Hashim Djojohadikusumo Klaim Selisih Elektabilitas Jokowi dan Prabowo 6-8 Persen

Direktur Media dan Komunikasi Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Hashim Djojohadikusumo,

Hashim Djojohadikusumo Klaim Selisih Elektabilitas Jokowi dan Prabowo 6-8 Persen
Tribunnews/JEPRIMA
Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Hashim Djojohadikusumo saat menyampaikan sambutannya kepada para pendukung Prabowo di acara Deklarasi Dukungan Prabowo For President di Hotel Grand Sahid, Jakarta Pusat, Sabtu (10/5/2014). Prabowo mendapatkan dukungan dari para alumni dan mahasiswa Trisakti untuk menjadi Presiden Indonesia Periode 2014-2019. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Direktur Media dan Komunikasi Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Hashim Djojohadikusumo, mengaku tidak percaya dengan hasil survei yang dirilis sejumlah lembaga survei.

Ia menyebut elektabilitas antara Prabowo-Sandi dan Jokowi-Ma'ruf saat ini hanya selisih 6-8 persen, bukan 20 persen seperti yang dirilis sejumlah lembaga.

Baca: Hilangnya Jurnalis Arab Saudi Jamal Khashoggi, Ini Kronologinya

"Saya tidak percaya semua survei itu. Itu semua salah," kata Hashim dalam pertemuan dengan sejumlah media asing di Media Center Prabowo-Sandi, di Kebayoran Baru, Jakarta, Jumat (19/10/2018).

Hashim menjawab pertanyaan kantor berita Perancis AFP, mengenai strategi untuk mengejar elektabilitas Joko Widodo-Ma'ruf Amin.

Direktur Media dan Komunikasi Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Hashim Djojohadikusumo, dalam pertemuan dengan sejumlah media asing di Media Center Prabowo-Sandi, di Kebayoran Baru, Jakarta, Jumat (19/10/2018).(KOMPAS.com/Ihsanuddin)
Direktur Media dan Komunikasi Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Hashim Djojohadikusumo, dalam pertemuan dengan sejumlah media asing di Media Center Prabowo-Sandi, di Kebayoran Baru, Jakarta, Jumat (19/10/2018).(KOMPAS.com/Ihsanuddin) ()

Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra itu lalu mengingatkan fenomena yang terjadi di Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu.

Saat itu, menurut dia, semua survei memprediksi calon petahana Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat akan menang di putaran pertama karena meraih lebih dari 50 persen.

"Semuanya salah, jauh," kata Hashim.

Kenyataannya, di putaran pertama, pasangan Basuki-Djarot unggul, tetapi hanya meraih 42,99 persen.

Baca: 488 Peristiwa Pelanggaran Kebebasan Beribadah pada 2014-2018

Namun, di putaran kedua, pasangan petahana itu akhirnya kalah dari pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno yang diusung Gerindra.

"Lembaga Survei yang sama sekarang mengatakan Jokowi memimpin dengan selisih 20 persen. Survei internal kita Jokowi hanya unggul 6-8 persen. Itu angka internal kita. Jadi bukan 20 persen," ucap Hashim.

Halaman
12
Editor: Aldi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved