Begini Ramalan Prabowo Menurut Hashim Djojohadikusumo

Direktur Media dan Komunikasi Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Hashim Djojohadikusumo menjelaskan Prabowo

Begini Ramalan Prabowo Menurut Hashim Djojohadikusumo
TRIBUNNEWS/HERUDIN
Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Hashim Djojohadikusumo memberikan keterangan pers di Jakarta Pusat, Senin (15/9/2014). Hashim memberikan keterangan pers terkait pengunduran diri Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau yang akrab disapa Ahok dari Partai Gerindra karena tak sependapat soal RUU Pilkada. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Direktur Media dan Komunikasi Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Hashim Djojohadikusumo menjelaskan Prabowo tidak mengatakan Indonesia "bakal" bubar 2030 mendatang, tetapi "bisa" bubar.

"Mohon maaf, tapi pihak lawan kemudian pelintir soal omongan itu," jelasnya saat mengunjungi Kantor Tribun di Jakarta, Kamis (18/10).

Hashim menjelaskan, Prabowo sempat meramalkan hal itu ketika berada di Timor Leste pada 1990. Pada saat masih menjadi perwira menengah berpangkat Letnan Kolonel Angkatan Darat tahun 1989, Prabowo pernah menuliskan catatan singkat (memo) kepada atasannya mengenai Timor-Timur yang kini bernama Timor Leste yang tengah dalam kondisi gawat.

Menurut Prabowo, bila masalah tersebut tidak diselesaikan, maka bendera Merah Putih bisa diturunkan. "Ternyata 9 tahun kemudian apa yang diramalkan Prabowo terjadi. Ini sejarah yang sangat penting. Oleh karena itu harus ada perbaikan kondisi di Indonesia," ujarnya.

Baca: 2 Menteri Kabinet Jokowi Dilaporkan Tim Prabowo-Sandiaga ke Bawaslu Lantaran Acungkan 1 jari

Alasannya jelas, lanjut Hashim, apabila disparitas atau kesenjangan sosial semakin tinggi maka persatuan dan kesatuan bisa pudar.

Oleh karenanya, Prabowo sempat menyinggung Indonesia bisa bubar pada 2030. "Prabowo mengatakan bila kondisi-kondisi tertentu tidak diperbaiki maka Indonesia bisa bubar seperti Soviet dan lainnya," kata Hashim.

Prabowo merujuk pada studi kasus negara Uni Soviet dan Yugoslavia, karena Soviet dianggap sebagai negara yang memiliki 300 juta penduduk serta kekuatan militer yang mumpuni bisa pecah menjadi 15 negara.

Sedangkan Yugoslavia bisa pecah menjadi 7 negara. Tidak lain, penyebabnya karena masalah ekonomi dan kebudayaan kedua negara. "Kedua negara tersebut pecah karena masalah ekonomi dan kebudayaan," katanya.

Prabowo Subianto, capres nomor urut 2
Prabowo Subianto, capres nomor urut 2 (Grafis Tribunwow/Kurnia Aji Setyawan)

Terlebih, Prabow yang juga Ketua Umum Gerindra itu memberi perhatian khusus pada masalah keadilan sosial di Indonesia. Prabowo berpandangan, bila masalah keadilan sosial tidak teratasi, maka akan mengancam persatuan dan kesatuan Indonesia.

Calon Presiden nomor urut 02, lanjut Hashim, juga berpendapat sila ketiga Pancasila, 'Persatuan Indonesia' akan terancam, kalau sila Kelima, 'keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia' tidak ditegakkan.

Halaman
12
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved