Peminat ORI Tinggi: Nasabah Kecil Kesulitan Membeli

Penjualan Obligasi Negara Ritel (ORI) seri 015 alias ORI015 laris manis. Bank Tabungan Negara (BTN), salah satu mitra distribusi

Peminat ORI Tinggi: Nasabah Kecil Kesulitan Membeli
kontan
Obligasi Negara Ritel 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Penjualan Obligasi Negara Ritel (ORI) seri 015 alias ORI015 laris manis. Bank Tabungan Negara (BTN), salah satu mitra distribusi sampai mengajukan penambahan kuota ORI 015 kepada Kementerian Keuangan lantaran kuota awal Rp 550 miliar sudah ludes terjual.

Bank BNI juga telah melampaui target penjualan, meski waktu penawaran masih sampai 25 Oktober 2018. GM Divisi Wealth Management BNI Neny Asriani mengatakan, penjualan ORI015 per 18 Oktober mencapai Rp 2,52 triliun. "Pencapaian tersebut sudah 250% dari target penjualan sebesar Rp 1 triliun," ujar Neny, Kamis (18/10).

Agaknya antusiasme yang membeludak ini menyebabkan tidak semua investor ritel bisa langsung membeli surat utang yang menawarkan kupon 8,25% ini di bank. Ririn, misalnya, salah satu nasabah Bank Mandiri ini harus mengantre agar bisa mendapatkan jatah pembelian ORI015.

Baca: Multifinance Gamang Rilis Surat Utang

Customer service (CS) yang melayani pegawai swasta di Jakarta ini menjelaskan, kuota layanan Mandiri Prioritas sudah tidak tersedia. "Saya diminta menunggu sambil diminta data nomor ponsel, NPWP dan KTP," ujar Ririn.

Sebelumnya Ririn juga sempat mencoba membeli ORI015 di Bank Commonwealth, hasilnya pun nihil. Kuota di bank itu sudah habis sejak 5 Oktober, sehari setelah masa penawaran perdana yang dimulai pada 4 Oktober 2018.

Dwi, ibu rumah tangga asal Depok, juga sempat mencoba membeli ORI015 ke Bank Central Asia (BCA). Tapi, oleh CS BCA Dwi diminta mengisi formulir untuk antrean pembelian ORI. "Saya coba di BNI sama juga," ujar Dwi.

Pembelian Obligasi Negara Ritel
Pembelian Obligasi Negara Ritel (kontan)

Rohan Hafas, Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri mengatakan, proses penjualan ORI015 di Bank Mandiri menerapkan prinsip first come, first serve kepada seluruh nasabah dan berlaku bagi nasabah prioritas maupun nasabah non prioritas. Dia mengklaim, semua prosesnya pun dilakukan melalui sistem dan tergantung pada ketersediaan kuota.

Berawal dari Kebutuhan Primer

Menurut kata pepatah, ada banyak jalan menuju ke Roma. Begitu pula dalam hal berinvestasi, ada banyak cara membiakkan dana. Banyak investor yang mengandalkan instrumen investasi di pasar keuangan, seperti saham, obligasi, hingga reksadana untuk memperbesar kekayaan.

Tapi, Chiefy Adi Kusmargono punya gaya investasi yang berbeda. Presiden Direktur PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) ini lebih suka menanamkan duit di sektor riil, ketimbang membiakkan duit di pasar keuangan.
Bagi Chiefy, investasi di sektor riil memberikan perasaan memegang duit yang lebih nyata. Pilihan portofolio investasi pribadinya terutama jatuh pada properti dan koperasi.

Halaman
123
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved