Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Korban Gempa Sigi Tempati Rumah Miring

Selasa (9/10) sore, puluhan rumah di Desa Sibulaya Selatan, Tanambulava, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, tampak hancur

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
Twitter @Sutopo_PN
Lumpur muncul dan membuat rumah serta pepohonan seakan berjalan di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah pascagempa di Kota Palu dan Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, Jumat (28/9/2018). 

TRIBUNMANADO.CO.ID, SIGI - Selasa (9/10) sore, puluhan rumah di Desa Sibulaya Selatan, Tanambulava, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, tampak hancur berantakan.

Seperti halnya di Perumahan Petobo dan Perumahan Balaroa, bergesernya tanah juga dapat terlihat di desa yang memiliki 86 kepala keluarga itu. Samar-samar masih terdengar suara tawa dan obrolan dari salah satu rumah yang ada di wilayah itu.

Masih dalam lingkungan yang sama, satu keluarga tampak bersenda gurau di dalam rumah berwarna kuning. Padahal, posisi rumah tersebut sudah tidak tegak alias telah miring. Para penghuni rumah itu memperkenalkan diri sebagai keluarga Lapondeng dengan enam anggota keluarga.

Tidak banyak aktivitas atau gerakan yang bisa dilakukan keluarga Lapondeng di dalam rumah miring tersebut. Sebab, satu gerakan frontal dari tubuh mereka bisa berpotensi fatal terhadap fisik rumah.

Denzipur 4/YKN terus melaksanakan tugas kemanusiaan di Sulawesi Tengah, membantu korban bencana di Kota Palu, Kabupaten Sigi, dan Kabupaten Donggala.
Denzipur 4/YKN terus melaksanakan tugas kemanusiaan di Sulawesi Tengah, membantu korban bencana di Kota Palu, Kabupaten Sigi, dan Kabupaten Donggala. (ist)

Kemiringan rumah keluarga Lapondeng juga dikarenakan terkena dampak fenomena likuifaksi bersamaan gempa berkekuatan 7,4 Skala Richter dan tsunami yang berpusat di Donggala, Sulteng pada Jumat, 28 September lalu. "Ini rumah sudah diujung. Tidak perlu banyak gerak," ucap Nuria Lapondeng diikuti tawanya.

Nenek berusia 84 tahun itu mengatakan dia sudah meninggali rumah yang berbahan kayu itu sejak dirinya lahir. Tidak ada alasan baginya untuk meninggalkan rumah, meski sudah hampir ambruk.

"Iya masih tinggal di sini. Ini sama anak, sama menantu saya. Sudah tidak ada apa-apa lagi. Tapi, ya daripada di posko pengungsian, saya mending di sini saja," kata dia.

Saat kejadian gempa pada Jumat hari itu, rumah rumah Nuria sedang penuh oleh para tetangga usai menggelar pengajian Jumat. "Setelah pengajian di sini. Tidak lama, gempa. Ibu-ibu bilang, eh kok rumah bajoget seperti ini? Eh tidak lama gempa besar terjadi," kenangnya.

Selama ini, dia hanya berharap belas kasih dari tetangganya yang tidak terdampak pergeseran tanah dikediamannya. Makanan biasanya dikirim langsung atau diambilkan oleh salah satu anggota keluarga kepadanya.

Hanya untuk tidur di malam hari, Nuria diantar menuju posko yang jaraknya 500 meter dari lokasi likuifaksi. Setelah itu, dia bersama lima anggota keluarganya kembali lagi ke rumah, meski tidak melakukan apa-apa. "Ya memang begini-begini saja. Ngobrol saja sudah," ucapnya.

Dia mengaku baru mendapatkan bantuan dari relawan dan pemerintah seminggu setelah bencana terjadi. Namun, dia maklum karena akses jalan menuju tempat tinggalnya terputus dan sulit ditembus. Saat ini, dia bersyukur sudah mendapatkan bantuan meski tidak banyak.

"Ya sekarang sudah ada bantuan, obat sama beras, sama beberapa makanan lain. Alhamdulillah," katanya. (tribun network/ryo/coz)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved