Kepala DP3A Sulut Harapkan Hukum Maksimal Pelaku Kekerasan Seksual Anak

Kasus kekerasan seksual terhadap anak harus ditangani dari hulu hingga ke hilir.

Kepala DP3A Sulut Harapkan Hukum Maksimal Pelaku Kekerasan Seksual Anak
TRIBUNMANADO/RYO NOOR
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Sulut, Mieke Pangkong 

Laporan Wartawan Tribun Manado, Ryo Noor

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Kasus kekerasan seksual terhadap anak harus ditangani dari hulu hingga ke hilir.

Mieke Pangkong, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Sulut, mengatakan penanganan bersama ini harus melibatkan keluarga, masyarakat, pemerintah dan aparat hukum.

Aspek yang harus diperhatikan yakni terkait pencegahan, penanganan kasus dan paling penting juga hukuman maksimal bagi pelaku kekerasan seksual anak.

"Dalam UU perlindungan anak pelaku kekerasan seksual jika dilakukan orang dekat misalnya orangtua atau guru maka kalau terbukti hukumannya ditambah sepertiga dari putusan," ujar dia kepada Tribunmanado.co.id, Jumat (5/10/2018).

Mieke menilai harus ada kesadaran terhadap pentingnya hukuman maksimal untuk memberi efek jerah.

Contoh kasus seperti di Bolmong ada kekerasan seksual guru terhadap murid, baru diputuskan "hukumannya 5 tahun," kata Mieke.

Menurut Mieke hukuman 5 tahun terhadap pelaku kekerasan seksual anak sangat minim tidak memberi kesempatan efek jerah.

Ia mengatakan, di Sulut DP3A melakukan pendampingan terhadap korban yang melapor.

Tahun 2017 ada 7 kasus kekerasan seksual dalam lingkup keluarga, kemudian 2018 sampai saat ini ada 9 kasus yang didampingi oleh DP3A.

Kemudian kekerasan seksual di luar lingkup keluarga tahun 2017 sebanyak 17 kasus, untuk tahun 2018 sudah ada 19 kasus.

Penulis: Ryo_Noor
Editor: Siti Nurjanah
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved