang rebound. Dia masih merekomendasikan beli saham ASII. Target harga jangka panjang untuk saham ini di level Rp 9.100 per saham.

Pengangkutan hasil tambang batubara
Pengangkutan hasil tambang batubara (kompas.com)

Kinerja Korporasi Raksasa Tetap Perkasa

Halaman
1234
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved