Breaking News:

Saham Konstruksi Swasta Menarik

Kinerja emiten konstruksi, baik pelat merah maupun swasta, belum kembali menunjukkan performa terbaiknya.

Editor:
tribun manado
Pegawai sekuritas di Manado pantau saham 

TRIBUNMANADO.CO.ID-Kinerja emiten konstruksi, baik pelat merah maupun swasta, belum kembali menunjukkan performa terbaiknya. Hanya dua emiten dari empat perusahaan konstruksi swasta yang sahamnya melesat sepanjang tahun ini. 

Mino, Analis Indo Premier Sekuritas, mengatakan, pergerakan saham konstruksi sektor swasta tidak jauh berbeda dengan BUMN. Trennya sama-sama bearish.

"Tetapi kalau menilik laporan keuangan hingga semester I-2018, ada perbedaan yang cukup mencolok. Kinerja keuangan emiten konstruksi swasta jauh tertinggal dari emiten konstruksi plat merah," kata dia, Rabu (24/10).

Mino menilai, dalam jangka pendek atau setidaknya sampai akhir tahun, tidak akan ada perubahan arah dari pergerakan harga sahamnya. "Saya pikir di tengah penurunan saham konstruksi BUMN yang sudah cukup jauh dan dengan pencapaian fundamental yang masih baik, saham BUMN masih lebih menarik dibanding dengan saham konstruksi swasta," tutur Mino.

William Hartanto, Analis Panin Sekuritas, menilai, saham konstruksi swasta memiliki prospek bagus dan pasar yang luas. Tapi ada faktor penghambat kinerja, yakni daya beli yang lemah.

Misal, dari sisi kredit, walau penyaluran kredit tumbuh, namun lebih kepada kredit korporasi, bukan properti. "Namun emiten konstruksi swasta memiliki recurring income besar. Sehingga bisa membantu saat daya beli lemah," kata William.

William berpendapat, saham konstruksi swasta lebih menarik ketimbang konstruksi BUMN. Pasalnya, saham emiten BUMN juga dibayangi isu politik.

Kinerja emiten konstruksi swasta juga positif. PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL) mengklaim telah memperoleh kontrak baru sesuai target. "Perolehan kontrak sampai hari ini senilai Rp 3,1 triliun, meliputi proyek hotel, apartemen, perkantoran, mal dan gedung sekolah," kata Mahmilan Sugiyo, Sekretaris Perusahaan TOTL, Kamis (24/10).

Hingga akhir tahun ini, TOTL menargetkan bisa meraih kontrak baru Rp 4 triliun. Saat ini, TOTL memang masih fokus menggarap bangunan gedung premium. TOTL menargetkan pendapatan akhir 2018 Rp 2,6 triliun dengan laba bersih sebesar Rp 210 miliar. Sayangnya, secara year to date (ytd) harga saham emiten ini turun 12,51 persen.

Menurut William, secara fundamental saham konstruksi swasta yang menarik adalah PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA). Ia merekomendasikan beli saham NRCA dengan target harga Rp 500 per saham. Rabu (24/10), harga saham NRCA turun 1,54 persen di Rp 384 per saham.

Mino sependapat, saham menarik adalah NRCA dan PT Acset Indonusa Tbk (ACST). Tapi, kontrak baru ACST baru memenuhi 8,13 persen dari target Rp 10 triliun. Dia menargetkan saham NRCA di Rp 404 per saham. (ktn)

Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved