Proyeksi IHSG: Koreksi Wajar hingga Dampak The Fed Memburuk

Menjelang akhir pekan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ke zona merah. Kamis (18/10), IHSG menurun 0,4% ke 5.845,24.

Proyeksi IHSG: Koreksi Wajar hingga Dampak The Fed Memburuk
kompas.com
Uang dollar AS 

UNVR Bakal Terus Menjual Sariwangi

PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) menyatakan telah memutuskan kerjasama dengan PT Sariwangi Agricultural Estate Agency (SAEA). Sebelumnya, SAEA adalah mitra UNVR dalam memproduksi teh celup dengan brand Sariwangi. Unilever bertindak sebagai distributor teh celup tersebut.

Sekretaris Perusahaan PT Unilever Indonesia Tbk, Sancoyo Antarikso, bilang saat ini UNVR mengusung brand teh celup itu sendiri, serta sebagian dibantu pihak ketiga yang disebut third party manufacturer. Tapi dia tak merinci rekan yang digandeng untuk memproduksi Sariwangi. Sancoyo juga tak menjelaskan kapan UNVR memutuskan kerjasama dengan SAEA.

Yang pasti, tiga hari lalu (16/10) Majelis Hakim Pengadilan Niaga Jakarta Pusat mengabulkan permohonan pembatalan homologasi dari PT Bank ICBC Indonesia terhadap PT SAEA dan PT Maskapai Perkebunan Indorub Sumber Wadung. Kini, kedua perusahaan perkebunan teh tersebut resmi menyandang status pailit.

Sancoyo memastikan, UNVR tetap berkomitmen menyediakan brand teh celup Sariwangi, dimana perusahaan mengklaim teh itu sebagai market leader di segmennya. "Sariwangi masih tetap menjadi pemimpin pasar teh celup di Indonesia," ujar Sancoyo kepada KONTAN, kemarin.

Mengenai berapa kemampuan produksi untuk teh celup itu, Sancoyo tak dapat memberikan detail angkanya. Dalam pemberitaan KONTAN, tercatat mantan rekan UNVR yakni PT SAEA mampu memproduksi 40.000-50.000 ton teh celup per tahun.
Terkait kompetisi di tengah banyaknya produk teh celup dan teh olahan lainnya, UNVR tak merasa khawatir dan tetap maju dengan kemampuan bisnisnya yang adaptif. "Sebab, kami akan terus berinovasi," ungkap Sancoyo.

Jauh-jauh hari, UNVR sempat memperbarui segmen teh celup dengan merilis brand produk Sarimurni. Menurut laporan keuangan tahun 2017, kategori teh ini berhasil memberikan pertumbuhan positif serta peningkatan margin signifikan karena harga komoditas yang lebih rendah dan adanya penghematan.

UNVR menilai Sarimurni memperlihatkan kinerja kuat, cukup sukses mengerek pangsa pasar dan memposisikan diri sebagai pemimpin pasar di segmen teh vanila. Tahun lalu, Sarimurni naik di atas pertumbuhan rata-rata. Laporan keuangan UNVR semester I 2018 mencatat sektor makanan dan minuman menyumbang 33% total revenue UNVR yakni Rp 7,11 triliun. Penjualan itu naik kurang dari 1% ketimbang periode sama tahun lalu Rp 7,110 triliun.

Sementara penyumbang terbesar berasal dari segmen home and personal care sebanyak Rp 14,06 triliun di semester I 2018. Jumlah itu turun mini dibandingkan semester-I 2017 senilai Rp 14,15 triliun. Secara total, penjualan bersih UNVR menurun 0,3% menjadi Rp 21,18 triliun. Adapun laba bersihnya turun 0,5% menjadi Rp 3,69 triliun. (Agung Hidayat/Anna Maria anggita Risang/Dina Mirayanti Hutauruk/Febrina Ratna/Azis Husaini/Ferrika Sari)

Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved