Sang Adik Sebut Prabowo Tidak Haus Kekuasaan

Direktur Media dan Komunikasi Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Hashim Djojohadikusumo menyambangi redaksi Tribun

Sang Adik Sebut Prabowo Tidak Haus Kekuasaan
tribunnews
Direktur Media dan Komunikasi Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Hashim Djojohadikusumo menyambangi redaksi Tribun. 

Ternyata topik yang didiskusikan adalan masalah stunting. Hashim sempat heran, kakaknya memberi perhatian khusus pada masalah tersebut.

"Saya kaget, Prabowo, Jenderal yang sudah saya kenal dari kecil, kini peduli pada masalah stunting," kata Hashim.
Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya.

Hashim mengatakan pada saat itu ia sama sekali tidak tahu mengenai masalah stunting. Ia baru paham saat Prabowo menceritakan keprihatinannya mengenai banyaknya anak penderita stunting di Indonesia.

Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Hashim Djojohadikusumo memberikan keterangan pers di Jakarta Pusat, Senin (15/9/2014). Hashim memberikan keterangan pers terkait pengunduran diri Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau yang akrab disapa Ahok dari Partai Gerindra karena tak sependapat soal RUU Pilkada.
Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Hashim Djojohadikusumo memberikan keterangan pers di Jakarta Pusat, Senin (15/9/2014). Hashim memberikan keterangan pers terkait pengunduran diri Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau yang akrab disapa Ahok dari Partai Gerindra karena tak sependapat soal RUU Pilkada. (TRIBUNNEWS/HERUDIN)

"Dia (Prabowo) jelaskan, dia prihatin, waktu itu menjabat ketua Himpunan Kelompok Tani Indonesia (HKTI). Dia lihat banyak anak anak Indonesia pendek- pendek, rambutnya warna pirang, bukan karena pemain bola asing, tapi karena kurang gizi," katanya.

Pada saat itu kata Hashim jumlah anak penderita stunting di Indonesia berdasarkan data Bank Dunia mencapai 30 persen. 10 tahun kemudian jumlahnya bertambah menjadi 38 persen.

Para anak stunting tersebut menurut Hashim berasal dari keluarga yang kurang mampu.

"Anak anak ini datang dari keluraga miskin, orang tuanya tidak mampu memberikan makanan yang layak, seimbang. Mereka tidak mampu memberikan susu, sayuran, telor dan ikan," katanya.

Baca: Hashim Djojohadikusumo, Adik Prabowo Kerahkan Kekuatan Usut Dosa Jokowi

Setelah dipelajari menurut Hashim salah satu masalahnya adalah kurangnya asupan susu. Oleh karena itu Prabowo menlihat program koperasi susu yang pernah dibuat di India pada 1950 oleh Dr Verghese Kuriyen.

Prabowo mengadaptasi program koperasi susu tersebut untuk menanggulangi masalah stunting.

Keseriusan terhadap penaganan masalah stunting, karena 10 sampai 15 tahun lagi para anak stunting tersebut akan memasuki usia produktif. Sehingga menurutnya percuma bila pemerintah saat ini menggalakan Industri 4.0 tetapi masalah stunting tidak diselesaikan.

"Percuma kita punya program industri atau ekonomi apapun, karena anak anak yang nanti masuk usia produktif, tidak bisa belajar karena tidak adanya asupan gizi," katanya.

Hashim menyayangkan pemerintah saat ini tidak menempatkan masalah stunting sebagai prioritas. Padahal menurutnya hal tersebut menyangkut masa depan Indonesia. (Tribun Network/fik/wly)

Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved