Prabowo Ingin Tegakkan Pancasila

Sepuluh tahun sudah Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) dibawah kepemimpinan Prabowo Subianto mengambil posisi sebagai oposisi

Prabowo Ingin Tegakkan Pancasila
tribunnews
Direktur Media dan Komunikasi Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Hashim Djojohadikusumo menyambangi redaksi Tribun. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Sepuluh tahun sudah Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) dibawah kepemimpinan Prabowo Subianto mengambil posisi sebagai oposisi dari pemerintah. Kala periode kedua pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yakni periode 2009-2014, Partai Gerindra berada di luar kabinet pemerintah bersama Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan (PDI-Perjuangan) dan Partai Hanura.  Kini, di pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla  Gerindra tetap berada di luar pemerintahan.

Prinsip yang berbeda dengan perjuangan pemerintah menurut Direktur Media dan Komunikasi Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Hashim Djojohadikusumo, menjadi alasan bagi Prabowo dan dirinya tidak gila kekuasaan. 

Pilpres 2019 merupakan Pemilu ketiga bagi Prabowo. Pada Pemilu 2009, Prabowo menjadi Cawapres Megawati Soekarnoputri, namun kala itu Prabowo kalah oleh pasangan SBY-Boediono. 5 tahun kemudian Prabowo menjadi Capres berpasangan dengan Hatta Rajasa. Prabowo kembali kalah, kini oleh pasangan Jokowi-JK.

Baca: Begini Ramalan Prabowo Menurut Hashim Djojohadikusumo

"Kami punya prinsip. Ini buka soal jabatan. Bukan soal jadi Menteri atau Wapres. Ini bukan soal saya dan keluarga saya. Tapi kita prihatin dengan keadaan bangsa kita. Tujuan kami untuk menegakkan Pancasila," tegas adik Prabowo Subianto ini, saat menyambangi redaksi Tribunnews, di Palmerah Selatan, Jakarta Pusat, Rabu, (18/10).

Aneka tawaran kursi Menteri bagi Gerindra menurut Hashim, sudah ditawarkan sejak zaman SBY menjadi Presiden.  "Kalau saya mau jadi Menteri sudah lama. Terus terang saja, kami sudah ditawarkan macam-macam Menteri, Prabowo sudah ditawarkan sejak SBY. Tapi kami berprinsip berada di luar saja. karena tidak sesuai dengan program kami," kisah Hasim.

Hashim Djojohadikusumo.
Hashim Djojohadikusumo. (KOMPAS.COM/ M Wismabrata)

Karena itu dia pastikan, majunya kembali Prabowo untuk kali ketiga dalam konstelasi Pilpres bukan karena haus akan kekuasaan.  Namun imbuhnya, Prabowo memiliki kepedulian luar biasa terhadap  kondisi Bangsa Indonesia.  Apalagi darah pejuang juga sudah mengalir ke dalam darah Prabowo dan Hashim. Karena empat anggota keluarga mereka gugur pada massa perjuangan kemerdekaan dulu.

"Kami merasa terpanggil untuk menyelamatkan Indonesia. Keluarga kami gugur untuk Republik. Paman kami gugur dibunuh dalam suatu pertempuran.  Mereka gugur bukan untuk jabatan, tapi untuk satu untuk cita cita Indonesia," cetusnya.

"Prabowo dituding ngotot, haus kekuasaan, haus jabatan, itu persepsi ya. Kalau haus jabatan, Prabowo sudah di pemerintahan sejak 14 tahun lalu, kalau haus jabatan sudah di pemerintahan sejak 9 tahun lalu. Kalau haus jabatan sudah masuk pemerintahan Jokowi. Kalau haus Jabatan sudah mau jadi calon wakil presiden Jokowi," kata Hashim.

Hashim kemudian mengungkap keresahannya. Dalam dua tahun belakangan  kubu Prabowo sering dianggap sebagai anti Pancasila, dan akan mendirikan negara dengan bentuk khilafah. Menurut Hashim tudingan tersebut tidak berdasar dan fitnah. "Kami tidak ingin membuat Khilafah,  ini tudingan, konyol, dangkal, itu hoaks. Selama dua tahun kami jadi korban haoks soal khilafah," kata Hashim.

Baca: Ahmad Dhani Melawan: Sebut Penetapan Tersangka Upaya Kriminalisasi

Bagaimana mungkin pihaknya mau membentuk Khilafah. Menurut Hashim tim pemenangan Prabowo Sandi terdiri dari berbagai latar belakang, termasuk dalam keyakinan agama.

"Kami sejak satu tahun, dua tahun ini sering dianggap anti Pancasila, mau bentuk khilafah. Saya terbuka saja, saya Kristen Protestan saya sering ke gereja. Pak Budi (wakil direktur BPN) katolik, dan ada yang Hindu," katanya.

Hashim menduga tudingan anti-Pacasila dan khilafah, dilontarkan dari kubu lawan di Pemilu Presiden 2019. Selain itu menurutnya pihak lawan menggunakan isu tersebut sebagai 'peluru' serangan karena menganggap Pancasila itu hanya sila pertama saja. Menurutnya mereka lupa bahwa ada lima butir dalam pancasila.

Hashim mengatakan mereka yang jauh dari pancasila adalah mereka yang tidak menerapkan 5 butir dalam pancasila tersebut. Salah satunya yakni butir ke lima yang berbunyi 'Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia'.

"Menurut kami menurut saya. Yang sering terlupakan sila ke lima. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Keadilan sosial, itu karena kita tidak merasa adil situasinya. Kalau kita bicara sila ke lima orang bengong. Menurut Prabowo, kalau  sila kelima tidak ditegakkan, sila ketiga terancam," pungkasnya. (tribun network/fik/zal)

Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved