Bursa Saham Disetir Rapat BI dan Minyak

Sentimen Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) akan membayangi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan

Bursa Saham Disetir Rapat BI dan Minyak
kompas.com
Kilang minyak bumi 

Analis Global Kapital Investama, Nizar Hilmi menilai penurunan harga minyak saat ini merupakan tahap penyesuaian harga, setelah sempat mencapai level tertinggi dalam empat tahun pada 3 Oktober lalu, di US$ 76 per barel.

Nizar memprediksi, koreksi harga minyak masih akan berlanjut dalam jangka pendek. Namun, untuk jangka panjang tren harga minyak bullish. "Harga minyak bergantung pada berlakunya sanksi AS ke Iran dan seperti apa dampak yang ditimbulkan, jadi koreksi belum selesai," jelas Nizar.

Ilustrasi.
Ilustrasi. (KOMPAS/AGUS SUSANTO)

Siasati Rupiah, KAEF Setok Bahan Baku

PT Kimia Farma Tbk (KAEF) menyiasati membengkaknya pengeluaran dari sisi bahan baku di tengah pelemahan rupiah. Maklum, industri farmasi masih mengandalkan bahan baku dari hasil impor. Strategi yang diterapkan yaitu membeli bahan baku secara borongan untuk dua tahun.

Direktur Keuangan KAEF Suharta Wijaya mengatakan, pihaknya sudah meneken kontrak bahan baku untuk penggunaan 2018-2019. Menurut dia, pembelian dalam jumlah besar di awal akan menghemat biaya, serta ada kepastian bahan baku yang diperlukan.
"Ini cara hedging yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi kenaikan valas yang tidak dapat diprediksi," kata Suharta, pekan lalu.

Dengan adanya kepastian bahan baku juga membuat proses produksi lebih efektif dan efisien. Sebab barang datang tepat waktu dan tepat jumlah. Kata Suharta, persentase harga pokok penjualan (HPP) terhadap pendapatan per Juni 2018 sebesar 64,09%, turun 0,36% dibanding periode yang saham tahun lalu.

Menurut Suharta, pembayaran bahan baku dilakukan bertahap. Sumber dana 40% diambil dari internal, serta 60% pinjaman bank.

Baca: Miliki Utang Rp 1 Triliun di Banyak Bank, Sariwangi Pelopor Teh Celup Indonesia Dinyatakan Bangkrut

 

Beban Bunga Utang Negara Naik Akibat Rupiah Turun

Anggaran bunga utang pemerintah kian besar. Dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) tahun depan, pemerintah menyediakan dana pembayaran bunga utang sebesar Rp 275,9 triliun. Jumlah itu naik 15,62% dari alokasi di APBN 2018 yang sebesar Rp 238,61 triliun.

Direktur Pinjaman dan Hibah Direktorat Jenderal (Ditjen) Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan (Kemkeu) Scenaider Siahaan menjelaskan, peningkatan anggaran pembayaran bunga utang tahun depan, dipengaruhi oleh tiga hal.

Pertama, kenaikan utang pemerintah. Tahun depan, pemerintah bakal menambah utang sebesar Rp 359,28 triliun. Sementara total outstanding hingga September 2018 mencapai sekitar Rp 4.416,37 triliun

Halaman
1234
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved