Proyeksi IHSG Terkoreksi Lagi
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Kamis (11/10) kembali memerah. IHSG ditutup turun 2,02% ke 5.702,82. Investor asing
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Kamis (11/10) kembali memerah. IHSG ditutup turun 2,02% ke 5.702,82. Investor asing mencatat penjualan bersih (net sell) sebesar Rp 1,19 triliun.
Senior Analyst Anugerah Sekuritas Indonesia Bertoni Rio mengatakan, IHSG tertekan aksi profit taking. Sejak awal pekan hingga kemarin asing terus menjual saham.
Pelaku pasar global berspekulasi mencari return tinggi dan mengalihkan portofolio ke instrumen utang seperti US Treasury, yang memberi return tinggi dan aman.
Menurut Bertoni, peralihan dana ini membuat rupiah melemah ke Rp 15.290 per dollar AS.
Aditya Perdana Putra, analis Semesta Indovest Sekuritas, mengatakan, IHSG juga tertekan kekhawatiran kenaikan suku bunga.
"Penurunan IHSG hari ini lebih kecil dari bursa saham regional dan AS," kata dia. Aditya memprediksi hari ini IHSG kembali melemah di kisaran 5.620-5.740.
Sementara Bertoni menghitung IHSG akan terkoreksi dan bergerak antara 5.600-5.740. Peralihan portofolio dari saham ke surat utang masih mempengaruhi IHSG.
Prediksi Rupiah
Disetir Data Inflasi AS
Koreksi pasar saham Amerika Serikat (AS) yang merembet ke pasar saham emerging market membuat rupiah semakin loyo. Kamis (11/10), di pasar spot, nilai tukar rupiah melemah 0,23% menjadi Rp 15.235 per dollar AS.
Kurs tengah rupiah Bank Indonesia juga tercatat turun 0,25% ke Rp 15.253 per dollar AS. Ekonom Samuel Sekuritas Ahmad Mikail menyebut, terjadi capital outflow di pasar saham, sehingga menekan rupiah.
Menurut Andri Hardianto, analis Asia Tradepoint Futures, rupiah melanjutkan pelemahan sejak awal pekan, lantaran kepercayaan pelaku pasar terhadap emerging market belum pulih. Tapi, menurut dia, depresiasi rupiah tidak setajam sebelumnya. "BI terus intervensi. Aturan baru mengenai transaksi pasar non-deliverable forward di dalam negeri meredam pelemahan rupiah," kata dia, Kamis (11/10).
Andri melihat, pergerakan rupiah pada hari ini akan dipengaruhi perkembangan rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). "Kenaikan harga BBM bisa memperkecil defisit transaksi berjalan, sehingga positif bagi rupiah," kata Andri.
Namun, prediksi dia, rupiah masih diselimuti sentimen negatif selama kepercayaan investor pada pasar keuangan negara berkembang masih belum pulih. Mata uang Garuda diramal bergerak di rentang Rp 14.170-Rp 14.250 per dollar AS.
Ahmad melihat potensi penguatan rupiah di kisaran Rp 15.250-Rp 15.300 per dollar AS. Sebab, dollar rawan terkoreksi di tengah rilis data ekonomi AS yang kurang solid.
Indeks harga jual di tingkat produsen atau producer price index (PPI) per September turun menjadi 2,6% dari sebelumnya mencapai 2,8%. Kemungkinan ini akan diikuti hasil serupa pada consumer price index (CPI).
INDEKS SAHAM
Nama Indeks %
KOMPAS100 1,147.72 -2.36
IHSG 5,702.82 -2.02
DOW JONES* 25,598.74 -3.15
SSEC (Shanghai) 2,583.46 -5.22
NIKKEI 225 22,590.86 -3.89
FTSE STRAITS TIMES 3,047.39 -2.69
HANG SENG 25,266.37 -3.54
KOSPI 2,129.67 -4.44
Sumber: Bloomberg, BEI per 11/10/2018
Catatan: * per 10/10/2018
KURS RUPIAH
Mata Uang Kurs ^% Kemarin Jual Beli
USD 15,253.00 -0.25 15,215.00 12274 105.01 12841.39 15,329.00 15,177.00
SGD 11,037.31 -0.13 11,023.37 119.81 11,093.50 10,981.12
JPY 135.94 -0.97 134.63 107.3884 136.63 135.24
EUR 17,633.96 -0.70 17,511.71 14638 17,724.92 17,543.00
GBP 20,180.51 -0.81 20,018.39 2837.13 20,284.87 20,076.14
MYR 3,668.36 -0.14 3,663.18 3,688.40 3,648.32
Sumber: Kurs Tengah BI (11/10/2018)
Rasio Kredit Bermasalah Bank Taipan Naik
Sejumlah bank milik taipan mencatatkan kinerja positif pada sisa tahun ini. Kondisi ini sejalan dengan pesatnya permintaan kredit menjelang akhir tahun terutama di kuartal-III dan kuartal-IV. Bank milik taipan masih menyasar sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) untuk menjadi penopang kredit.
Bank Mayora misalnya, pada kuartal III-2018 mencatatkan realisasi kredit sebesar Rp 3,76 triliun. Kendati masih terbilang tipis, posisi kredit tersebut meningkat sebesar 6,26% secara year on year (yoy).
Sementara itu dari sisi dana pihak ketiga (DPK), bank milik bos Mayora Group ini mencatatkan realisasi mencapai Rp 4,65 triliun. Total penghimpunan dana masyarakat tersebut naik 9% dari sebelumnya Rp 4,23 triliun.
Kendati demikian, Direktur Utama Bank Mayora Irfanto Oeij mencatatkan, rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) nett Bank Mayora di kuartal III 2018 naik ke level 2,72% dari 1,74% di kuartal III-2017.
Dalam penyaluran kredit, Bank Mayora tetap fokus ke seluruh segmen yang memiliki potensi antara lain komersial, konsumer maupun ritel dan mikro.
Sebelumnya, Irfanto mengatakan, tahun ini pihaknya hanya mematok pertumbuhan kredit sebesar 8% hingga 9%. Posisi ini menurun dibandingkan target yang dipasang pada awal tahun sebesar 13%-14%.
Alasannya, kondisi tahun 2018 masih belum kondusif. Beberapa penghambat antara lain perang bunga antara bank kecil dan bank besar yang kian sengit.
Adapun Bank Sahabat Sampoerna, milik Grup Sampoerna kinerja pada kuartal III 2018 secara umum masih sesuai dengan rencana bank.
Sayangnya, Direktur Keuangan Bank Sahabat Sampoerna Henky Suryaputra belum dapat merinci realisasi kinerja perusahaannya lantaran hasil akhir masih dalam tahap audit. Namun, Henky memastikan rata-rata kinerja di kuartal III 2018 lalu mencatatkan peningkatan sebesar dua digit.
Henky tak menampik dalam kondisi makro ekonomi seperti saat ini, NPL ikut mengalami peningkatan. Menurutnya, pada kuartal III 2018 lalu, Bank Sampoerna mencatatkan NPL di kisaran 4%.
Posisi ini meningkat dibandingkan periode kuartal III 2017 yaitu sebesar 3,75%. "Kenaikan NPL masih dalam batas yang sangat terkendali. Kenaikan NPL masih di kisaran belasan basis poin," tutur Henky.
Dalam penyaluran kredit, Bank Sampoerna masih tetap fokus di sektor UMKM. Pada laporan keuangan Agustus 2018 lalu Bank Sampoerna membukukan kredit sebesar Rp 6,8 triliun, tumbuh 11% dibandingkan periode tahun sebelumnya. Tahun ini, target pencapaian kredit Bank Sampoerna antara 12%-15%.
Direktur Utama Bank Nobu, Suhaimin Djohan menilai, pencapaian kinerja di kuartal III-2018 masih sejalan dengan target bisnis 2018. Fokus bank milik Lippo Grup ini di sektor perdagangan, pengolahan, manufaktur, jasa, properti dan segmen konsumer.
(Marshall Sautlan/Danielisa Putriadita/Anna Maria Anggita Risang)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/rupiah_20181010_010257.jpg)