Pendanaan via Pasar Modal Sedang Sepi

Kondisi pasar modal yang fluktuatif menyebabkan pencarian dana tahun ini relatif sepi. Karena itu, sangat mungkin nilai emisi

Pendanaan via Pasar Modal Sedang Sepi
kompas.com
Wall Street, pasar modal AS 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Kondisi pasar modal yang fluktuatif menyebabkan pencarian dana tahun ini relatif sepi. Karena itu, sangat mungkin nilai emisi tahun ini akan meleset dari target.

Menurut Deputi Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hoesen, pencarian dana di pasar modal hingga akhir tahun ini kemungkinan di bawah Rp 200 triliun.

Padahal, OJK menargetkan pencarian dana bisa mencapai Rp 250 triliun. Sebagai perbandingan, total emisi tahun lalu sebesar Rp 254,51 triliun. "Sejauh ini yang sudah masuk, tak akan sebanyak tahun lalu," kata dia, Senin (8/10).

Menurut data OJK, hingga akhir September 2018, total pencarian dana sekitar
Rp 137,8 triliun. Jumlah itu turun 24% year on year (yoy). Dana itu dari hasil penawaran saham perdana (IPO), penerbitan saham baru (rights issue dan private placement) hingga surat utang.

Per September, tercatat 36 emisi IPO dengan perolehan dana Rp 12,93 miliar. Emisi ini belum termasuk tiga emiten baru, yaitu SURE, KPAS, dan SAPX yang baru saja IPO.

Realisasi IPO tahun ini masih lebih besar dibanding tahun lalu, yaitu Rp 9,60 triliun dari 38 emiten anyar. Namun, pencarian dana melalui rights issue dan private placement turun tajam dibanding 2017.

IPO lebih banyak

Begitu pula dengan penerbitan surat utang. Per September 2018, baru 59 emisi surat utang dengan nilai total
Rp 90,37 triliun. Perolehan dana ini masih jauh ketimbang tahun lalu, yaitu 88 emisi dengan nilai Rp 156,71 triliun.

Dalam pipeline BEI masih ada sekitar 16 rencana IPO dan tujuh emisi obligasi. Diperkirakan akan ada penghimpunan dana minimal Rp 10,6 triliun di sisa tahun ini dari sejumlah aksi korporasi.

Kiswoyo Adi Joe, Kepala Riset Narada Kapital Indonesia bilang, pencarian dana yang bersifat ekuitas, seperti rights issue, akan menurun selama IHSG terkoreksi. "Pendanaan akan kembali ramai jika IHSG berada di atas 6.000" kata dia, Senin (8/10).
Pencarian dana lewat ekuitas diperkirakan kembali ramai setelah pemilihan presiden 2019.

Emiten menghindari ketidakpastian. Lanjut Kiswoyo, emiten juga mengerem pencarian dana di luar ekuitas, seperti surat utang. Sebab, saat ini ruang gerak untuk ekspansi sudah terbatas. "Perusahaan biasanya akan menunda ekspansi dalam kondisi saat ini," imbuh dia.

William Hartanto, analis Panin Sekuritas menilai, tak hanya emiten, investor juga menghindari pasar modal karena tingkat risiko masih tinggi. Dengan kenaikan suku bunga, sejatinya yield obligasi korporasi naik, sehingga menarik minat pelaku pasar.

"Tapi opsi ini tertekan oleh nilai tukar rupiah. Secara teori yield obligasi semakin tinggi berarti risiko juga lebih tinggi, maka pelaku pasar main aman" kata William.

Meski begitu, dia melihat pencarian dana lewat ekuitas tahun ini lebih bagus, terutama IPO. Sebab, lebih menarik bagi investor dari sisi kenaikan harga saham IPO yang cepat dan signifikan.

Rights Issue, IBFN Kembali Salurkan Kredit

PT Intan Baruprana Finance Tbk (IBFN) akan memulai penawaran umum terbatas melalui skema hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) alias rights issue. Pemegang saham yang tercatat sejak cum right HMETD di pasar reguler dan negosiasi pada 5 Oktober berhak mengikuti aksi ini. Sementara, distribusi HMETD akan dilakukan 11 Oktober 2018.

Aksi korporasi IBFN ini dilakukan untuk suntikan modal baru dan restrukturisasi utang. Usai rights issue, emiten ini berharap kembali menyalurkan pembiayaan. Maklum, sejak akhir 2017, IBFN berhenti menyalurkan kredit dan fokus pada proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU). Perusahaan ini mempunyai tagihan
Rp 1,73 triliun dari kreditur separatis dan konkuren.

Direktur IBFN Alexander Reyza, mengatakan, ke depan akan fokus pada pembiayaan alat berat. "Kami berharap kondisi keuangan akan membaik," harap dia. Dari aksi ini, IBFN akan mengeluarkan saham baru 264,58 juta saham setara 16,67%. IBFN berharap bisa meraih dana segar Rp 105,83 miliar. IBFN telah memiliki pembeli siaga, yaitu PT Northcliff Indonesia.

Indra Prasetiya, Head of Dealing PT Narada Kapital mengatakan, fokus multifinance ke segmen alat berat sejatinya akan sulit. Pasalnya, banyak produk impor memberatkan kondisi bisnis. Karena alasan itu, Indra menyarankan, untuk wait and see pada saham IBFN. Senin (8/10), harga saham IBFN menguat 0,45% di
Rp 446 per saham.

Rupiah Ambruk, Asing Angkat Kaki

Pelemahan nilai tukar rupiah membuat kepercayaan investor asing pada instrumen surat utang domestik memudar. Merujuk data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, sepanjang September 2018 kepemilikan asing di Surat Berharga Negara (SBN) keluar sebesar Rp 5 triliun menjadi Rp 850,85 triliun di akhir September lalu.

Tekanan pada pasar obligasi sempat mereda di awal Oktober ini. Buktinya, pada 2 Oktober, kepemilikan asing mencapai Rp 856,30 triliun. Namun, pelemahan rupiah yang akhirnya tembus ke level terburuknya sejak 1998 membuat asing angkat kaki.

Tercatat, hingga 5 Oktober, kepemilikan asing tinggal Rp 849,79 triliun. Analis Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA) Roby Rushandie menyebut, depresiasi rupiah memang menjadi faktor utama yang menekan pasar obligasi domestik. Tak hanya dari nilai, porsi asing di SBN juga tergerus.

Per 5 Oktober ada di posisi 36,98%, padahal di akhir 2017 lalu masih 39,82%.
I Made Adi Saputra, analis Fixed Income MNC Sekuritas menambahkan, pelemahan rupiah juga mendorong kenaikan yield.

Sepanjang September, kurs rupiah turun sekitar 1,16% dan mendorong yield obligasi acuan 10 tahun melesat 30 basis poin (bps). "Asing keluar, tentu diikuti koreksi pasar sekunder dan mendorong kenaikan yield obligasi," kata dia, Senin (8/10).

Tekanan yield AS

Selain dari dalam negeri, tekanan bagi pasar obligasi juga datang dari sentimen eksternal, terutama dari AS. "Terbaru adalah meningkatnya ekspektasi inflasi AS yang kemudian mendorong kenaikan yield US Treasury," kata Roby.

Dengan tren kenaikan yield US Treasury, investor asing semakin yakin untuk keluar dari aset emerging market, termasuk Indonesia, dan kembali menaruh investasi di pasar Negeri Paman Sam.

Dari dalam negeri pun, belum ada data positif yang dapat menopang pasar obligasi. Malah terbaru adalah data cadangan devisa yang kembali tergerus. Bank Indonesia merilis, cadangan devisa bulan September 2018 turun 3,1 miliar menjadi US$ 114,8 miliar.

Jika pelemahan rupiah terus terjadi, dipastikan investor asing tidak akan seagresif sebelumnya untuk masuk ke SBN. "Pertimbangan asing tetap masuk ke pasar SBN adalah selisih yield US Treasury dengan SUN kian mengecil. Padahal di satu sisi, risiko investasi di Indonesia juga sedang meningkat," kata Made.

Selain menstabilkan rupiah, pemerintah dinilai perlu memangkas defisit transaksi berjalan yang selama ini selalu jadi biang keladi pelemahan rupiah. "Jika kebijakan pemerintah mengenai impor efektif dan membuat defisit transaksi berjalan mengecil, rupiah akan lebih stabil dan asing dapat percaya diri masuk ke pasar SBN," pungkas Made.  (Danielisa Putriadita/Yoliawan Hariana/Elisabet Lisa Listiani)

Kepemilikan Asing dalam SBN

Tanggal
Kepemilikan
Porsi

5 Okt 2018
Rp 849,79 triliun
36,98%

28 Sept 2018
Rp 850,85 triliun
36,89%

31 Agt 2018
Rp 855,79 triliun
37,64%

31 Juli 2018
Rp 839,26 triliun
37,70%

29 Juni 2018
Rp 830,17 triliun
37,79%

31 Mei 2018
Rp 833,81 triliun
38,15%

30 Apr 2018
Rp 845,34 triliun
38,44%

29 Mar 2018
Rp 858,79 triliun
39,31%

28 Feb 2018
Rp 848,22 triliun
39,83%

31 Jan 2018
Rp 869,77 triliun
41,29%

29 Des 2017
Rp 836,15 triliun
39,82%

Sumber: DJPPR Kementerian Keuangan

Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved