Cerita Relawan Kota Kotamobagu di Palu, Febbry Teteskan Air Mata saat Bertemu dengan Pengungsi

Sangat sedih saat melihat kondisi lokasi yang diguncang dan diterjang bencana gempa dan tsunami di Kota Palu Sulawesi Tengah dan sekitarnya.

Cerita Relawan Kota Kotamobagu di Palu, Febbry Teteskan Air Mata saat Bertemu dengan Pengungsi
Ist

TRIBUNMANADO.CO.ID, PALU - Sangat sedih saat melihat kondisi lokasi yang diguncang dan diterjang bencana gempa dan tsunami di Kota Palu Sulawesi Tengah dan sekitarnya.

Febbry Supryadi Papene anggota Bikers Subuhan Kotamobagu yang menjadi relawan untuk membantu korban bencana di Sulteng mengaku sampai meneteskan air mata saat melihat langsung kondisinya.

"Perasaan saya sangat sedih, sampai meneteskan air mata melihat keadaan disana," ujar Ebink sapaannya kepada Tribunmanado.co, Senin (15/10/2018) pagi.

Sangat memprihatinkan kata Ebink karena sebagian pengungsi disana kehilangan tempat tinggal.

"Saya rasanya ingin menangis setiap bertemu dengan pengungsi disana. Hal yang paling berkesan adalah ketika kita bisa menyalurkan langsung bantuan kepada para korban disana," ujar pria 30 tahun ini.

Menjadi relawan kata Ebink mengajarkan dia dan relawan lainnya untuk saling tolong menolong tanpa memandang ras, suku maupun agama.

"Selain ucapan terima kasih karena sudah membantu, para korban juga mengharapkan agar kita selalu mendoakan dan memberikan suport untuk mereka. Pesan terakhir mereka "Kami masih butuh kalian, jangan tinggalkan kami,". Itu yang mereka sampaikan kepada kami," ujar Ebink.

Saat menjadi relawan, Ebink juga banyak belajar.

"Yang pertama intinya kekompakan dalam tim diutamakan, yang kedua kita harus patuh kepada arahan dari pimpinan rombongan dan yang harus kita renungi adalah segala sesuatu didunia ini hanyalah titipan dari Allah Subhanahu Wa Ta' Ala dan ketika bencana melanda, harta dan tahta tidak akan bisa menolong kita," ujar Ebink.

Ebink bersama tim kembali tiba di Kota Kotamobagu pada hari ini.
Selama lima hari Ebink meluangkan waktunya. Baik dua hari dalam perjalanan pergi juga kembali dan tiga hari menjadi relawan di Palu dan sekitarnya.

"Kami mendatangi Palu Barat Kelurahan Balaroa, Palu Selatan Kelurahan Petobo, Kamp pengungsi Kabupaten Sigi Desa Jono Oge, Kamp pengungsi Mamboro, kamp pengungsi Denpal, dan Kamp pengungsi Jalan Mangga," ujar Ebink. (dik)

Penulis: Handhika Dawangi
Editor: Indry Panigoro
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved