Pendanaan via Pasar Modal Sedang Sepi

Kondisi pasar modal yang fluktuatif menyebabkan pencarian dana tahun ini relatif sepi. Karena itu, sangat mungkin nilai emisi

Pendanaan via Pasar Modal Sedang Sepi
kompas.com
Wall Street, pasar modal AS 

Emiten menghindari ketidakpastian. Lanjut Kiswoyo, emiten juga mengerem pencarian dana di luar ekuitas, seperti surat utang. Sebab, saat ini ruang gerak untuk ekspansi sudah terbatas. "Perusahaan biasanya akan menunda ekspansi dalam kondisi saat ini," imbuh dia.

William Hartanto, analis Panin Sekuritas menilai, tak hanya emiten, investor juga menghindari pasar modal karena tingkat risiko masih tinggi. Dengan kenaikan suku bunga, sejatinya yield obligasi korporasi naik, sehingga menarik minat pelaku pasar.

"Tapi opsi ini tertekan oleh nilai tukar rupiah. Secara teori yield obligasi semakin tinggi berarti risiko juga lebih tinggi, maka pelaku pasar main aman" kata William.

Meski begitu, dia melihat pencarian dana lewat ekuitas tahun ini lebih bagus, terutama IPO. Sebab, lebih menarik bagi investor dari sisi kenaikan harga saham IPO yang cepat dan signifikan.

Rights Issue, IBFN Kembali Salurkan Kredit

PT Intan Baruprana Finance Tbk (IBFN) akan memulai penawaran umum terbatas melalui skema hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) alias rights issue. Pemegang saham yang tercatat sejak cum right HMETD di pasar reguler dan negosiasi pada 5 Oktober berhak mengikuti aksi ini. Sementara, distribusi HMETD akan dilakukan 11 Oktober 2018.

Aksi korporasi IBFN ini dilakukan untuk suntikan modal baru dan restrukturisasi utang. Usai rights issue, emiten ini berharap kembali menyalurkan pembiayaan. Maklum, sejak akhir 2017, IBFN berhenti menyalurkan kredit dan fokus pada proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU). Perusahaan ini mempunyai tagihan
Rp 1,73 triliun dari kreditur separatis dan konkuren.

Direktur IBFN Alexander Reyza, mengatakan, ke depan akan fokus pada pembiayaan alat berat. "Kami berharap kondisi keuangan akan membaik," harap dia. Dari aksi ini, IBFN akan mengeluarkan saham baru 264,58 juta saham setara 16,67%. IBFN berharap bisa meraih dana segar Rp 105,83 miliar. IBFN telah memiliki pembeli siaga, yaitu PT Northcliff Indonesia.

Indra Prasetiya, Head of Dealing PT Narada Kapital mengatakan, fokus multifinance ke segmen alat berat sejatinya akan sulit. Pasalnya, banyak produk impor memberatkan kondisi bisnis. Karena alasan itu, Indra menyarankan, untuk wait and see pada saham IBFN. Senin (8/10), harga saham IBFN menguat 0,45% di
Rp 446 per saham.

Rupiah Ambruk, Asing Angkat Kaki

Halaman
1234
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved