Bursa Saham Disetir Rapat BI dan Minyak

Sentimen Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) akan membayangi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan

Bursa Saham Disetir Rapat BI dan Minyak
kompas.com
Kilang minyak bumi 

Kedua, depresiasi kurs rupiah. Kemkeu dan Badan Anggaran (Banggar) DPR menyepakati perubahan asumsi kurs rupiah menjadi Rp 15.000 per dollar Amerika Serikat (AS) dalam RAPBN 2019. Nilai itu melemah dari outlook dalam APBN 2018 sebesar Rp 13.937 per dollar AS.

Dollar AS
Dollar AS (AFP)

Ketiga, kenaikan yield surat berharga negara (SBN) dan suku bunga acuan. Namun, "Kami akan tetap bayar bunga dengan tepat waktu dan tepat jumlah," ujar Scenaider kepada KONTAN, Jumat (19/10).

Dia menambahkan, pemerintah juga terus melakukan pengelolaan bunga utang secara hati-hati. Salah satunya, mengutamakan pendanaan dari rupiah dan valuta asing sebagai pelengkap. "Kami juga akan mencoba memaksimalkan dana investor domestik," tambahnya.

Dalam catatan Kemkeu, dari alokasi anggaran bunga utang tahun ini yang senilai Rp 238,61 triliun, pemerintah telah menggunakan Rp 197,84 triliun atau setara 82,91% dari alokasi anggaran. Angka itu naik 14,05% dibanding dengan periode yang sama tahun 2017, juga karena pengaruh depresiasi kurs rupiah dan kenaikan yield SBN.

Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih menilai, kenaikan anggaran bunga utang sangat dipengaruhi oleh depresiasi kurs rupiah. Pasalnya, komposisi denominasi utang pemerintah sebesar 40% berupa valas, dan 60% berupa rupiah.

"Dari total utang di tahun 2017, dalam rupiah 60%, dollar AS sekitar 29%, dan sisanya mata uang lain yang memiliki porsi 11%. Saya rasa, komposisi tahun lalu tak jauh berbeda dengan tahun ini," katanya.

Namun ia menilai, kenaikan bunga obligasi tak banyak mempengaruhi kenaikan bunga utang. Sebab, bunga obligasi yang dijual pemerintah biasanya telah ditetapkan.

Ia memperkirakan, tingginya pembayaran bunga utang ini berlangsung di tahun 2018 dan 2019 nanti, sesuai dengan waktu jatuh temponya. Namun ke depan, pemerintah perlu menekan utang agar tidak membebani APBN. Caranya, "Dengan meningkatkan kemampuan penerimaan pajak," tambah Lana.

Harus seimbang

Peneliti Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara berpendapat, selain penambahan utang pemerintah, kenaikan bunga utang juga disebabkan selisih kurs pembayaran bunga utang luar negeri. Bahkan ia menilai, pemerintah perlu mencadangkan dana lebih karena asumsi rupiah tahun depan sebesar Rp 15.000 per dollar AS.

Halaman
1234
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved